Beranda blog Halaman 2

Peneliti Unpatti dan Balai Bahasa Kembangkan Buku Ajar Bahasa Alune

0

Ambon, Maluku.news – Upaya pelestarian bahasa daerah kembali diperkuat melalui pengembangan Buku Ajar Bahasa Alune Tingkat Dasar oleh tim peneliti lintas institusi.

Kegiatan ini berlangsung pada 6–12 Maret 2026 dengan agenda pengumpulan data lapangan sekaligus verifikasi dan klarifikasi draf buku ajar di sejumlah desa di Kabupaten Seram Bagian Barat.

Desa-desa yang menjadi lokasi kegiatan meliputi Desa Riring, Desa Taniwel, dan Desa Patahuwe di Kecamatan Taniwel, serta Desa Lumoli dan Desa Piru di Kecamatan Piru.

Kegiatan ini bertujuan memastikan bahwa materi dalam buku ajar sesuai dengan penggunaan Bahasa Alune di tengah masyarakat, baik dari segi kosakata, struktur, maupun konteks budaya.

Buku ajar yang dikembangkan difokuskan pada tingkat dasar, dengan sasaran pembelajar pada level kemahiran A1 dan A2 mengacu pada kerangka Common European Framework of Reference for Languages (CEFR). Melalui kerangka ini, materi disusun secara bertahap, mulai dari kemampuan memahami dan menggunakan ungkapan sederhana hingga kemampuan berkomunikasi dasar dalam situasi sehari-hari.

Proses verifikasi dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan penutur lokal, tokoh adat, serta masyarakat setempat. Diskusi dan pencocokan data dilakukan untuk menjaga akurasi bahasa sekaligus mempertahankan nilai-nilai budaya yang melekat dalam Bahasa Alune.

Kegiatan ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Dana Indonesiana pada skema Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan dan Cagar Budaya (KOPK-CB), sebagai bagian dari upaya strategis pemajuan kebudayaan berbasis riset dan pelibatan masyarakat.

Kegiatan lapangan ini merupakan tindak lanjut dari Lokakarya Pendidikan Bahasa Ibu dan Dokumentasi Bahasa yang telah dilaksanakan pada 20–21 Februari 2026. Dalam lokakarya tersebut, tim peneliti bersama para peserta memperoleh penguatan konsep dan metode dari dua narasumber. Kedua narasumber berkompeten di bidang linguistik dan pendidikan bahasa ibu yaitu Satwiko Budiono dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Minda Tahapary dari Yayasan Suluh Insan Lestari, Jakarta.

Tim peneliti dan pengembang Buku Ajar Bahasa Alune terdiri atas Falantino Eryk Latupapua, dosen sastra dan kajian budaya FKIP Universitas Pattimura; Leonora Farilyn Pesiwarissa, dosen linguistik FKIP Universitas Pattimura; Eka Julianty Saimima dari Balai Bahasa Provinsi Maluku; Chrissanty Hiariej, dosen pendidikan bahasa dan sastra Indonesia FKIP Universitas Pattimura; serta Revelino Berivon Nepa, pemerhati dan aktivis bahasa dan budaya Maluku.

Ketua tim Falantino Eryk Latupapua menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penyusunan buku ajar, tetapi juga pada upaya membangun kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga bahasa ibu sebagai bagian dari identitas budaya.

“Bahasa Alune bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga menyimpan pengetahuan lokal dan cara pandang masyarakat terhadap dunia. Karena itu, proses penyusunan buku ajar ini harus melibatkan masyarakat sebagai pemilik bahasa,” ujar Falantino.

Sementara itu, Anggota Tim Eka Julianty Saimima berharap buku ajar yang sedang dikembangkan dapat menjadi bahan pembelajaran yang kontekstual dan mudah digunakan di sekolah dan komunitas.

“Harapannya, buku ini bisa menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal dan menggunakan bahasa Alune secara bertahap, dimulai dari tingkat dasar,” ungkap Eka Julianty Saimima.

DPRD Maluku Minta Antisipasi Bapok dan Listrik Jelang Hari Besar

0

Ambon, Maluku.news – Anggota Komisi II DPRD Provinsi Maluku, Andreas Taborat, mengimbau pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat meningkatkan kewaspadaan serta kesiapan menjelang rangkaian hari besar keagamaan pada akhir Maret hingga awal April 2026.

Ia menilai langkah antisipatif sangat krusial untuk menjaga stabilitas kebutuhan bahan pokok (bapok) dan kenyamanan masyarakat di Maluku.

