Beranda blog Halaman 31

DPRD Maluku Dukung Program Pemutihan Pajak Kendaraan

0

Ambon, Maluku.news – DPRD Provinsi Maluku memberikan dukungan penuh atas upaya pemerintah provinsi Maluku untuk meningkatkan pendapatan daerah, melalui program pemutihan tunggakan pokok dan denda pajak kendaraan bermotor (PKB) dan bea balik nama kendaraan bermotor kedua (BBNKB 2) tahun 2025.

“Karena hal ini merupakan salah satu rekomendasi DPRD, jadi kita dukung penuh,”ungkap Ketua DPRD Maluku, Benhur Watubun kepada awak media di kantor Gubernur, Rabu (14/05/25).

Menurutnya, program ini harus disebarluaskan kepada seluruh masyarakat yang memiliki kendaraan. Untuk itu, instansi penyelenggara dalam ini Dinas Pendapatan diminta untuk melakukan sosialisasi secara lebih luas, termasuk membagikan sticker serta alat peraga sosialisasi lainnnya terkait program ini.

“Saya minta untuk instansi yang berkepentingan untuk segera bersosialisasi, tidak cukup dengan 50 buah sticker, kemudian pamflet, tetapi minimal para pemilik mobil atau kendaraan bermotor, mereka kan punya nomor tlpon ada.

Jadi harus ada SMS, penggunaan media sosial termasuk sarana lainnya, sehingga seluruh warga masyarakat tahu. Sehingga dengan penghapusan ini semua orang akan datang semua,”ucapnya.

Ia mengimbau kepada seluruh masyarakat Maluku yang punya kendaraan bermotor, bahkan yang tidak punya kendaraan, agar patuh, sampaikan informasi publik ini kepada semua orang. Biarlah mereka menyadarkan diri atau tergerak hati untuk membawa kendaraannya untuk segera mungkin mereka bisa membayar pajak.

Apalagi menurutnya, bayar pajak kendaraan tidak dikenakan denda, tentu sangat membantu dalam mengurangi beban. Sehingga hal ini harus benar-benar dapat dimanfaatkan dengan baik

“Bayar pajak cukup satu tahun, seluruh biaya lain tidak dikenakan lagi. Karena itu, dengan penghapusan pajak ini, maka orang yang memiliki 3 mobil, silahkan bawa datang untuk lalu menyelesaikan. Kan tidak ada lagi denda, bagus ini kegiatan yang harus didukung, ini langkah baik, ini juga rekomendasi DPRD,”tandasnya.

Eko and The Rua Lego Lagu “Mantan Toxic”

0

eko1
Ambon, Maluku.news
– Penyair Eko Saputra petik ukulele, penyanyi Marissa Mauren Pattiwaelapia (Ica) juga petik ukulele. Penyanyi lain Filia Pattinasaranny (Pia) main gitar. Trio bernama Eko and The Rua itu meluncurkan tembang pertama mereka berjudul “Mantan Toxic”.

Acara premiere “Mantan Toxic” diberi tajuk Lego Lagu digelar di Kafe Bahasa Basudara, Ambon, Selasa (13/5). Dua penyair Maluku Rudi Fofid dan Dino Umahuk dihadirkan untuk acara membahas “sastra dan musik” mendahului peluncuran video musik tersebut.

Syair lagu “Mantan Toxic” ditulis Eko Saputra Poceratu. Musik digarap Mickhen Leinussa di T’nesse Studio, sedangkan produksi video dikerjakan Rocky Tahapary.

Shoting video di SMK Negeri 1 Ambon melibatkan sejumlah siswa SMK, antara lain Christo Pattinasarany, Geradline Wattimena, dkk. Pilihan remaja SMK, menurut Eko, sesuai tema lagu cinta remaja. Bintang klip Christo Pattinasarany juga terlibat mengisi musik piano di Studio T’nesse.

Dalam sesi stori ringan-ringan tentang sastra dan musik, Rudi Fofid sebagai pemantik menyebutkan, keintiman sastra dan musik sudah sangat tua di dunia. Kitab suci Perjanjian Lama disebutnya terutama mazmur adalah bukti keintiman syair dan musik.

“Sastra dan musik tidak terpisahkan,” kata Rudi.

Menurut Rudi, Panitia Nobel di Norwegia pernah memberi Penghargaan Nobel Sastra kepada musisi Bob Dyllan, yang lagu-lagunya dinilai sangat sastrawi.

Dino Umahuk menyatakan ada banyak sekali lagu di Indonesia yang dikerjakan secara kolaboratif antara penyair dan musisi.

