Beranda blog Halaman 8

Kehadiran ORARI di Ambon Dukung Pembangunan dan Sinergitas antara Pemerintah dan Masyarakat

0

AMBON, Maluku.news – Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) di Ambon memberikan kontribusi besar terhadap pembangunan daerah dan peran serta masyarakat dalam memperkuat komunikasi. Wali Kota Ambon melalui Kepala Dinas Kominfo Kota Ambon, Ronald Lekransy, menegaskan pentingnya ORARI dalam mendukung perencanaan pembangunan serta mempererat persatuan bangsa.

“Informasi yang dihasilkan oleh ORARI sangat berguna dalam membantu pemerintah dan masyarakat merumuskan strategi yang lebih baik untuk pembangunan,” kata Ronald Lekransy dalam acara Musyawarah ORARI Lokal Kota Ambon ke XI yang digelar di aula Diskominfo Provinsi Maluku, Sabtu (22/11/2025).

Menurutnya, ORARI harus terus beradaptasi dengan kemajuan teknologi agar tetap relevan dalam memberikan kontribusi. “Penting bagi ORARI untuk mengikuti perkembangan zaman agar lebih efektif dalam peranannya sebagai mitra strategis pemerintah,” sambung Lekransy.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Maluku, Josep Anakota, yang hadir mewakili Ketua ORARI Provinsi Maluku, mengungkapkan apresiasi atas terselenggaranya acara ini dan berharap hasil dari musyawarah ini dapat memperkuat organisasi serta memperpanjang keberlanjutan ORARI di wilayah Maluku.

AMI Awards 2025: Siprianus Tabola-Bale dan Prince Poetiray Borong Tiga Gelar

0

Ambon, Maluku.News – Anugerah Musik Indonesia (AMI) Award 2025 sudah diumumkan di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Rabu (19/11/2025).  Banyak kejutan bagi insan musik di tanah air untuk 18 bidang yang terbagi menjadi 64 kategori.

Ada dua artis dengan entitas Indonesia Timur yang mencatat kemenangan besar. Dua artis itu masing-masing Siprianus Bhuka alias Silet Open Up dan artis cilik Prince Poetiray.

Siprianus Bhuka menyabet tiga gelar AMI Awards 2025. Pertama, Pencipta Lagu Pop Terbaik untuk lagu “Tabola-Bale”. Kedua, menyabet penghargaan untuk Karya Produksi Kolaborasi Terbaik. Di sini, Siprianus menang bersama Jacson Seran, Juan Reza, Diva Aurel untuk lagu “Tabola Bale”. Penghargaan ketiga, juga untuk lagu “Tabola-Bale”. Siprianus dkk menyabet penghargaan Karya Produksi Lagu Berbahasa Daerah Terbaik.

Prince Poetiray tidak kalah menyala. Prince meraih AMI Award 2025 sebagai Pendatang Baru Terbaik. Lantas untuk kategori Duo/Grup/Kolaborasi Anak-anak Terbaik, Prince Poetiray kembali menang bersama Quinn Salman untuk lagu “Selalu Ada Di Nadimu”. Masih dengan lagu yang sama, Prince dan Quin Salman menjadi pemenang untuk kategori Karya Produksi Original Soundtrack Terbaik.

Siprianus Bhuka dan Prince Poetiray boleh berbangga sebab mereka bisa naik panggung AMI 2025, bersama pemenang dengan nama besar seperti Indra Lesmana (Artis Jazz Terbaik untuk lagu A Time For Everything), Arya Novanda dan Gugun Blues Shelter (Karya Produksi Blues Terbaik untuk lagu “Soulless Blues”, Yovie Widianto dan Adrian Kitut (Karya Produksi Re-Aransemen Terbaik untuk lagu “Terlalu Cinta”, serta Sujiwo Tejo dkk (Karya Produksi Global Music Terbaik, Ammir Gita & Suku Cahaya Ensemble, Sita Nursanti, Achi Hardjakusumah, Downey Angkiry, Yudhis Mahendra untuk lagu “Semar”)

Berikut ini daftar lengkap pemenang AMI Awards 2025:

1.⁠ ⁠Bidang Umum

a. Karya Produksi Terbaik Terbaik Garam & Madu (Sakit Dadaku) – Tenxi, Jemsii, Naykilla
b. Album Terbaik Terbaik Doves, ’25 on Blank Canvas – Hindia
c. Pendatang Baru Terbaik Terbaik Prince Poetiray
d. Video Musik Terbaik everything u are (Hindia) – Yogi Kusuma

2.⁠ ⁠Bidang Pop

a. Artis Solo Wanita Pop Terbaik Raisa – Terserah
b. Artis Solo Pria Pop Terbaik Rony Parulian – Pesona Sederhana
c. Duo/Grup Pop Terbaik The Lantis – Bunga Maaf
d. Pencipta Lagu Pop Terbaik Siprianus Bhuka – Tabola Bale
e. Penata Musik Pop Terbaik S/EEK – Berharap Pada Timur
f. Album Pop Terbaik Berharap Pada Timur – Salma Salsabil

3.⁠ ⁠Bidang Rock

a. Artis Solo/Grup/Kolaborasi Rock Terbaik For Revenge – Penyangkalan
b. Album Rock Terbaik Membangun & Menghancurkan – .Feast