Berdasarkan kalender keagamaan, dalam waktu berdekatan Maluku akan menghadapi tiga momentum besar, yakni Hari Raya Nyepi pada 19 Maret, Idul Fitri pada 21–22 Maret, serta Paskah pada 3–4 April.

“Periode ini akan meningkatkan aktivitas dan kebutuhan masyarakat, sehingga perlu antisipasi yang matang dan kerja sama dari semua pihak,” kata Andreas, Senin (16/3/2026).

Ia menegaskan stabilitas harga bahan pokok harus menjadi prioritas utama pemerintah. Untuk itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) diminta memperketat pengawasan agar tidak terjadi lonjakan harga yang memberatkan masyarakat.

“Kita harus memastikan harga kebutuhan pokok tidak melambung dan tetap terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat,” tegasnya.

Selain itu, Andreas meminta instansi terkait rutin melakukan pengecekan langsung di pasar tradisional maupun modern, serta menggelar operasi pasar jika terjadi gejolak harga yang signifikan. Ia juga menekankan pentingnya koordinasi hingga ke tingkat kabupaten/kota guna menjaga inflasi tetap terkendali.

Di sektor energi, Komisi II DPRD Maluku turut menyoroti keandalan pasokan listrik. Andreas meminta Perusahaan Listrik Negara (PLN) menjamin tidak terjadi pemadaman selama periode hari besar keagamaan.

“Energi listrik sangat vital karena hampir semua aktivitas bergantung pada listrik. Kami minta PLN menghindari pemadaman, termasuk menindaklanjuti laporan pemadaman yang terjadi di beberapa daerah, termasuk Kota Ambon,” ujarnya.

Ia juga meminta PLN mencari penyebab pemadaman rutin yang kerap terjadi setiap akhir pekan.

Menurut Andreas, sejumlah lembaga seperti BUMN, BUMD, dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sejauh ini telah melakukan langkah antisipasi untuk memitigasi potensi kendala di lapangan.

“Kami menghargai upaya semua pihak yang telah mulai menyiapkan solusi dan melakukan koordinasi agar aktivitas masyarakat dapat berjalan dengan baik,” pungkasnya.

Obituarium: Sayang Dilale, Perempuan Buldozer Lies Ulahayanan

0

Ambon, Maluku.News – Kampus IKIP Karamalang Yogyakarta (Sekarang Universitas Negeri Yogyakarta) akhir tahun 1970an. Seorang perempuan jangkung berkulit gelap terlihat di antara aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Ia ikut demonstrasi dan menjadi orator.

Suaranya nan lantang ikut membakar aksi-aksi mahasiswa, pasca Kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK). Kala itu mahasiswa se-tanah air sempat memprotes kebijakan Menteri Pendidikan Daud Jusuf tahun 1978 yang dianggap sangat represif.

Mahasiswa itu tidak lain adalah Aloysia Maria Ulahayanan. Ia populer dengan nama Lies Ulahayanan. Perempuan asal Ohoi Bombay Kei Besar Maluku Tenggara itu beruntung mendapat kesempatan studi di Kota Pendidikan tersebut. Ia mengambil Jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS), Kala itu, perempuan asal Kei yang kuliah di Yogyakarta masih bisa dihitung dengan jari.

Lies lahir di Kei, 12 Februari 1954 sebagai anak kedua dari delapan bersaudara. Ayahnya Josephus Ulayanan, seorang pegawai Kantor Pekerjaan Umum dan Ibunya Sophia Jeujanan.

Lies dibesarkan dalam tradisi keluarga yang disiplin dan keras. Sebab itu, fisik dan jiwanya juga keras. Karakter keras itu sangat menonjol sepanjang hidupnya. Uskup Amboina Mgr P. C. Mandagi MSC bahkan menjuluki Lies sebagai perempuan buldozer.

“Lies ini bagaikan buldozer. Bongkar sana-sini. Maluku dan Keuskupan Amboina bersyukur punya seorang buldozer. Tapi satu buldozer saja sudah cukup, jangan banyak-banyak,” kata Uskup Mandagi.

Ketika kembali dari Yogyakarta, 1979, Lies bekerja di Lembaga Pengembangan Sosial Ekonomi (LPSE) Rinamakana, di Ambon. Waktu itu, Lies masih sarjana muda bergelar Bachelor of Arts (BA). Setelah bekerja setahun, Uskup Andreas Sol MSC mendukung Lies untuk kembali ke Yogyakarta menyelesaikan sarjana lengkap.