Menurut Dino, hubungan intim sastra dan musik dapat ditemukan dalam musik-musik Maluku. Banyak lagu Maluku digarap dari akar budaya Maluku.

“Album Beta Maluku oleh Molukka Hiphop Community, menggarap kapata asli Maluku,” kata Dino.

Videomaker Rocky Tahapary mengaku senang menggarap video musik ini. Walau baru kenal Eko and The Rua, ia menemukan chemistry bersama ketiga sosok tersebut

Eko, Filia, dan Marissa juga merasa nyaman bekerja dengan Rocky Tahapary, Mickhen Leinussa dan seluruh tim.

Beberapa penanggap dalam diskusi di Kafe Basudara memberi apresiasi positif terhadap “mantan toxic”. Mereka berharap Eko And The Rua bisa memproduksi karya berikut lagi.

LIRIK MANTAN TOXIC

(Lirik Eko Saputra Poceratu
Vokal Eko and The Rua)

Beta rasa, ini saatnya
se barenti, lupakan dirinya
sudah cukup, cukup sudah
galau jua ada batasnya

buka itu, mata hati
cinta itu dari hati
cukup jua stengah mati
masa muda katong nikmati

lebe bae se patah cengkeh
daripada patah hati
hapus itu aer mata
putus cinta itu biasa

lebe bae bale papeda
daripada mantan
mantan toxic, stop bausik
beta sudah lebe bae

kalo mantan minta bale
suruh dia lakas bale
jalang putar atau lurus
asal jangan coba modus

beta rasa, ini saatnya
se berkarya, jadi cahaya
hidup cuma satu kali
jangan bodoh dua kali
(Maluku.news)

Pemkot Ambon Gaungkan Kolaborasi dan Budaya di Munas VII APEKSI

0

Ambon, Maluku.news – Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon hadir penuh semangat dan strategi pada Musyawarah Nasional (Munas) VII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) yang digelar di Surabaya, 6–10 Mei 2025.

Munas bergengsi ini menjadi ajang penting bagi Ambon untuk memperkuat kolaborasi lintas daerah, mempromosikan potensi unggulan, hingga memperkuat posisi sebagai kota yang aman, terbuka, dan inklusif di tingkat nasional.

Plt. Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Kota Ambon sekaligus Juru Bicara Pemkot Ambon, Ronald Lekransy, menegaskan Munas APEKSI bukan sekadar seremonial tahunan, tetapi ruang strategis untuk merumuskan masa depan bersama kota-kota di Indonesia.

“Munas APEKSI ini adalah ruang belajar bersama, tempat lahirnya ide-ide cemerlang dan solusi nyata. Ambon hadir bukan hanya sebagai peserta, tapi sebagai mitra dalam perubahan,” kata Lekransy dengan nada optimistis dala siaran pers yang diteroma media ini, Minggu (10/05/2025).

Mengusung tema “Dari APEKSI untuk Negeri”, Munas VII APEKSI menghadirkan sejumlah agenda penting, mulai dari diskusi kebijakan pembangunan kota, Indonesia City Expo, hingga forum bisnis internasional.

Pada kesempatan ini, delegasi Kota Ambon tampil menonjol dengan mempromosikan tiga sektor andalan: jasa, perdagangan, dan pariwisata.

“Kami membawa pesan bahwa Ambon adalah kota yang aman, nyaman, dan terbuka untuk investasi. Kami ingin tumbuh bersama kota-kota lain di Indonesia,” tambah Lekransy.

Menurutnya, promosi ini sejalan dengan visi Kota Ambon menjadi kota inklusif, toleran, dan berkelanjutan sebagaimana tercantum dalam RPJMD 2025–2029.

Puncak Munas ditandai dengan parade budaya, yang menjadi magnet perhatian ribuan peserta dan pengunjung. Delegasi Kota Ambon tampil memukau dengan kostum etnik penuh warna, tarian tradisional, dan iringan musik khas Maluku.

Dalam ajang Indonesian International Arts Festival yang menjadi bagian dari Munas, Kota Ambon bahkan diganjar penghargaan Penampilan Personil Terbaik, bukti kreativitas dan kekuatan budaya yang dimiliki.

“Ini bukan hanya soal penghargaan, tapi juga tentang memperkenalkan wajah budaya Ambon kepada Indonesia bahkan dunia,” kata Lekransy.

Ia menekankan, sektor budaya tak hanya berfungsi sebagai warisan leluhur, tetapi juga sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang berdampak nyata bagi masyarakat.

Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, hadir langsung memimpin delegasi, didampingi Ketua TP PKK Kota Ambon, Lisa Wattimena, serta sejumlah pejabat pemkot.