4.⁠ ⁠Bidang Jazz

a. Artis Jazz Terbaik Indra Lesmana – A Time For Everything
b. Artis Jazz Alternatif Terrbaik eleventwelfth, Littlefingers – ka/la (Littlefingers vers.)
c. Album Jazz/Jazz Alternatif Terbaik Dengarkanlah Radio – NonaRia

5.⁠ ⁠Bidang Soul/R&B

a. Artis Solo Soul/R&B Terbaik Kaleb J – Di Balik Pertanda
b. Duo/Grup/Kolaborasi Soul/R&B Terbaik Salon RNB, Moneva, RL Klav, Karina Christy, Madukina, Sade Susanto, Noni – Do What We Do
c. Artis Solo Soul/R&B Alternatif Terbaik Assia Keva – Looking For Love In Wrong Places
d. Duo/Grup/Kolaborasi Soul/R&B Alternatif Terbaik Dreane – Keluh

6.⁠ ⁠Bidang Dangdut

a. Artis Solo Wanita Dangdut Terbaik Lesti – Dilema
b. Artis Solo Pria Dangdut Terbaik King Nassar – Samira
c. Artis Solo Dangdut Alternatif Terbaik Gusti Irwan Wibowo – Diculik Cinta
d. Duo/Grup/Kolaborasi Dangdut Terbaik Zainul Basyar, Bulan Madhani – Berlayar Cinta
e. Artis/Solo/Grup/Kolaborasi Dangdut Elektro Terbaik Rombongan Bodonk Koplo, Ncum – Calon Mantu Idaman
f. Pencipta Lagu Dangdut Terbaik Arya Bhima – Menuntun Rindu
g. Penata Musik Dangdut Terbaik Ricky Flo – Menuntun Rindu

7.⁠ ⁠Bidang Anak-anak

a. Artis Solo Anak-anak Terbaik Gempi – Ajaib
b. Duo/Grup/Kolaborasi Anak-anak Terbaik Prince Poetiray, Quinn Salman – Selalu Ada Di Nadimu
c. Pencipta Lagu Anak-anak Terbaik Anindyo Baskoro, Arya Aditya Ramadhya, Ilma Ibrahim Isa – Selalu Ada Di Nadimu
d. Penata Musik Lagu Anak-anak Terbaik Andi Rianto – Terima Kasih Guruku (Guruku Tersayang)

8.⁠ ⁠Bidang Alternatif

a. Artis Solo Alternatif Terbaik Hindia – everything u are
b. Duo/Grup/Kolaborasi Alternatif Terbaik Dipha Barus, Kunto Aji, The Adams-Rima Raga
c. Album Alternatif Terbaik Doves, 25 on Blank Canvas – Hindia

9.⁠ ⁠Bidang Keroncong/Stambul/Langgam

a. Artis Keroncong/Stambul/Langgam/Asli Terbaik Nabila Tribin – Keroncong Rangkaian Mutiara
b. Artis Keroncong/Stambul/Langgam/Ekstra/Alternatif Terbaik Keroncong Tujuh Putri – Romansa

10.⁠ ⁠Bidang Dance dan Elektronika

a. Artis Solo/Grup/Kolaborasi Dance Terbaik Bleu Clair, Jevin Julian – Space & Time
b. Artis Solo/Grup/Kolaborasi Elektronika Terbaik White Chorus, Dzulfahmi – Minggu

11.⁠ ⁠Bidang Metal

a. Artis Solo/Grup/Kolaborasi Metal Terbaik DeadSquad – Perangai Nadir
b. Album Metal Terbaik Kalatidha – Down For Life

12.⁠ ⁠Bidang Rap/Hip-Hop

a. Artis Solo Rap/Hip-Hop Terbaik Ecko Show – FYP Today 2
b. Duo/Grup/Kolaborasi Rap/Hip-Hop Terbaik Tenxi, Jemsil, Naykilla – Garam & Madu (Sakit Dadaku)