Tahun 1982, Lies sudah menyandang gelar Doktoranda (Dra). Ia pulang ke Ambon, kembali bekerja di LPSE Rinamakana. Melalui lembaga ini, Lies banyak kali turun lapangan. Ia berjalan kaki berkilo-kilometer dari kampung ke kampung seperti di Kei Besar atau di Yamdena.

Perjalanan Lies ke kampung-kampung tidak lain adalah mengajak petani mampu bertahan dengan kekayaan dan kekuatan pangan lokal. Selain itu, ia memprovokasi mereka membuat kebun yang lebih besar.

“Saya sudah liat kebun-kebun di sini. Tanahnya subur, tanamannya sehat, namun kebun terlalu kecil. Ayo bikin kebun besar,” ajak Lies dalam pertemuan dengan para petani di Saumlaki.

“Ayo mari kita ucapkan bersama. Kebun besar! Kebun besar! Kebun besar!” seru Lies.

Lies bahkan mengajak para petani untuk meneriakkan bersama-sama dengan suara: Kebun besar!

“Dari zaman nenek moyang, kita ini petani. Bikin kebun besar itu kita sanggup. Ubi, kumbili, kacang, bawang, semua bisa kita tanam. Namun kalau panen, siapa mau beli? Toh semua orang punya!” kata seorang petani.

“Bapa-ibu tanam saja. Saya (Rinamakana) akan beli hasil kebun,” Lies meyakinkan para petani.

Provokasi Lies berhasil. Para petani membuat kebun besar. Hasilnya melimpah dan dibawa ke Ambon. Rinamakana membeli semua hasil kacang ijo dan bawang merah.

Meskipun kemudian menjadi pegawai negeri sipil (PNS), Lies tetap mencintai dunia tani. Dia selalu pegang cangkul, meremas tanah, menanam benih. Dari sayuran, sampai tanaman hias. Semua ini dilakukannya sejak bujangan sampai menikah, bahkan setelah pensiun PNS.

Lies dikenal sebagai perempuan serba bisa. Ia bisa pegang pacul mencangkul tanah, pegang kapak membela kayu, memasak, membuat surat-surat dinas, konsep pidato kepala daerah, menjadi pewara, menjadi narasumber di forum lokal sampai nasional.

Semasa di Rinamakana, Lies juga mengelola penerbitan khusus, sebuah majalah sederhana bertajuk “Aluku Maluku”. Beberapa kali, Lies juga menulis puisi dan membacakannya.

Sebagai PNS, Lies pernah menjabat Kepala Biro Hubungan Kemasyarakatan Kantor Gubernur Maluku, dan terakhir sebagai Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi Provinsi Maluku.

Lies tercatat pernah dua kali menjabat Koordinator Presidium DPD Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Provinsi Maluku. Di lingkaran Gereja Katolik Keuskupan Amboina, Lies dan suaminya Lukas Angwarmase dikenal sebagai tokoh penggerak umat basis di Ahuru. Dari sebuah Rukun, warga Katolik di Ahuru berkembang menjadi Stasi, dan akhirnya sebagai Paroki Santo Yakobus Ahuru.

Pasangan Lies Ulahayanan dan Lukas Angwarmase dikaruniai seorang puteri dan dua putera. Mereka adalah Dian Angwarnase, Dharma Angwarmase dan Adi Angwarmase. Keduanya berbahagia bisa menuntun anak-anak sampai menyelesaikan studi di perguruan tinggi.

Pada hari Kamis, 12 Februari 2026 lalu, Lies sangat berbahagia di tengah keluarga, kerabat, dan para tetangga di Kusu-Kusu, rumah kediamannya. Saat itu, ada ibadat sabda untuk syukuran ulang tahunnya yang ke-72.

Satu bulan setelah perayaan ulang tahun itulah, tiba-tiba kondisi kesehatannya menurun. Lies sempat dirawat di Rumah Sakit Siloam selama tiga hari, sebelum akhirnya ia menghembuskan nafas yang terakhir.

Di rumah duka Kusu-Kusu, Rabu (11/3/2026) malam, Pastor Tino Ulahayanan MSC memimpin misa. Sedangkan pemakaman almarhum akan dilaksanakan hari Sabtu (14/2/2026) di Kusu-Kusu.

Letak makamnya kelak di bawah rindang pohon gaharu, jambu, nangka, dikelilingi bogenvil, gadihu, dan aneka pusparagam yang ditanamnya dengan tangan sendiri.

Lies Ulahayanan telah pergi. Ia meninggalkan suami, tiga orang anak, menantu, dan tiga cucu.