Wattimena menegaskan, keterlibatan Kota Ambon dalam Munas APEKSI adalah wujud komitmen untuk membangun kota melalui semangat kolaborasi dan persatuan.

“Tugas kita belum selesai. Munas boleh usai, tapi semangat untuk kalesang (merawat) dan bangun Ambon harus terus menyala,” ujar Wattimena penuh semangat.

Beta par Ambon, Ambon par samua – Ambon ini milik semua orang, dan mari kita jaga bersama.”

Ia berharap, seluruh pengalaman, masukan, dan jaringan kerja sama yang diperoleh dari Munas dapat diterjemahkan menjadi program konkret demi kesejahteraan masyarakat Kota Ambon.

Lebih jauh, Ronald Lekransy menambahkan bahwa Pemkot Ambon bertekad memastikan hasil Munas APEKSI tidak berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar diterapkan melalui kebijakan daerah.

“Kami tidak ingin kegiatan seperti ini hanya menjadi ajang seremonial. Yang lebih penting adalah bagaimana hasilnya bisa dirasakan masyarakat,” tegasnya.

Pemkot Ambon juga menyampaikan komitmennya untuk memperluas ruang partisipasi masyarakat, mendorong investasi yang berkelanjutan, serta menjaga stabilitas sosial dan budaya.

Dengan semangat “Ambon par samua”, pemerintah kota berharap seluruh elemen masyarakat dapat terus bersatu menjaga, merawat, dan memajukan kota ini menjadi lebih inklusif, ramah, dan tangguh menghadapi tantangan masa depan.

Rahasia Suster Brigita Renyaan (2): Bikini, Jihad, Coker, dan Target Teror

0

Laporan Rudi Fofid-Ambon

Ambon, Maluku.news – Brigita Renyaan sempat dicap tidak cocok jadi biarawati karena kaki panjang, banyak keluar biara. Ternyata ia tetap jadi biarawati, dan benar, banyak aktivitas di luar biara.

Di luar biara, ia melakukan banyak hal yang tidak biasa dilakukan seorang biarawati. Pakai bikini renang di depan umum, misalnya. Ia pun sanggup melakukan beberapa hal yang tidak sanggup dilakukan orang awam, termasuk kaum lelaki.

Berikut ini lanjutan kisah Suster Brigita. Beberapa di antaranya sempat tersimpan sebagai rahasia. Akan tetapi setelah waktu berlalu, ia tidak keberatan untuk dibuka. Maluku.news merangkumnya dari pengalaman berjalan bersama selama bertahun-tahun.

4. Jadi PNS Tanpa Tes

Setelah menjadi biarawati dan guru, Suster Brigita kuliah sampai meraih gelar sarjana di Universitas Pattimura. Aktivitasnya selalu di Jalan Pattimura sebab di ia tinggal di Biara PBHK, mengajar di SD Xaverius, dan terlibat di Paroki Katedral.

Di tengah kesibukannya, ada saja utusan pejabat pemerintah datang menemuinya. Mereka minta fotokopi ijazah dan transkrip nilai. Suster sempat bertanya, untuk apa berkas itu. Ia mendapat penjelasan tidak memuaskan tetapi tetap saja berkas itu ia serahkan.

Lain waktu, utusan pejabat pemerintah itu minta pasfoto, minta fotokopi KTP, dan sebagainya. Suster kembali menanyakan kepentingan apa, mereka menjawab saja bahwa untuk kepentingan suster.

Belakangan, turunlah SK Pengangkatannya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Hal ini mengejutkan sebab sebagai biarawati Katolik, ada aturan yang membatasinya. Melalui pendekatan dengan Uskup Andreas Sol serta pimpinan PBHK Indonesia, akhirnya ia mendapat izin menjadi PNS.

Bagi Brigita, menjadi PNS atau tidak, sama saja. Ia tetap mengajar sebagai guru. Bertahun-tahun ia setia di depan kelas mengasuh anak-anak, membina iman dan mental mereka.

Dari segi finansial, juga sama saja sebagai PNS atau non PNS. Sebab gaji sebagai PNS dan seluruh pendapatannya tidak ia pakai. Semuanya diserahkan ke bendahara konggregasi PBHK, tempatnya bernaung. Bagi para biarawati, hal semacam ini sudah biasa.

Setelah malang-melintang sebagai biarawati yang PNS, Suster Brigita kemudian ditarik dari sekolah. Ia ditempatkan di Dinas Pendidikan dan Olahraga Kota Ambon, sampai pensiun.

