Ambon, Maluku.News – Sebut nama Kampung Welora di Pulau Dawera, banyak yang kernyit dahi. Padahal, letaknya satu gugus dengan Pulau Marsela yang terkenal di Maluku Barat Daya.
Bayangkan, di kampung yang jauh dari bising kota itu, seorang bocah kelas 6 SD bermain dengan telepon genggam. Hasilnya, dia bikin video komedi durasi dua menit. Semua tertawa melihat karyanya yang jenaka. Begitulah sebuah peristiwa kecil di tahun 2015.
Tidak ada yang tau, sepuluh tahun kemudian, si bocil dari pulau terpencil itu muncul di Amsterdam. Film pendek “Bisikan Sunyi” yang dia kerjakan dengan tim di Ambon tahun 2025 telah membawanya ke Negeri Belanda, tahun itu juga.
Begitulah secuil lompatan kisah hidup Produser dan Sutradara muda Geraldy Laimera (23). Dari kampung dia ke kota, dari tidak ada dia jadikan ada, dari malu-malu dia bangun rasa percaya diri.
Walau merantau dan sudah jadi Nyong Ambon Manise, Geraldy tak lupa kampung halaman di Barat Daya. Sewaktu berusia 18 tahun, dia mendirikan wadah untuk produksi film, Welora Picture, diambil dari tanah kelahirannya. Dari sini, dia buka jalan memasuki dunia sinematografi.
Selain produksi video, Welora Picture sudah menghasilkan beberapa film pendek. Tersebutlah film-film itu, “SodaraH Seng Sedarah” (2023), “Beta Deng Salawaku” (2023), “Bisikan Sunyi” (2025), dan paling baru “Arika Nusa” (2026)
DARI MALU-MALU
Kisah Geraldy mirip cerita banyak sutradara besar di dunia. Bermula dari coba-coba, peralatan terbatas, dan otodidak. Usianya 12 tahun saat berstatus pelajar SMP Negeri 1 Ambon (2015) ketika sang ayah Max Laimera dan Ibu Welly Japeky, membelinya sebuah handycam. Dengan modal handycam, dia mencoba bikin beberapa film pendek.
“Satu saja yang dirilis di youtube. Beberapa yang lain disimpan saja. Malu publikasi,” cerita Geraldy.
Gagasan pendirian Welora Picture muncul karena bersama dua rekannya Jo Walupy (talent coordinator) dan Richard Putlely (Co Founder), mereka mendaftar untuk lomba video.
Video pertama produksi Welora Picture adalah tentang Sejarah Injil Masuk Welora. Video durasi 7 menit, dengan reka adegan. Semuanya anak muda, pengambilan gambar di Ambon.
Tahun 2021, ada lomba di TVRI berupa video layanan masyarakat soal Covid 19. Geraldy dkk sungguh bangga bisa meraih juara pertama. Video itu pun menjadi iklan tetap di TVRI Maluku selama tiga bulan.
“Karena sudah juara, katong mulai berani berkarya dan seng malu-malu lai,” ungkap Geraldy.
Welora Picture lantas berpartisipasi dalam Festival Film Pendek AMGPM (2022). Film Dokumenter mereka “Dari Sapanggal Maluku” masuk nominasi best actor dan best film.
Selain itu, Welora Picture juga membuat video “Membangun Negeri”, dan “Iklan Minyak Kayu Putih”, bersama Indihome Pusat. “Membangun Negeri” masuk 15 Besar. Video mereka Benteng Jerikho berisi Permainan Benteng.
MODAL Rp500 RIBU
Tahun 2022, Welora Picture memproduksi “SodaraH Seng Sedarah”. Geraldy bercerita, film ini dikerjakan dengan biaya Rp500 ribu saja. Semua kru dan talent tidak dibayar. Ternyata film ini dinobatkan sebagai film terbaik pilihan penonton, sedangkan Aditya Romuty menjadi aktor terbaik.
Lembaga Total Molukks di Belanda ternyata tertarik pada karya Welora Picture. Mereka minta “Sodara Seng Sudara” diputar di Belanda. film ini pun masuk festival film bulanan di berbagai kota di Indonesia baik di Maluku, Papua, dan Maluku Utara.
Geraldy senang karena setelah itu, dia bisa ikut workshop pembuatan film, tahun 2023. Inilah pengalaman pertama belajar produksi film dari para filmmaker asal ibukota Jakarta.
“Senang tahun 2023 bertemu Kakak Irfan Ramly. Kakak Irfan memberi masukan-masukan tentang produksi film,” ungkap Geraldy.
Tahun 2023, Geraldy dkk bikin “Beta dan Salawaku” untuk festival Budaya Beta di Taman Budaya Maluku. Sayangnya, mereka kena diskualifikasi karena lewat deadline. Namun Total Molukks kembali minta untuk distribusi dan putar di Belanda, juga di Museum Maluku, dan Festival Mena Lala.
Setahun kemudian, di tahun 2024, Film Anti Korupsi KPK, masuk 10 besar untuk ide cerita. Dari sini, kembali Geraldy dan Aditya ikut workshop di Ambon, dengan pemateri Irfan Ramly. Tahun ini pula, “Beta dan Salawaku” masuk festival film budaya di Bali.
Setelah di Bali, Total Molukks memilih “Beta dan Salawaku” untuk ikut festival di Amsterdam, tahun 2025. Dan akhirnya, “Bisikan Sunyi”, pun dikerjakan dengan sponsor dana Total Molukks. Inilah kesempatan Geraldy menjadi pembicara dalam acara Sinema Maluku di Amsterdam, dan roadshow empat kota di Belanda
Tahun 2026, Museum Arhnem dan UNESCO, membuat Festival Baku Dengar, khusus untuk Indonesia yakni Maluku, Papua, dan Yogyakarta. Temanya tentang isu perempuan dan lingkungan. Sebab itulah Welora Picture memproduksi “Arika Nusa” yang ditayangkan dalam Festival Baku Dengar di Museum Arhnem.
MIMPI BESAR

Geraldy mengaku senang bisa bekerja sama dengan timnya sebanyak 20 personil dengan berbagai latar belakang. Dia sebut, film “Saudara Seng Sudara”, adalah produksi yang berat karena makan waktu lama, dana terbatas, tidak tahu banyak hal, dan tidak punya pengalaman.
Bujangan kelahiran Welora, 31 Maret 2003 ini adalah anak pertama dari dua bersaudara. Tidak sia-sialah orang tua membelinya handphone dan handycam yang dipakainya secara kreatif untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.
Ada sebuah mimpi yang kini dikejar Geraldy yakni sekolah. Dia ingin kelak bisa sekolah film, meskipun pendidikan terakhirnya di Jurusan Keperawatan Fakultas Kesehatan Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) Ambon. Selain itu, dia bermimpi bisa ikut festival besar.
“Beta ingin masuk Festival Film Indonesia dan Festival Film Internasional,” ucap Geraldy Laimera, sang sutradara muda yang baru saja selesai wisuda strata satu di kampus UKIM, 15 Juni 2026. (Maluku.New/Teks Rudi Fofid/Foto Juand Wohel)