13.⁠ ⁠Bidang Koplo

Artis Solo/Grup/Kolaborasi Koplo Terbaik Denny Caknan, Bella Bonita – Sinarengan

14.⁠ ⁠Bidang Orkestra

Karya Orkestra Terbaik Diskoria, Alvin Witarsa – Tanah Airku

15.⁠ ⁠Bidang Musik untuk Media Visual

Album Film Scoring Terbaik Music From The Motion Picture JUMBO – Ofel Obaja

16.⁠ ⁠Bidang Musik untuk Teater Musikal

Album Musikal Terbaik MAR Musikal – Original Cast Drama Musikal MAR

17.⁠ ⁠Bidang Karya Produksi

a. Karya Produksi Progresif Terbaik LOVE IS, Jason Mountario, Sri Hanuraga, Kelvin Andreas, Rainer James – Made to Believe
b. Karya Produksi Reggae/Ska/Rocksteady Terbaik Dellu Uyee, Wizzow, Edgar Tauhid, Ras Muhamad – Santuy
c. Karya Produksi Kolaborasi Terbaik Silet Open Up, Jacson Seran, Juan Reza, Dica Aurel – Tabola Bale
d. Karya Produksi Original Soundtrack Terbaik Prince Poetiray, Quin Salman – Selalu Ada Di Nadimu
e. Karya Produksi Grup Vokal Terbaik GAC (Gamaliel Audrey Cantika) – Higher
f. Karya Produksi Lagu Berbahasa Daerah Terbaik Silet Open Up, Jacson Seran, Juan Reza, Dica Aurel – Tabola Bale
g. Karya Produksi Instrumentalia Terbaik Erwin Gutawa – Swarnadwipa
h. Karya Produksi Global Music Terbaik Ammir Gita & Suku Cahaya Ensemble, Sujiwo Tejo, Sita Nursanti, Achi Hardjakusumah, Downey Angkiry, Yudhis Mahendra – Semar
i. Karya Produksi Re-Aransemen Terbaik Yovie Widianto, Adrian Kitut – Terlalu Cinta
j. Karya Produksi Blues Terbaik Arya Novanda, Gugun Blues Shelter – Soulless Blues
k. Karya Produksi Folk/Country/Balada Terbaik Dere – Biru
l. Karya Produksi Kontemporer Terbaik Kuntari – Anak Kecil
m. Karya Produksi Lagu Berlirik Spiritual Islami Terbaik Yura Yunita – Tanda
n. Karya Produksi Lagu Berlirik Spiritual Nasrani Terbaik LOJ Worship – Sukacita Live

18.⁠ ⁠Bidang Penunjang Produksi

a. Produser Rekaman Terbaik Jemsii – Garam & Madu (Sakit Dadaku)
b. Grafis Desain Album Terbaik Ipeh Nur, Enka Komariah, Aji Styawan – Hujan Orang Mati
c. Tim Produksi Suara Terbaik Jemsii – Garam & Madu (Sakit Dadaku)
d. Aransemen Vokal Terbaik Dian HP, Gabriel Harvianto – MAR Medley Acapella
e. Video Musik Terfavorit Faris Adam – Stecu Stecu (dtc)

Refleksi Hubungan Sesama dan Alam Dalam Tur Entangled Boi Akih

0
boi1
Penampilan duo jazz Boi Akih di Kafe Jogjazz, Gondokusuman, Yogyakarta, yang diselenggarakan oleh Jazz Kotabaru pada Sabtu (11/10/2025). (Sumber: Arsip pribadi Sofia Natalia Zebua)

Di sebuah kafe sederhana, orang-orang berkumpul di bawah cahaya bulan purnama. Denting gitar Niels Brouwer berpadu dengan suara etnik nan dinamis dari Monica Akihary, vokalis berdarah Maluku, mengakhiri pertunjukan bertajuk Moon Jazz tersebut dengan syahdu.

Penampilan tersebut menjadi penutup rangkaian tur duo jazz asal Belanda, Boi Akih, di Indonesia tahun ini. Bersanding dengan pemain piano jazz cilik, Misya Adlina, mereka tampil di Kafe Jogjazz, Gondokusuman, Yogyakarta, yang diselenggarakan oleh Jazz Kotabaru pada Sabtu (11/10/2025).

Monica menjelaskan, tur kali ini menghadirkan repertoar baru bertajuk Entangled yang berarti “terjalin”. Judul itu lahir dari perenungan mereka saat tinggal beberapa waktu di Pegunungan Ambon, Tuni, ketika bekerja bersama kelompok musik bambu tiup Maluku (Maluku Bamboowind Orchestra-MBO).

Kala itu, keduanya melihat kontras antara cara hidup masyarakat pegunungan dan kota. Perbedaan itu tampak dari bagaimana komunitas tradisional menjaga keseimbangan antara sesama dan alam.

“Orang-orang kota menjalani hidup tanpa banyak menoleh satu sama lain,” ujar Monica, 61 tahun.

Menurutnya, banyak orang kota merasa sudah memahami makna keseimbangan, tanpa benar-benar tahu apa artinya. Karena itu, setiap satu hingga dua tahun sekali, Boi Akih kembali ke Ambon untuk mencari kembali keseimbangan yang sejati.

Salah satu lagu mereka bahkan lahir dari pengalaman sederhana. Monica bercerita tentang seorang musisi yang tak menepati janji bermain musik bersama mereka. Dua hari kemudian, pria itu datang menjelaskan bahwa ia jatuh sakit setelah pergi ke hutan untuk mencari madu.

“Di Eropa, orang akan menyalakan asap, memakai pakaian pelindung, dan mengambil madu sebanyak yang ia mau. Tapi dia bilang, ‘Kalau saya lakukan itu, lebah akan pergi,’” kenang Monica.

Bagi Monica, hidup yang menghargai alam seperti itu adalah bentuk tanggung jawab terhadap masyarakat dan generasi mendatang.

Ia juga mengingat kesan pertama saat datang ke Indonesia bersama Niels. Pria itu, katanya, merasa tidak perlu bersikap rumit di sini.

“Saya bertanya, ‘Mengapa begitu?’ Dia menjawab, ‘Kita bisa banyak belajar,’” tutur perempuan itu.

Perbedaan Tampil di Indonesia

Hal menarik selama menjalani tur di Indonesia, Monica memaparkan, adalah perbedaan suasana dan audiens. Menurutnya di Indonesia semua terasa lebih komunal. Bermain di ruang terbuka, membiarkan musik beradu dengan suara mobil, burung, dan obrolan orang.