“Mungkin ini pertama kali di Indonesia, seorang biarawati masuk kantor pemerintahan dengan busana biarawati,” tulis Suster Brigita di akun facebooknya, baru-baru ini.

5. Andalkan Kerudung Demi Pengungsi Buru

Sebagai biarawati aktivis, Suster Brigita mendapat izin tinggal di luar biara. Bahkan, ia pun mendapat izin tidak mengenakan busana biarawati di depan umum, untuk pertimbangan tertentu.

Suster tidak berkerudung ketika hampir 20 keluarga asal Pulau Buru datang di rumahnya di samping Pabrik Roti Sarindah. Mereka mengeluh betapa sulitnya mereka mengurus bantuan di Dinas Sosial Provinsi Maluku. Bahkan, nama mereka pun belum terdaftar sebagai pengungsi karena berkas belum lengkap.

Suster pun tergerak. Ia meminta berkas yang sudah disiapkan lalu bersama pengungsi menuju Dinas Sosial di Karangpanjang. Ternyata benar. Petugas di sana menyuruh antri karena masih urus pengungsi yang lain. Sudah menunggu lama, diminta lagi, esok saja baru kembali. Ketika kembali, petugas meminta lagi sejumlah surat keterangan dari lokasi asal. Pengungsi pusing, sebab bagaimana mengurus surat keterangan dari tempat yang mereka tinggalkan nun di Buru sana?

Karena sudah tiga hari bolak-balik dan tetap saja berkas pengungsi asal Buru itu masih ditolak, suster hampir habis kesabarannya. Ia pun menghadap Kepala Dinas, menyampaikan rumitnya pendaftaran pengungsi di Dinas Sosial.

Kepala Dinas pun memanggil petugas dimaksud. “Mengapa berkas pengungsi Buru ini tidak diterima, padahal suster sudah tiga hari menghadap anda?” Tanya sang kadis.

Petugas itu berkelit. Sepanjang tugasnya, tidak pernah seorang biarawati datang berurusan dengannya.

Meskipun menerima berkas pengungsi Buru dari Suster Brigita, petugas itu masih ngomel.

“Kalau urusan begini, langsung saja di meja saya, jangan main tembak langsung ke kepala dinas,” kata petugas itu.

Suster menjelaskan, lantaran sudah tiga hari ditolak, makanya suster ke kepala dinas. Sang petugas kembali ngotot tidak pernah urusan dengan suster, sebelum ini.

“Hari ini baru saya datang dengan busana biarawati. Tiga hari kemarin saya datang dengan pakaian preman,” jelas suster.

Petugas itu kemudian meminta dimaklumi, karena tidak kenal suster dalam tiga hari itu.

“Kalau pakai pakaian begini, kan saya bisa kenal dan langsung proses. Maaf, kemarin itu suster tidak tampil begini, jadi saya tidak tahu,” kata sang petugas.

Mendengar itu, suster meter kandas.

“Oh, jadi rakyat biasa yang datang tanpa atribut, tanpa koneksi, semuanya tidak perlu dianggap sebagai manusia yang harus dilayani?” Begitulah Suster menghardik petugas itu.

Alhasil, para pengungsi Buru itu akhirnya bisa dilayani sampai memperoleh hak-haknya.

6. Bangun PAUD dengan Modal Rp50 Ribu

Suster Brigita sempat berkantor di Jalan Rijali, Ambon. Ia mendapat pinjaman bangunan milik pengusaha Josep Lokan secara cuma-cuma.

Karena bertahun-tahun ia selalu dekat dengan dunia anak-anak, maka terpikir olehnya untuk membangun PAUD di tempat itu. Akan tetapi, Suster masih menunda operasional PAUD. Alasannya, ia belum punya cukup dana untuk membayar para pengajar di PAUD.

Kerinduan membuka PAUD itu akhirnya dilontarkannya kepada kerabatnya Keety Renwarin. Keety bertanya, kendala di mana, Suster menjawab, dia belum punya uang untuk membayar honor dan ongkos transport para instruktur PAUD.

“Di dompet Suster ada berapa rupiah?” Tanya Keety.

Suster membuka dompetnya sambil tertawa. Hanya Rp50 ribu. Keety menyambar uang biru itu lalu pergi. Esoknya Keety kembali dengan makanan ringan dalam kemasan yang diproduksinya sendiri.

Setiap hari Suster dan stafnya menjual makanan ringan itu. Setelah beberapa kali produksi dan penjualan berhasil, Suster sudah punya modal awal untuk membayar transportasi dua pengajar PAUD.