Lies pernah berperan sebagai “tangan kanan” Gubernur Karel Albert Ralahalu dan Sofia Ralahalu. Justru pada posisi itu, ia pun tersandung lalu jatuh. Akan tetapi Lies tidak hancur lebur. Sang buldozer itu bangkit sebagai perempuan baja sampai akhir hayat. Sayang dilale! (Rudi Fofid)

Komisi III DPRD Maluku Akan Panggil Instansi Terkait Proyek MIP

0

Ambon, Maluku.news – Komisi III DPRD Provinsi Maluku berencana memanggil sejumlah instansi terkait guna mengklarifikasi polemik pembangunan Maluku Integrated Port (MIP). Pemanggilan tersebut dijadwalkan berlangsung setelah perayaan Idulfitri 2026.

Langkah ini dilakukan untuk mengurai keraguan publik terkait legalitas lahan serta perencanaan proyek strategis tersebut.

Ketua Komisi III DPRD Maluku, Alhidayat Wajo, mengatakan pihaknya akan mengundang sejumlah instansi teknis, di antaranya Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) serta Dinas Perhubungan Provinsi Maluku.

“Setelah Lebaran kami akan mengundang pihak-pihak terkait. Kami juga akan melakukan rapat gabungan dengan Komisi I dan Komisi II untuk memastikan berbagai aspek, termasuk legalitas lahan,” kata Alhidayat Wajo, Rabu (11/3/2026).

Menurutnya, DPRD perlu memastikan sejauh mana progres pembangunan proyek tersebut, termasuk status koordinasi antara pemerintah daerah dengan pihak terkait.

Rencana pemanggilan instansi tersebut juga merupakan tindak lanjut dari aspirasi yang disampaikan Aliansi Garda NKRI dan Aliansi Pemuda Peduli Hukum, yang mempertanyakan transparansi pembangunan proyek Maluku Integrated Port.

Selain melakukan pemanggilan dinas teknis, DPRD Maluku juga berencana meninjau kembali data lapangan terkait legalitas lahan proyek. Hal ini merujuk pada hasil pengecekan yang sebelumnya telah dilakukan Komisi I DPRD Maluku di Kabupaten Seram Bagian Barat pada tahun sebelumnya.

DPRD Maluku memastikan seluruh aspirasi serta laporan yang disampaikan kelompok mahasiswa akan diteruskan kepada pimpinan DPRD untuk ditindaklanjuti.

Langkah tersebut, kata Alhidayat, merupakan bagian dari pelaksanaan fungsi pengawasan DPRD guna memastikan proyek strategis di Maluku berjalan sesuai aturan serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Iksanul Kamil, Penyair Remaja Pulau Buru yang “Paksa Dewasa”

0

Ambon, Maluku.News – Red Bricks Cafe and Resto di Karang Panjang Ambon, hari itu dipenuhi lebih seratus aktivis dunia literasi. Kebanyakan mereka berstatus mahasiswa dan pegiat komunitas sastra. Mereka antusias mengikuti Pesta Literasi Indonesia yang diselenggarakan Gramedia Jakarta dan Jazirah Timur Labuan Kata, Ambon, Sabtu (20/9/2025).

Ada serangkaian kegiatan menarik seperti diskusi, pemutaran film, stand up comedy, musikalisasi puisi, dan pembacaan puisi. Salah satu penyair yang diundang membacakan puisinya bernama Iksanul Kamil.

Iksa, begitu biasanya dia disapa. Bertubuh mungil, wajah imut, kumisnya belum tumbuh. Maklum saja, dia baru usia 15 tahun dan duduk di kelas 2 SMK. Di Red Brick, hari itu, dia duduk di sisi ruangan, tenggelam di antara pegiat-pegiat senior yang sudah punya nama.

Ketika namanya dipanggil, dia maju dengan langkah pasti. Tidak ada keraguan sedikitpun. Dia memberi sedikit pengantar, lalu membaca dua puisinya berjudul “Tanah Ini?” dan “Nyanyian Jam Tiga Pagi”.

“Kalian menyebutnya investasi/ tapi tak ada dividen/ untuk sungai yang bisu/ dan anak-anak yang kehilangan/ suara burung tiap pagi!” Begitulah satu bait dari puisi “Tanah Ini?”.

Beberapa penyair saling memandang ketika Iksa membacakan puisi-puisinya. Diksi-diksinya tidak biasa, bahkan terlalu dewasa untuk penyair belia yang masih remaja. Iksa tidak menulis dunia “asmara remaja” seperti lazim penyair remaja. Dia merambah ke kedalaman tema negara dan advokasi terhadap perampasan ruang hidup.