Berbeda dengan di Belanda, semua lebih formal dalam pertunjukan. Orang-orang datang, duduk diam dan fokus menyaksikan.

“Di Indonesia kami harus berusaha keras menarik perhatian penonton,” cerita Monica.

Alih-alih melihat itu sebagai kekurangan, Ia merasa justru di situlah tantangannya. Ketika orang melihat apa yang terjadi di panggung, mereka kemudian ikut masuk ke dalam musik bahkan bertepuk tangan di tengah lagu.

Selain itu, penonton di Indonesia tidak perlu membaca pamflet atau teks penjelasan terlebih dahulu. Mereka langsung ikut merasakan apa yang mereka mainkan dari atas panggung.

Sebagai penutup, Monica kembali merenungkan perjalanan tur Boi Akih selama di Asia maupun Afrika. Pertemuan dengan orang-orang baru selalu memberikan cerita baginya untuk memahami keindahan tradisi yang berbeda.

Dengan mengangkat tema Entangled, mereka ingin menyoroti hubungan dan pembelajaran yang muncul dari pertemuan lintas budaya itu. Alih-alih meromantisasi, pungkas Monica, “Kita tidak bisa berhenti pada tradisi. Kita harus memahami dan mengembangkannya.” (Sofia Natalia Zebua)

Merawat Warisan Budaya: Belajar dari Kota Wina

0

Penulis: Falantio E. Latupapua

Sebulan pertama saya  tinggal di Kota Wina, sekaligus pengalaman pertama menjadi warga “sementara” di Benua Eropa, terasa begitu mengagumkan. Wina adalah perpaduan yang manis antara modernitas dan warisan budaya yang kuat. Aroma roti dan kopi yang bertebaran dari kafe dan toko menyusup dalam udara yang segar bebas polusi. Bangunan-bangunan tua bernuansa gotik, barok, hingga neoklasik berusia ratusan bahkan ribuan tahun dirawat dengan baik. Patung-patung artistik para tokoh terkenal yang bertebaran di mana-mana menanamkan kesan awal yang kuat tentang cara mereka mengagungkan sejarah dan kebudayan mereka. Tidak ada gedung pencakar langit di pusat kota atau Inere Stadt yang merupakan salah satu warisan budaya dunia UNESCO. Ruang kota terasa nyaman dan membumi.

Gedung Parlemen Austria (Parlamentsgebäude) dan Schloss Belvedere, dengan taman yang luas dan indah serta bangunan istana yang megah, menjadi contoh nyata bagaimana sejarah dan estetika dapat dipelihara secara konsisten. Penanganan sanitasi, pengelolaan sampah, dan penyediaan air bersih berpadu harmonis dengan layanan publik yang rapi dan presisi. Ruang terbuka dengan akses luas dan inklusif tersebar di seluruh penjuru kota, mulai dari taman-taman yang tertata indah, pelataran gedung, hingga trotoar lebar yang ramai oleh pejalan kaki. Warga Wina memanfaatkan transportasi umum secara optimal; beragam moda tersedia, mulai dari bus, trem, hingga kereta listrik, yang menjangkau seluruh sudut kota dengan mudah, murah, dan cepat. Pembangunan kota berlangsung secara teratur, fungsional, dan ramah lingkungan. Lanskap sosial dan budaya di Wina terasa unik: modern, namun tetap manusiawi dan beradab.

.wina4

Kekaguman saya tidak berhenti sampai di situ. Saya selalu mengamati cara penduduk kota ini mengatur ritme hidup mereka dengan tenang dan terukur: Work, life, and balance. Mereka terlihat suka belajar, suka membaca, dan memiliki empati. Gerai-gerai buku mirip gardu telepon umum klasik tersebar di taman-taman dan ruang terbuka publik. Siapa saja bisa mengambil buku-buku yang diletakkan di sana untuk dibaca, gratis tentunya.

Beberapa sumber menyebutkan tentang adanya sistem penatalayanan pendidikan yang disebut  Kulturvermittlung, yaitu pendidikan budaya melalui pengalaman nyata. Gabriele Weichart, salah satu kolega di Universität Wien, menyarankan saya untuk mengunjungi museum, menonton konser, atau menelusuri gedung-gedung tua sambil mempelajari prasasti berisi cerita tentang sejarah arsitekturnya sebagai cara mengalami dan mempelajari budaya mereka.