PAUD Kasih Mandiri itu pun akhirnya beroperasi selama lebih sepuluh tahun sampai Suster pindah dari Ambon ke Kei.

7. Dihadang Laskar Jihad

Dalam suasana konflik di Ambon, Suster Brigita meminta izin Kepala SD Xaverius, tempatnya mengajar untuk sementara dirinya tidak aktif di sekolah.

“Anak-anak Ambon butuh trauma healing,” jelasnya.

Suster pun mengunjungi anak-anak di berbagai tenda pengungsi.

Suatu ketika, Suster mempertemukan anak-anak Muslim dan anak-anak Kristen di satu tempat untuk bisa bermain bersama. Ketika anak-anak Kristen sudah berada di lokasi yang ditentukan, Suster pergi menjemput rombongan anak-anak Muslim di Batumerah.

Semuanya berjalan mulus. Tetapi tiba-tiba, dalam perjalanan, muncullah seorang pria berbadan besar mengenakan busana laskar dengan pedang panjang. Suster langsung yakin, lelaki itu adalah anak buah Panglima Laskar Jihad Jafar Umar Thalib.

“Mau bawa anak-anak Muslim ke mana?” Tanya pria itu.

“Mau pertemukan dengan anak-anak Kristen,” jawab Suster.

“Tetapi mereka Muslim. Untuk apa bawa mereka ke wilayah Kristen?” Tanya lelaki itu lagi.

“Ya, kalian orang dewasa perang, dan mereka ini hidup dalam ketakutan dan trauma. Jadi saya bawa mereka untuk hilangkan ketakutan itu. Apa tidak boleh?” Tanya Suster.

Lelaki itu memandang sebentar. Ia melihat anak-anak Muslim berlindung di belakang Suster. Sejenak kemudian barulah dia bicara tegas.

“Boleh bawa mereka. Tetapi awas! Jangan sampai kami dengar ada Kristenisasi!” Ucapnya.

“Kristenisasi apa? Saya sudah biasa dengan anak-anak Muslim. Tidak ada satu pun diajak masuk Kristen. Nanti di sana pun, bersama saya ada kawan-kawan saya yang Muslim ikut mendampingi mereka,” jawab Suster.

Mendengar itu, sang pria bersorban itu pun berlalu. Suster dan anak-anak Muslim pun melanjutkan perjalanan sampai tujuan dengan selamat.

(Bersambung)

Via Facebook, Figur Islam dan Protestan Maluku Antusias Sambut Paus Leo XIV

0

Penulis Rudi Fofid-Ambon

Ambon, Maluku.news – Habemus Papam! Viva Il Papa! Dua frasa ini selalu dicetuskan setelah asap putih mengepul dari corong Kapel Sistina, Vatikan. Demikian pula ketika Kardinal Robert Francis Prevost terpilih sebagai Paus menggantikan Paus Fransiskus. Frasa habemus papam pun langsung jadi viral.

Dengan ‘keajaiban’ media massa dan media sosial, peristiwa di Vatikan langsung merebak ke seantero jagat. Dunia merespon dengan beragam cara. Ucapan selamat mengalir bagai arus deras dari segala penjuru.

Dari Indonesia khususnya Maluku, ucapan selamat berseliweran di media sosial. Dari sekadar ucap selamat, sampai pada yang memberi apresiasi. Media Online Maluku Post menghimpun postingan di facebook dari beberapa sosok Maluku.

Beberapa sosok Islam dan Protestan Maluku yang sempat dihimpun antara lain Syamsul Notanubun, Kee Enal, Rudy Lailossa, Pendeta Jacky Manuputty, Mercy Barends, Pendeta Sonny Hetharia, dan Yudit Tiwery.

SYAMSUL NOTANUBUN-AKTIVIS KEMASYARAKATAN
sam notanubun
Aktivis Syamsul Notanubun di Ambon, mengucapkan selamat dengan lebih dulu menulis Habemus Papam dengan huruf kapital, ditambah tiga emotikan hormat.

“HABEMUS PAPAM..
Selamat kepada seluruh Umat Katolik Sedunia atas terpilihnya Kardinal ROBERT FRANCIS PREVOST sebagai Paus Leo XIV. Paus pertama dari Amerika Serikat yang selama ini memperjuangkan isu-isu ketidakadilan, kaum marginal dan Buruh migran.
_Servi Deo et Humanitati Fideliter_ (Serve God and Humanity Faithfully)

BUNG KEE ENAL-AKADEMISI IAIN AMBON
kee enal
Akun Bung Kee Enal memberi semacam judul di awal postingannya: SELAMAT PAUS LEO XIV.