Sebagai anak baru dalam “geng” Bengkel Sastra Maluku, Iksa ternyata baru pertama tampil baca puisi di depan umum. Panggung Pesta Literasi Indonesia di Red Brick itulah pengalaman naik pentas pertama kali.

“Beta merasa sangat gugup sekali tetapi juga senang dan bangga,” ujar Iksa.

ANAK TULEHU YANG MERANTAU KE BURU

Iksa adalah putra bungsu dari dua bersaudara anak pasangan Nopri Yanto dan Nurtaif Tawainella. Dia lahir di Tulehu, 27 November 2008. Dalam usia sangat belia, Iksa sudah hidup berpindah-pindah mengikuti orang tuanya.

Dia lulus SD 014 Duren Tiga Jakarta Selatan, lalu SMP Negeri 3 Salahutu, Maluku Tengah. Sekarang, dia duduk di SMK Negeri 3 Buru Selatan. Hidup berpindah membuat Iksa mengalami banyak perjumpaan dengan orang berbeda dan suasana berbeda pula.

Karena pindah ke Namrole di Buru Selatan, mengikuti orang tua, Iksa punya banyak waktu di Namrole. Dari Pulau Buru inilah, Iksa melahirkan antologi puisinya yang pertama berjudul “Di Tanah Yang Pernah Bernama Pulang”. Penerbitnya Teori Kata Publishing Cirebon, 2025. Buku ini diluncurkan Januari 2026.

Antologi puisi 124 halaman ini berisi 45 judul puisi karya Iksa. Iksa membagi 45 puisi itu dalam lima bagian. Bagian I, Tanah Yang Pernah Bernama Pulang. Bagian II, Tubuh Sebagai Medan. Bagian III, Luka Yang Diam-Diam Tinggal. Bagian IV, Tumbuhan Liar di Dalam Dada. Bagian V, Aku yang belajar Menyebut Diri Sendiri.

MOTIVASI DARI KELAS DI SMP 3 SALAHUTU

Iksa mengaku menulis puisi sejak kelas 5 SD di Jakarta. Dia mengidolakan penyair Theoresia Rumthe dan Eko Saputra Poceratu. Buku Antologi Puisi “Janda Bukan Beranda” oleh Eko Saputra Poceratu bahkan menjadi buku puisi pertama yang jadi sumber belajar bagi Iksa.

“Pada dasarnya beta suka baca, lalu di kelas satu atau dua SMP, beta baca buku ‘Janda Bukan Beranda’ karya Eko Saputra Poceratu. Buku itu memicu rasa penasaran dan ketertarikan, seperti apakah puisi. Lalu beranjaklah ke tahap berusaha memahami bagaimana cara meromantisasi kata dan tulisan dalam sajak-sajak, singkat. Semuanya dipelajari sendiri,” kata Iksa.

Selain punya idola, Iksa punya seorang motivator yang mendorongnya menjadi penyair. Sang motivator bukan penyair besar atau penyair tenar. Motivatornya justru seorang kakak kelas di SMP Negeri 3 Salahutu. Namanya Syifa Tuasalamony.

Waktu itu Iksa kelas 1 sedangkan Syifa kelas 3. Keduanya sama-sama suka menulis puisi. Iksa masih ingat kata-kata Syifa yang mendorongnya untuk terus menulis dan jangan berhenti.

“Beta mau baca ose tulisan seng cuma sekali, tetapi beta juga seng mau baca akang dalam bentuk file, beta mau itu jadi buku yang bisa beta bawa ke mana-mana, yang bisa beta baca di sela-sela waktu sambil tunggu ampas kopi turun ke dasar gelas,” kata Syifa, waktu itu.

Iksa ingat pula, Syifa menyebutkan rangkaian kata yang lebih “membakar”.

“Ose seng akan pernah gagal kecuali ose barenti coba, Cil (Cil, Kecil, sebutan Syifa untuk Iksa). Terus berusaha lari selagi ose kaki masih bisa untuk berlari, selagi ose kaki masih belum tua dan renta, Cil,” begitu kata-kata Syifa.

Ketika buku Antologi Puisi “Di Tanah Yang Pernah Bernama Pulang” diluncurkan Januari 2026, Iksa menyerahkan bukunya kepada Syifa, sang motivator yang kini kuliah di Fakultas Hukum Universitas Pattimura Ambon.