Pada peringatan Hari Kemerdekaan Austria, 26 Oktober yang lalu, banyak museum dan bangunan pemerintah dibuka untuk umum seharian, lagi-lagi gratis. Pada saat itulah saya berkesempatan menyaksikan betapa etos belajar budaya bangsa ini lahir dari sikap percaya dan mengagungkan nilai-nilai budaya mereka tanpa memerlukan banyak slogan. Para orang tua berbondong-bondong membawa anak-anak memasuki museum, menonton parade militer, dan berkunjung untuk melihat dan menggali pengalaman dan pengetahuan tentang apa, siapa, dan bagaimana sistem kenegaraan bekerja untuk melindungi dan menyejahterakan mereka.

wina3

Pengalaman memandang lanskap yang demikian memesona, mau tidak mau, menggelitik hati saya untuk merenungkan bagaimana menumbuhkan adab dalam mempelajari dan menggaungkan seni serta budaya di Indonesia. Dari pengamatan dan pengalaman saya sejauh ini, bangsa Indonesia yang mengeklaim diri sebagai bangsa berbudaya seringkali memperlakukan kebudayaan hanya sebatas pertunjukan atau “perintah” semata. Pendidikan berbasis menggali pengalaman dan nilai budaya melalui pengalaman sehari-hari masih belum dilakukan secara serius. Kondisi museum yang sepi pengunjung dan pertunjukan budaya yang jarang penonton hanyalah dua contoh dari berbagai persoalan sistemik yang pelik.

Pada 2022, Hilmar Farid menulis satu kalimat menohok: “Masalah pelestarian kebudayaan di Indonesia bukan saja karena ketiadaan aturan, melainkan ketidakhadiran sistem kebudayaan dalam tata kelola pembangunan.” Pernyataan tersebut terasa sangat relevan ketika saya melakukan riset disertasi pada 2023–2024 tentang agensi guru dalam pendidikan budaya di Kota Masohi. Secara umum, siswa mengenal nama tarian atau situs budaya lokal, tetapi jarang memiliki pengalaman langsung atau mampu menjelaskan bagaimana elemen-elemen tersebut hidup dalam masyarakat. Penatalayanan kebudayaan—yang seharusnya menghela pemahaman sejarah, penghayatan seni, pelestarian bahasa dan sastra, dan lain-lain—sering terjebak pada level slogan, bukan tindakan nyata.  Kebanggaan terhadap warisan budaya yang agung belum diikuti dengan usaha nyata untuk mengalami, mempelajari, dan mewariskannya.

Di Maluku, rumah adat seringkali hanya menjadi monumen; ia berfungsi hanya pada musim ritual tertentu. Gereja-gereja tua diratakan, diganti bangunan bergaya gotik yang megah, namun justru menjadi beban fungsional dan ekonomis. Musik, yang seharusnya mengalir sebagai denyut kehidupan, kerap dipinjam untuk kepentingan politik, dibungkus rapi dengan slogan-slogan kosong. Kehilangan warisan budaya tampak biasa saja, seolah punahnya sejarah adalah harga yang wajar dibayar. Padahal, setiap bangunan yang lenyap, setiap tradisi seni, bahasa, dan sastra yang hilang, adalah fragmen dari peradaban yang tak tergantikan.

Meskipun rasa cinta terhadap budaya Indonesia tidak pernah pudar, bahkan kian menggelora, memperbaiki cara pandang bangsa terhadap kekayaan budaya adalah suatu keharusan. Memperkuat “denyut jantung” kebudayaan, sebagaimana yang terlihat di Wina, perlu dimulai dari upaya sistemik yang berkelanjutan untuk memperbaiki penatalayanan pendidikan budaya. Dengan demikian, pelestarian budaya tidak lagi dipandang sebagai urusan sampingan, melainkan sebagai kebutuhan fundamental dalam pembangunan bangsa. Sebagaimana diingatkan Ki Hadjar Dewantara, pendidikan budaya sejatinya harus “menumbuhkan rasa cinta dan tanggung jawab terhadap kebudayaan bangsa.”

 

 

 

 

 

RUPS LB Bank Maluku-Malut Angkat Pengurus Baru, Kota Tual Hadirkan Wawali

0

Tual, Maluku.news – Wakil Wali (Wawali) Kota Tual, Amir Rumra, menghadiri Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) PT Bank Maluku-Malut yang digelar di GIIA Hotel, Jakarta, Rabu (12/11/2025). Rapat dipimpin Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, selaku Pemegang Saham Pengendali, dan dihadiri sejumlah kepala daerah.

RUPS LB tersebut menghasilkan pengangkatan pengurus baru, yakni Ichwan sebagai Komisaris Independen, Maichel Papilaya sebagai Komisaris, dan Ingrid Maureen Sahusilawane sebagai Direktur Umum.

Agenda rapat juga mencakup pembagian tugas direksi, pembahasan remunerasi, hingga rencana pembangunan gedung kantor pusat Bank Maluku-Malut.

Wawali Amir Rumra menyampaikan apresiasi dan berharap pengurus baru dapat memperkuat kinerja bank daerah tersebut dalam mendukung pembangunan ekonomi Maluku dan Maluku Utara.

PDIP Tunjuk Alhidayat Wajo Jadi Ketua Komisi III DPRD Maluku, Gantikan Javet Patiselano

0

AMBON, Maluku.News – Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Maluku resmi menunjuk Alhidayat Wajo sebagai Ketua Komisi III DPRD Maluku menggantikan Javet Jemmy Patiselano. Pergantian ini merupakan bagian dari kebijakan internal PDIP dalam rangka penyegaran alat kelengkapan dewan.

Ketua Fraksi PDIP DPRD Maluku, Andreas JW Taborat, menyampaikan bahwa rotasi posisi anggota fraksi di berbagai komisi merupakan langkah rutin yang dilakukan partai untuk memperkuat kinerja lembaga legislatif. “Tujuan rolling ini untuk memperkuat kinerja fraksi di masing-masing alat kelengkapan dewan, yang muaranya pada efektivitas kinerja DPRD secara umum,” kata Taborat di Ambon, Senin (10/11/2025).