Selanjutnya ia menyebut, asap Putih mengepul menyusul Lonceng Basilica berdentang menandai terpilihnya Pemimpin umat Katolik mondial yang baru, Paus baru, pasca 33 jam Konkaf berlangsung. Paus ke-267 itu adalah Cardinal Robert Francis Prevost, 69 tahun, asal Amerika, berkebangsaan Peru. Mengikuti tradisi, Paus baru memilih nama Paus Leo XIV.

Akademisi di Kampus IAIN Ambon itu kemudian menyampaikan selamat dan harapannya.

“Selamat kepada Paus Leo XIV. Dunia menunggu uluran tangan kasihmu. Selamat juga buat umat Katolik mondial atas terpilih pemimpin umat yang baru,” tulis Kee Enal.

Dia melanjutkan tulisannya bahwa: “Dari beberapa pesan awalnya kepada umat Katolik dan warga mondial, Paus mengajak untuk membangun “jembatan” dialog dan perdamaian dunia tanpa senjata. Kedua pesan ini terang menjelaskan respons serius Paus Luis XIV terhadap realitas kehidupan modial hari ini yang menegang akibat perang di beberapa belahan mondial (Israel-Palestina, Rusia-Ukraiana, India-Pakistan, termasuk “perang tarif”).”

Menurut Kee Enal, tampak Paus Leo XIV sungguh prihatin dengan dampak yang diakibatkan oleh perang-perang tersebut.

“Terhadap kelangsungan manusia dan nilai-nilai kemanusiaan, terhadap keberlangsungan hidup dan kualitas kehidupan, terhadap keberadaban dan tatanan peradaban yang niscaya.” Urainya.

Ditekankan, pesan paus itu menjadi suntikan nutrisi sangat penting guna mendorong kerja-kerja dialog dan perdamain sebagai pilihan jalan terbaik untuk membangun tatanan dunia yang berperikemanusiaan, berkeadaban, berkeadilan, berkesetaraan, damai, dan berkelanjutan.

“Saya jadi teringat dengan sebuah pesan bertuah dari Huns Kung. Bahwa, ‘tidak akan ada perdamaian dunia tanpa perdamain antaragama. Dan tidak akan ada perdamaian antaragama, tanpa dialog antara (umat) agama-agama”. Demikian Kee Enal.

RUDY LAILOSSA-SENIMAN DAN POLITISI
Rudy Lailossa
Artis dan politisi Rudy Lailossa di Maluku Tengah menulis di akun FB Rudy Lailossa Lohy. Ucapannya singkat sekaligus berbeda dari kebanyakan orang.

“Selamat datang bapa suci. Fiat Voluntas Tua”. Begitulah Rudy menulis dengan huruf kapital.

Fiat Voluntas Tua adalah kalimat dalam Bahasa Latin, yang dikutip dari Doa Bapa Kami. Kalimat itu berarti “Jadilah kehendak-Mu”.

JACKY MANUPUTTY-KETUA UMUM PGI
Jacky
Dari Jakarta, Ketua Umum PGI Pendeta Jacky Manuputty menulis, bahwa: “Kabar terpilihnya Paus bukan sekadar seremoni religius, tapi gema profetik yang menembus batas doktrin dan dogma”.

Manuputty melanjutkan, Gereja Katolik kembali menunjukkan bahwa spiritualitas yang hidup adalah spiritualitas yang terus menimbang dunia bukan untuk menaklukkannya, tapi untuk menebusnya.

“Atas nama Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, saya menyampaikan apresiasi mendalam,” tulis Manuputty.

Dia berharap, semoga suara Paus yang baru menjadi suara hati nurani dunia yang tajam menegur ketidakadilan, lembut mengusap luka umat manusia untuk melanjutkan jejak sebagai jembatan damai dunia, menembus sekat-sekat perbedaan, menggaungkan keadilan, dan memeluk kemanusiaan.

“Dalam perjalanan ekumenis yang panjang dan hangat bersama PGI, saya percaya: dunia masih bisa disembuhkan oleh kasih yang berpikir, dan oleh iman yang merangkul,” pungkasnya.

MERCY BARENDS, ANGGOTA DPR RI
mercy
Masih dari Jakarta, anggota DPR RI Mercy Barends menulis di akun FB.

“HABEMUS PAPAM: KITA MEMILIKI PAUS”

Di bawah kalimat itu, Bareds kemudian memberi apresiasinya.

“Saya seorang Protestan namun sangat antusias dan mengikuti berita terkait Konklav pemilihan Paus ‘Bapa Suci Katolik’. Kereeen banget proses pemilihannya. Dengan asap putih membumbung tinggi ke udara dari cerobong asap Biara Sistina, maka pemilihan Paus telah tuntas.” Demikian Barends.