“Bukunya bagus sih. Bagi beta, bukunya menunjukkan ose ciri khas yang selama ini beta tau itu bagaimana. Banyak makna yg tersirat di sana. Banyak ose pung kisah yang bisa beta lihat tertuang di dalam buku itu. Overall bagus dan sesuai dengan beta ekspektasi waktu bilang ose untuk bikin buku karena memang sedari awal beta pun tahu ose punya bakat untuk itu. Selain itu, bisa bawa ose buku ke mana-mana, itu salah satu beta impian sedari lama,” begitu komentar Syifa terhadap Antologi Puisi Iksa.

Iksanul Kamil masih belia. Namun puisi-puisinya terasa dewasa bahkan ‘paksa dewasa’. Beberapa pembaca awam bahkan memberi komentar tentang Bab II bukunya. Puisi-puisi itu, menurut mereka, tidak cocok dengan usia Iksa karena vulgar atau sensual. Iksa sendiri merasa tidak begitu.

Bagaimanapun, Iksa sudah memilih jalan seni, sekalipun baru di titik awal. Jalan masih panjang bagi remaja yang ingin mendalami teater ini. Ambon, Tulehu dan Buru, adalah kampung halaman para seniman besar, dan Iksa tumbuh di tengah atmosfir ini.

Sekretariat DPRD Maluku Berbagi Takjil, Perkuat Kepedulian di Bulan Ramadan

0

Ambon, Maluku.news – Sekretariat DPRD Provinsi Maluku membagikan takjil kepada masyarakat yang menjalankan ibadah puasa sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus upaya menumbuhkan semangat kebersamaan selama bulan suci Ramadan.

Sekretaris DPRD Maluku, Farhatun Rabiah Samal, di Ambon, Selasa (10/03/2026), mengatakan kegiatan tersebut dilaksanakan melalui Majelis Taklim Al-Musyawarah dengan membagikan takjil kepada masyarakat yang melintas menjelang waktu berbuka puasa.

Menurutnya, kegiatan sosial ini diharapkan dapat membantu masyarakat dalam menyiapkan hidangan berbuka, meskipun jumlah takjil yang dibagikan tidak terlalu banyak.

“Kami berharap apa yang diberikan ini dapat bermanfaat dan sedikit membantu masyarakat dalam menyiapkan hidangan berbuka puasa,” ujarnya.

Pembagian takjil dipusatkan di kawasan sekitar Masjid Jami Ambon, yang menjadi salah satu titik aktivitas masyarakat menjelang waktu berbuka.

Farhatun menambahkan, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk memperkuat nilai kebersamaan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat, khususnya selama bulan Ramadan.

Ia menegaskan bahwa Ramadan merupakan waktu yang tepat bagi umat Muslim untuk meningkatkan ibadah serta memperbanyak amal kebaikan, termasuk melalui kegiatan berbagi kepada sesama.

“Ramadan adalah momen bagi umat Muslim untuk berlomba-lomba melakukan kebaikan dan memperbanyak amal ibadah. Karena itu Majelis Taklim Al-Musyawarah memanfaatkan kesempatan ini untuk berbagi dengan sesama,” katanya.

Menurut Farhatun, kegiatan berbagi takjil tidak semata dilihat dari jumlah yang dibagikan, tetapi dari nilai kepedulian dan ketulusan dalam membantu masyarakat yang sedang menjalankan ibadah puasa.

“Pada bulan Ramadan ini kita sebagai umat Muslim berlomba-lomba berbuat kebaikan dan mengejar amal sebanyak-banyaknya. Karena itu momentum ini dimanfaatkan untuk berbagi dengan sesama sekaligus meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT,” pungkasnya.

Diskominfo Ambon Pastikan Jaringan Layanan Publik Berfungsi Optimal

0

Ambon, Maluku.news – Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian (Diskominfo) Kota Ambon memastikan kondisi jaringan pada sejumlah titik vital pelayanan publik berada dalam status normal dan optimal setelah dilakukan pengecekan rutin oleh tim teknis.

Kepala Diskominfo dan Persandian Kota Ambon, Ronald Lekransy, mengatakan pengecekan tersebut merupakan bagian dari upaya mendukung transformasi digital serta menjaga kelancaran administrasi pemerintahan di lingkungan Pemerintah Kota Ambon.

Adapun lokasi yang menjadi fokus pemeriksaan meliputi komputer pelayanan pada Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Kota Ambon serta Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Ambon.

“Pengecekan ini penting untuk memastikan seluruh sistem pelayanan publik berbasis digital berjalan tanpa hambatan, sehingga masyarakat tetap terlayani dengan cepat dan efisien,” ujar Ronald Lekransy di Ambon, Jumat (6/3/2026).