Ia menegaskan, perubahan komposisi di alat kelengkapan dewan dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan, pengalaman, dan rekam jejak setiap anggota agar dapat berkontribusi maksimal sesuai bidang kerja. “Pergantian posisi ini adalah kebijakan internal PDIP dan sudah melalui pertimbangan matang,” tegasnya.

Dalam keputusan tersebut, Javet Jemmy Patiselano digeser dari Komisi III ke Komisi II DPRD Maluku, sementara posisi Ketua Komisi III kini dipercayakan kepada Alhidayat Wajo yang sebelumnya bertugas di Komisi II.

Alhidayat Wajo, anggota dewan dari daerah pemilihan Maluku Tengah, dikenal sebagai politisi muda PDIP yang aktif memperjuangkan isu pembangunan dan pelayanan publik. Ia diharapkan dapat membawa semangat baru dalam memimpin Komisi III DPRD Maluku.

Taborat menambahkan, penyegaran ini diharapkan mampu memperkuat peran fraksi dalam mendukung kinerja DPRD secara keseluruhan. “Kami berharap penyegaran ini menumbuhkan semangat baru dan memperkuat fungsi DPRD dalam memperjuangkan kepentingan rakyat Maluku,” tutup Taborat.

Tutur Tanah, Alih Wahana Cerita Rakyat Kaitetu oleh Bengkel Sastra Maluku

0

Ambon, Maluku.news – Bengkel Sastra Maluku (BSM) menggelar rangkaian acara sastra di Negeri Kaitetu, Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah. Program bertajuk “Tutur Tanah: Alih Wahana & Publikasi Cerita Rakyat” berpuncak pada malam pagelaran seni di Halaman Rumah Upu Negeri, Sabtu (1/11/2025).

Pagelaran seni diawali sambutan Upu Negeri Kaitetu M. Amin Lumaela. Upu menyampaikan penghargaan kepada BSM yang telah melakukan program Tutur Tanah di Negeri Kaitetu. Menurut Upu, program ini sangat bermanfaat karena mengangkat dan memperkenalkan kembali cerita-cerita rakyat Negeri Kaitetu dan juga melibatkan banyak generasi muda sebagai penerus budaya.

Pembina Bengkel Sastra Maluku Morika Tetelepta membuka pagelaran seni, sedangkan Imam Negeri Kaitetu Yusuf Yahehet memanjatkan doa.

Morika menyampaikan rasa bangga melihat antusias warga Kaitetu yang dengan hati terbuka menyambut pelaksanaan program ini.

“Banyak orang kota sudah lupa bahwa akar identitas kita itu di kampung.   Kita semua berasal dari kampung.  Kita akan masuki Indonesia Emas 2045, jadi generasi muda perlu disiapkan.  Perjumpaan melalui sastra seperti ini, sangat penting untuk merawat hidup orang basudara,” papar Morika.

Setelah itu, silih berganti tarian, pembacaan puisi, stand up comedy, musik, cerita anak, teater, instalasi visual, dan pemutaran video musik lagu anak. Kegiatan ini adalah hasil alih wahana yang diangkat dari cerita rakyat Negeri Kaitetu.

Tarian lokal oleh Kelompak Mahina Atetu membuka pertunjukan seni Tutur Tanah. Masyarakat Kaitetu antusias dan gembira menyaksikan pertunjukan seni tersebut.

Selain tarian lokal, ada juga tim musik ukulele dan tim musik lagu anak dari Luma Ana Studio, kelompok teater Luma Atetu Kreatif yang menampilkan cerita Poi Siti & Poi Raja, Pembacaan Cerita Anak oleh Mamace Hatuwe, dan instalasi visual oleh seniman visual, Remzky Nikijuluw.

Di akhir acara, Ketua Bengkel Sastra Maluku Marthen Reasoa menyampaikan apresiasi kepada para penampil yang sudah terlibat sejak awal program hingga acara puncak pertunjukan seni malam itu. Reasoa juga menyampaikan penghargaan kepada pemerintah dan masyarakat Negeri Kaitetu yang dengan segenap keramahan telah menyambut kehadiran tim Bengkel Sastra Maluku untuk melaksanakan program Tutur Tanah di Negeri Kaitetu.

Ketua BSM Reasoa juga merasa senang karena program ini bisa berjalan dengan lancar dan bisa melihat anak-anak muda tampil dengan sangat baik. Harapannya kegiatan ini bisa menjadi ruang pembelajaran dan ruang jumpa antara seniman, musisi, penulis dan masyarakat umum, sekaligus melalui kegiatan ini cerita rakyat Negeri Kaitetu dapat didokumentasi dengan baik dan dinikmati melalui seni dan sastra.

Program Tutur Tanah: Alih Wahana & Publikasi Cerita Rakyat difasilitasi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Program Fasilitasi dan Pembinaan Kelompok Masyarakat: Fasilitasi dan Apresiasi bagi Komunitas Sastra Tahun 2025.