SONNY HETHARIA-REKTOR UKIM
SOnny

Kembali ke Ambon, dari Tanah Lapang Kecil, Rektor Universitas Kristen Indonesia (UKIM) Pendeta Sonny Hetharia mengawali responnya dengan antusias.

“Akhirnya: HABEMUS PAPAM…
Kardinal Robert Francis Prevost terpilih sebagai Paus Leo XIV. Suara Tuhan melalui para kardinal, telah memilih Kardinal yg tidak pernah diprediksi oleh siapapun sebagai calon Paus pengganti Paus Fransiskus…”

Hetharia menekannya hal itu, benar-benar pekerjaan Tuhan di dalam gereja-Nya dalam peristiwa Konklaf ini!

“Saya sebagai pendeta Gereja Protestan menyampaikan selamat kepada seluruh umat dan para rohaniawan gereja Katolik atas terpilihnya Paus Leo XIV. Allah Tritunggal lindungi dan kuatkan Bapa Paus dalam tugas-tugas memimpin dan melayani gereja Katolik dan negara Vatikan, serta memberkati kita semua… Amin! — merasa senang sekali.” Demikian Hetharia.

YUDIT TIWERY, AKADEMISI IAKN AMBON
yudit
Akun Yudit Tiwery milik akedemisi IAKN Ambon ini mula-mula menuliskan ucapan kepada umat Katolik di seluruh dunia.

“Kepada Umat Katolik di Seluruh Dunia. Selamat atas terpilihnya Robert Francis Prevost dengan nama baru Paus Robert Leo XIV sebagai pemimpin umat,” tulisnya.

Tiwery menyatakan, kepemimpinan Paus Leo XIV melanjutkan semangat perjuangan kemanusiaan Paus Fransiskus yang tiada henti mengedepankan belas kasih, keadilan, dan penghormatan bagi martabat semua ciptaan Tuhan.

“Sebagai seorang Protestan, saya turut berdoa agar Gereja Katolik tetap menjadi terang bagi yang terlupakan, suara bagi yang tertindas, dan jembatan perdamaian di tengah dunia yang terpecah,” lanjutnya.

Tiwery menutup komentarnya dengan harapan, “kiranya Roh Kudus memampukan Paus Leo XIV untuk membawa harapan baru dan menginspirasi kita semua, lintas iman, untuk bekerja sama demi kebaikan semesta.
Salve”. (Maluku.news)

Kota Tual Tampil Memukau di APEKSI 2025: Budaya Kei Jadi Sorotan Nasional

0

Surabaya, Maluku.news – Kota Tual mencuri perhatian publik dalam Karnaval Budaya APEKSI 2025 yang berlangsung meriah di Surabaya, Jumat malam (9/5), pukul 19.00–22.00 WIT. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Rakernas APEKSI ke-18, yang diikuti oleh 98 kota dan 5 kota administratif se-Indonesia.

Mengusung kekayaan budaya lokal, Pemkot Tual menggandeng Ikatan Mahasiswa Kei (IMKEI) Surabaya, masyarakat Kei setempat, Kepala OPD, serta komunitas seni Kaki Bajalang. Turut hadir memeriahkan barisan karnaval, Wakil Wali Kota Tual Amir Rumra dan Ketua TP-PKK Sany Salasa Rumra.

Tim Tual menampilkan tari tradisional Sosoi Yerik dan Sawat dalam balutan busana adat Kei, yang berhasil memukau ribuan penonton sepanjang rute karnaval. Tiba di garis akhir di depan Gedung Pemuda Kota Surabaya, mereka disambut langsung oleh Wali Kota Surabaya beserta isteri sebagai bentuk apresiasi atas penampilan luar biasa.

Selain menampilkan budaya, Kota Tual juga berpartisipasi aktif dalam Indonesia City Expo 2025, dengan memperkenalkan kuliner khas Kei dan produk kerajinan lokal.

Kebanggaan lainnya datang dari Mirza Alkatiri, pemuda asal Tual yang tergabung dalam tim Yutchangare. Ia sukses meraih penghargaan Best Performance di antara seluruh delegasi kota se-Indonesia.

Partisipasi Kota Tual dalam ajang nasional ini menjadi bukti komitmen pemerintah daerah dalam melestarikan budaya dan mempromosikan potensi lokal ke panggung nasional.