Ia menjelaskan, tim teknis memeriksa sejumlah aspek teknis secara menyeluruh, mulai dari stabilitas bandwidth, kualitas kabel LAN, hingga performa perangkat jaringan seperti switch dan router.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi gangguan tersembunyi, seperti packet loss maupun request timed out (RTO), yang berpotensi menghambat akses aplikasi pelayanan.

Menurutnya, pengecekan rutin memiliki beberapa tujuan utama, yakni menjamin kelancaran layanan kepada masyarakat, mendeteksi dini potensi gangguan jaringan, serta memastikan keamanan dan stabilitas jalur data, terutama dalam menunjang transaksi pelayanan pajak dan perizinan.

“Hasil pengecekan hari ini menunjukkan kondisi jaringan di kedua OPD dalam status normal dan optimal,” kata Lekransy.

Ia menegaskan, Diskominfo Ambon akan terus menjaga kesiapan dan konektivitas jaringan di seluruh perangkat daerah guna mendukung pelayanan publik berbasis digital yang lebih cepat, responsif, dan terpercaya.

DPRD Maluku Soroti Mudik Gratis, Kapal dan Listrik Jelang Lebaran

0

Ambon, Maluku.news – Anggota Komisi II DPRD Provinsi Maluku, Anos Yeremias, menyoroti sejumlah persoalan layanan publik menjelang arus mudik Idulfitri 2026, mulai dari program mudik gratis, operasional kapal penyeberangan, hingga stabilitas pasokan listrik di wilayah Maluku.

Hal itu disampaikan dalam rapat dengar pendapat (RDP) gabungan Komisi II dan Komisi III DPRD Maluku bersama mitra kerja di Ambon, Kamis (5/3/2026).

Menurut Anos, program mudik gratis angkutan laut tahun ini belum menjangkau seluruh wilayah kepulauan di Maluku. Padahal, program yang menyediakan sekitar 14.000 kuota penumpang tersebut dikoordinasikan oleh Dinas Perhubungan bersama sejumlah mitra, seperti Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) serta PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI).

Ia menyebut masih ada empat daerah yang belum terakomodasi, yakni Kota Tual, Kabupaten Maluku Tenggara, Kabupaten Kepulauan Aru, dan Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

“Wilayah-wilayah ini juga perlu mendapat akses program mudik gratis agar masyarakat kepulauan memiliki kesempatan yang sama,” ujar Anos.

Ia mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan deviasi atau pengalihan rute sejumlah kapal perintis, seperti KM Sabuk Nusantara 47, KM Sabuk Nusantara 67, KM Sabuk Nusantara 39, dan KM Sabuk Nusantara 34.

Selain itu, Anos juga meminta penambahan jam operasional kapal pada lintasan yang diperkirakan mengalami lonjakan penumpang, seperti rute Galala–Namlea dan Hunimua–Waipirit.

Di sisi lain, ia menyoroti kepadatan aktivitas di Pelabuhan Slamet Riyadi Ambon yang kerap terjadi setiap awal pekan. Keterbatasan kapasitas pelabuhan dinilai berpotensi menimbulkan antrean panjang kendaraan, terutama untuk rute Maluku Barat Daya, Pulau Buru, dan Buru Selatan.

“Kalau pelabuhan dengan kapasitas kecil menerima ribuan penumpang sekaligus, tentu berpotensi menyebabkan kemacetan total di sekitar pelabuhan,” katanya.

Selain transportasi, Anos juga menyoroti stabilitas pasokan listrik menjelang Idulfitri. Hal ini menyusul terjadinya pemadaman listrik di Ambon beberapa jam sebelum rapat berlangsung.

Ia mengingatkan komitmen Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk menyediakan layanan listrik 24 jam di seluruh wilayah Maluku serta menghapus pola layanan terbatas seperti enam atau 12 jam per hari.

“Kalau di Ambon saja masih terjadi pemadaman, bagaimana dengan daerah kepulauan lainnya,” tegasnya.

DPRD Maluku juga meminta PT Panca Karya segera membenahi armada kapal penyeberangan yang dioperasikan perusahaan tersebut guna meningkatkan kualitas layanan transportasi laut.

Menurut Anos, pembenahan armada menjadi hal penting mengingat transportasi laut merupakan kebutuhan utama masyarakat di wilayah kepulauan seperti Maluku.