Program ini dimulai dengan pengumpulan cerita rakyat, transkripsi dan penyuntingan naskah.   Cerita rakyat inilah yang kemudian dijadikan sumber data bengkel alih wahana, pembuatan musik lagu anak, perekaman lagu dan cerita anak, pembuatan video musik lagu anak, dan diakhiri dengan pertunjukan seni.

Bengkel penulisan puisi difasilitasi oleh Eko Poceratu, bengkel penulisan lagu anak oleh Edwin Titahalawa, bengkel penulisan cerita anak oleh Lommie Ephing, bengkel teater oleh Achmad Munir Wael. Sementara pembuatan musik lagu anak oleh Ardelony Imlabla, dan pembuatan video musik lagu anak oleh Edi Likumahua.

Semua rangkaian kegiatan dilakukan di negeri Kaitetu, Maluku Tengah dari bulan September hingga November 2025. Bengkel Sastra Maluku, sebagaimana dijelaskan Reasoa,  diharapkan menjadi ruang pembelajaran lintas usia dan latar belakang, serta memperkuat apresiasi terhadap sastra dan seni lokal melalui pendekatan inklusif, kontekstual, dan berbasis komunitas.

Komisi II DPRD Maluku Nilai Aturan Alih Muat Ikan Rugikan Daerah, Desak Pemerintah Cabut Permenhub 28/2022

0

AMBON, Maluku.News – Komisi II DPRD Provinsi Maluku menilai penerapan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (HKPD) serta Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 28 Tahun 2022 telah merugikan daerah, terutama sektor perikanan yang menjadi tulang punggung ekonomi Maluku.

Ketua Komisi II DPRD Maluku, Irawadi, menyebut regulasi tersebut mempersempit kewenangan daerah dalam menarik pajak dan retribusi perikanan. Akibatnya, pendapatan asli daerah (PAD) turun signifikan dan berimbas langsung terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

“PAD kita jatuh, APBD tertekan. Ini bisa menjadi bom waktu bagi pemerintah pusat. Banyak pelabuhan perikanan yang sudah dibangun kini tidak berfungsi optimal karena aktivitas alih muatnya tidak lagi dilakukan di darat,” kata Irawadi kepada wartawan, Selasa (4/11/2025).

Ia menegaskan, kebijakan alih muat di laut (transshipment) telah menutup peluang daerah memperoleh retribusi dari aktivitas pelabuhan perikanan. Sebelumnya, hasil tangkapan ikan wajib didaratkan di pelabuhan daerah, sehingga menciptakan perputaran ekonomi bagi masyarakat setempat.

Komisi II mendesak pemerintah pusat segera mencabut Permenhub Nomor 28 Tahun 2022 dan mengembalikan mekanisme lama yang mewajibkan hasil tangkapan ikan didaratkan di pelabuhan perikanan daerah.

“Kalau aturan ini tidak direvisi, dampaknya sangat serius. Maluku akan kehilangan sumber utama pembiayaan pembangunan,” ujarnya.

Pernyataan Irawadi sekaligus membantah penjelasan Dirjen Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Lotharia Latif, yang menyebut regulasi baru tersebut merupakan usulan dari wilayah timur Indonesia.

“Maluku tidak pernah mengusulkan aturan seperti ini. Kami tahu betul risikonya. Alasan bahwa ikan cepat rusak jika didaratkan juga tidak masuk akal, karena teknologi pengawetan ikan kita sudah maju,” tegasnya.

Irawadi menilai, kebijakan alih muat di laut lebih menguntungkan pengusaha besar dan merugikan masyarakat lokal serta pemerintah daerah. Ia meminta pemerintah pusat mendengar aspirasi daerah dan segera mengevaluasi kebijakan yang dianggap menekan ruang fiskal provinsi kepulauan seperti Maluku.

“Aturan ini bukan untuk rakyat, tapi untuk kepentingan segelintir pengusaha. Pemerintah harus segera evaluasi dan cabut aturan ini,” tutupnya.

Dugaan Tumpahan Oli Cemari Pantai Hative Besar, DPRD Maluku Minta KSOP dan DLH Bertindak Cepat

0

AMBON, Maluku.News – DPRD Provinsi Maluku menyoroti dugaan pencemaran lingkungan akibat tumpahan oli bekas di kawasan pesisir Teluk Ambon, tepatnya di pantai Negeri Hative Besar. Dugaan pencemaran tersebut mencuat setelah warga melaporkan adanya bercak hitam menyerupai oli yang menempel di pasir dan batuan pantai pada akhir Oktober 2025.

Ketua Komisi II DPRD Maluku, Irawadi, mengatakan pihaknya telah meninjau langsung lokasi kejadian dan menemukan indikasi sisa tumpahan oli yang masih terlihat di pantai. Ia menyebut, DPRD akan memanggil sejumlah instansi terkait, antara lain Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Maluku, serta Pemerintah Negeri Hative Besar, untuk dimintai penjelasan.

“Dari sumbernya kita belum tahu, dari kapal mana. Tapi masih ada sisa tumpahan yang terlihat di pantai. Nanti kita akan berkoordinasi dengan dinas terkait, termasuk KSOP dan DLH,” kata Irawadi kepada wartawan, Senin (3/11/2025).

Ia menambahkan, DPRD akan menggelar rapat dengar pendapat (RDP) gabungan antara Komisi II dan Komisi III, karena persoalan ini menyangkut dua bidang, yakni lingkungan hidup dan perhubungan laut. “Nanti kita agendakan rapat bersama Komisi III dan Komisi II. KSOP ada di Komisi III, sedangkan DLH di Komisi II,” ujarnya.

Selain menindaklanjuti kasus ini, DPRD juga mendorong penyusunan peraturan daerah (Perda) tentang pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) untuk memperkuat pengawasan di laut. “Ini bukan kejadian pertama. Maka kita akan bentuk perda terkait B3. Karena laut adalah kewenangan provinsi, kita harus perkuat payung hukumnya,” tegasnya.

Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Maluku telah mengambil sampel air laut dan bahan yang diduga oli untuk dilakukan uji laboratorium. Hasil uji tersebut diperkirakan keluar dalam waktu 14 hari.

“Dari pengambilan sampel air laut maupun bahan yang diduga oli, saat ini masih diuji di laboratorium. Hasilnya nanti bisa kami sampaikan saat rapat dengar pendapat,” jelas Sylvia, pengawas DLH Maluku.

DLH juga mengimbau warga setempat untuk sementara tidak beraktivitas di area pantai hingga kondisi dinyatakan aman. “Kami sudah arahkan warga, terutama anak-anak, agar sementara tidak mandi di pantai. Nelayan juga diminta tidak melaut dulu,” kata Sylvia.

Menurut hasil pantauan tim DLH, sebaran bahan pencemar mencapai sekitar 100 meter di pesisir Hative Besar. Namun, hingga kini belum diketahui kapal mana yang menjadi sumber tumpahan. “Wilayah itu dilalui kapal besar maupun kapal nelayan lokal, jadi kami belum bisa memastikan sumber pencemar,” ujarnya.

DPRD Maluku meminta agar KSOP dan DLH segera menuntaskan penyelidikan, menelusuri sumber tumpahan, dan menindak pihak yang bertanggung jawab. Dewan menilai insiden pencemaran laut ini harus menjadi pelajaran penting agar pengawasan lingkungan di perairan Teluk Ambon lebih diperketat.

Megawati Resmi Angkat Benhur Watubun Ketua PDIP Maluku, Target Tambah Kursi DPRD hingga 2029

0

AMBON, Maluku.News – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri resmi menetapkan Benhur George Watubun sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan Maluku masa bakti 2025–2030. Penetapan tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Internal DPP PDI Perjuangan, Dolfie Othniel Fredric Palit, saat membuka Konferensi Daerah (Konferda) ke-VI DPD PDI Perjuangan Maluku di Hotel Santika, Ambon, Minggu (2/11/2025).

Dalam struktur kepengurusan yang baru, Nancy Purmiasa ditetapkan sebagai sekretaris dan Andreas Taborat sebagai bendahara. Selain itu, sebanyak 24 fungsionaris DPD juga dikukuhkan untuk memperkuat mesin partai dalam masa kepemimpinan lima tahun ke depan.

Benhur Watubun, yang juga Ketua DPRD Provinsi Maluku, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Ketua Umum dan jajaran DPP atas kepercayaan yang diberikan. Dalam pidato perdananya, ia berkomitmen menjalankan amanah tersebut dengan penuh tanggung jawab dan memastikan PDIP Maluku tetap solid, ideologis, dan berpihak pada kepentingan rakyat.

“Amanah ini akan kami jalankan dengan tanggung jawab penuh. Kami akan menjaga marwah partai, memperkuat struktur organisasi, dan memastikan PDI Perjuangan tetap dekat dengan rakyat,” kata Benhur.

Benhur menegaskan, fokus utama kepemimpinannya mencakup tiga agenda penting: penguatan ideologi partai, konsolidasi organisasi, dan peningkatan kinerja elektoral. Ia menyebutkan bahwa pembentukan struktur yang ramping namun efektif menjadi langkah awal untuk memastikan kaderisasi berjalan baik dan semangat Pancasila terus mengakar dalam setiap gerakan politik partai.

“Kami akan membentuk struktur partai yang efisien, memastikan regenerasi berjalan dengan baik, agar nilai gotong royong tetap menjadi roh perjuangan politik PDIP di Maluku,” ujarnya.

Dalam pidato politiknya, Benhur juga mengumumkan target PDIP Maluku untuk meningkatkan perolehan kursi di DPRD Provinsi Maluku dari delapan menjadi sembilan atau sepuluh kursi pada periode berikutnya. Menurutnya, target ini realistis jika seluruh kader bekerja kompak, disiplin, dan fokus pada kerja-kerja politik yang menyentuh masyarakat.

“Target kami jelas, menaikkan jumlah kursi di DPRD. Dengan semangat kebersamaan dan kerja kolektif, kita bisa mencapai itu,” tegas Benhur.

Benhur menutup pidatonya dengan ajakan kepada seluruh kader untuk menjaga soliditas dan loyalitas terhadap partai. Ia menegaskan, PDI Perjuangan Maluku akan menjadi kekuatan utama yang mengawal kepentingan rakyat dan memastikan kebijakan politik berpihak pada kesejahteraan masyarakat.