DPRD Maluku Bentuk Dua Pansus Bahas Ranperda Investasi dan OPD

0

Ambon, Maluku.news – DPRD Provinsi Maluku menggelar rapat paripurna dalam rangka pembentukan dua panitia khusus (pansus) untuk membahas dua rancangan peraturan daerah (ranperda) usulan Pemerintah Provinsi Maluku, Kamis (5/3/2026).

Rapat paripurna tersebut dipimpin Wakil Ketua DPRD Maluku, Fauzan Rahawarin, didampingi Ketua DPRD Maluku Benhur George Watubun, serta Wakil Ketua DPRD Maluku Johan Johanis Lewerissa.

Sidang berlangsung di ruang rapat paripurna DPRD Maluku pada masa persidangan kedua tahun 2026.

Dalam sambutannya, Fauzan menyampaikan bahwa pembentukan peraturan daerah merupakan bagian dari fungsi legislasi DPRD yang dilaksanakan bersama pemerintah daerah.

“Pembentukan peraturan daerah memerlukan pembahasan yang mendalam, komprehensif, dan partisipatif agar ranperda yang dihasilkan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat serta sejalan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” ujarnya.

Menurut Fauzan, DPRD memandang perlu membentuk panitia khusus agar pembahasan dua ranperda usulan pemerintah daerah dapat dilakukan secara lebih fokus dan terarah.

Ia berharap pansus yang dibentuk dapat bekerja secara efektif dan profesional serta melibatkan berbagai pihak terkait guna memperoleh masukan yang konstruktif dalam proses pembahasan.

Pembentukan pansus tersebut merujuk pada Surat Keputusan DPRD Provinsi Maluku Nomor 100.3.3.25 Tahun 2026 tentang Program Pembentukan Peraturan Daerah (Propemperda).

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Maluku telah menyampaikan dua ranperda kepada DPRD dalam rapat paripurna pada 19 Januari 2026 untuk dibahas dan mendapatkan persetujuan.

Dua ranperda tersebut yakni Ranperda tentang perubahan atas Peraturan Daerah Provinsi Maluku Nomor 6 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Provinsi Maluku, serta Ranperda tentang pemberian insentif dan/atau kemudahan investasi.

Fauzan menjelaskan, sesuai Tata Tertib DPRD Provinsi Maluku Nomor 1 Tahun 2025 Pasal 104 ayat (1), DPRD dapat membentuk alat kelengkapan lain berupa panitia khusus apabila diperlukan.

“Sebagai hasil rapat pimpinan dewan bersama para ketua fraksi pada 19 Januari 2026, disepakati pembentukan dua pansus untuk membahas dua ranperda usulan pemerintah daerah tersebut,” katanya.

Ia berharap melalui kerja pansus, proses pembahasan ranperda dapat berjalan lebih terarah sehingga menghasilkan peraturan daerah yang berkualitas, implementatif, serta mampu menjawab kebutuhan pembangunan daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Maluku.

DPRD Maluku Gelar Buka Puasa Bersama Pererat Silaturahmi

0

Ambon, Maluku.news – DPRD Provinsi Maluku bersama jajaran Sekretariat DPRD menggelar kegiatan buka puasa bersama di Rumah Rakyat Karang Panjang, Ambon, Rabu (4/3/2026).

Ketua DPRD Maluku, Benhur George Watubun, mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus meningkatkan iman dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa selama bulan suci Ramadan.

“Momentum buka puasa bersama ini adalah wujud kebersamaan kita untuk menjaga tali silaturahmi, sekaligus meningkatkan iman dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bulan puasa merupakan waktu yang tepat untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan,” ujar Watubun.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut tidak hanya bermakna bagi umat Muslim, tetapi juga mencerminkan semangat kebersamaan seluruh keluarga besar DPRD Maluku dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai wakil rakyat.

Watubun juga mengajak seluruh pimpinan dan anggota DPRD, Sekretaris DPRD, serta staf sekretariat untuk terus menjaga kebersamaan dan meningkatkan kualitas keimanan dalam menjalankan tugas.

“Atas nama pimpinan dan anggota DPRD, saya mengajak kita semua untuk terus meningkatkan iman dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta menjaga silaturahmi bersama Sekretaris Dewan dan seluruh staf, sehingga kita dapat menjalankan tanggung jawab dengan baik hingga menyambut Hari Raya Idulfitri,” katanya.

Ia berharap melalui kegiatan tersebut, umat Muslim di Maluku, khususnya keluarga besar DPRD Maluku, dapat menjalankan ibadah puasa dengan penuh kesungguhan hingga akhir Ramadan.

“Kami berharap kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi benar-benar menjadi sarana untuk memperkuat iman dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,” tutup Watubun.