Rahasia Suster Brigita Renyaan (1): Bikini, Coker, Laskar, dan Target Teror

0

Penulis: Rudi Fofid-Ambon

Maluku.news – Brigita Renyaan adalah sosok biarawati Katolik Maluku nan menonjol di Indonesia. Beragam aktivitas membuatnya populer dan inspiratif. Ia menerima sejumlah penghargaan dari lembaga non Katolik. Tidak banyak yang tahu, Brigita punya rangkaian pengalaman manis, jenaka, getir, juga pahit.

Puteri purnawirawan polisi asal Sathean, Kei, Maluku Tenggara ini mengalami banyak peristiwa berat termasuk ancaman pembunuhan. Bertahun-tahun ia merahasiakan semua itu. Kini, setelah lama berlalu, ia tidak keberatan sebagian rahasia itu boleh dibuka.

Berikut ini fakta-fakta Suster Brigita yang jarang diketahui publik. Penulis menghimpunnya dari pengalaman berjalan bersama selama bertahun-tahun:

1. Tidak Cocok Jadi Biarawati

Ketika bersama sanak keluarga mulai membicarakan cita-cita masa depan, Brigita muda mengaku mau jadi biarawati. Mendengar itu, semua tertawa. Mereka mencibir. Alasannya, tipe perempuan seperti Brigita, tidak cocok jadi biarawati.

Setelah lulus Sekolah Pendidikan Guru (SPG), Brigita benar-benar bulat mau jadi biarawati. Orang tuanya mendukung penuh. Keluarga dan sahabat-sahabat mendukung tetapi olok-olok tetap berlanjut.

“Ko tidak cocok jadi suster. Kalau ko paksa juga, nanti ko jadi suster ‘bayal’. Suster itu tinggal dalam biara, tapi ko itu nanti jadi suster kaki panjang,” ujar seorang kerabatnya.

Meskipun dibilang begitu, Brigita tetap maju terus. Ia mengucapkan kaulnya sebagai anggota Tarekat Putri Bunda Hati Kudus (PBHK).

Setelah bertahun-tahun menjadi biarawati, Brigita menemukan dirinya benar seperti disebut kerabatnya, dulu. Banyak aktivitas dilakukan di luar biara, di berbagai provinsi di Indonesia bahkan ke luar negeri. Waktunya pun tidak singkat. Ada yang sehari dua, ada yang mingguan, namun tidak sedikit sampai berbulan-bulan bahkan melampaui tahun.

“Beta ternyata memang suster bayal,” akuinya pada suatu waktu.

Bayal dalam istilah Kei artinya banyak berjalan ke luar rumah, tukang baronda, kaki bajalang, hidup di jalan. Begitulah Brigita. Ia menikmati hidupnya sebagai “Suster Bayal”.

“Bayal saja, yang penting jelas, positif, demi banyak orang,” ujarnya.

2. Aktivis PMKRI, Demonstrasi, Bikini

Setelah menjadi biarawati, Suster Brigita mengajar di SD Xaverius Ambon. Sambil mengajar, ia pun kuliah Bimbingan Konseling di FKIP Universitas Pattimura, Ambon. Waktu itu, Suster Brigitta dan Suster Anna Rumangun adalah dua mahasiswa berkerudung yang selalu terlihat berbaur dengan mahasiswa kebanyakan.

Tahun 1981, Suster Brigita dan Suster Anna Rumangun masuk organisasi Perhimpunan Mahasiswa Katolik Repubulik Indonesia (PMKRI) Cabang Ambon. Melalui kampus dan PMKRI, ia terlibat dalam beragam aktivitas yang tidak mungkin ada dalam biara. Ia ikut demonstrasi, porseni, lari jalan raya 10 km, kuliah kerja nyata di kampung, dan sebagainya.

Pada tahun 1983, ada Porseni Mahasiswa Maluku untuk seleksi atlet ke Porseni Mahasiswa Indonesia di Makassar. Waktu itu, Suster Brigitta mengikuti cabang olahraga renang.

Dari Biara PBHK di Jalan Pattimura Ambon, Brigita naik angkot ke Halong. Dengan busana suster lengkap dengan kerudung, ia masuk Kompleks TNI Angkatan Laut. Di kolam renang, tidak ada lagi yang melihat Suster Brigita di tribun penonton.

Banyak orang terkejut ketika pada nomor final 100 meter gaya dada puteri, Suster Brigita sudah berdiri di atas balok start. Busana suster berwarna putih itu sudah dilepas semuanya. Dengan hanya bikini, Ia sudah berdiri di atas balok start. Siap menunggu aba-aba.

Lomba dimulai. Rekan-rekannya berteriak memberi semangat. Sayang sekali, Brigita hanya mencapai finis di urutan ketiga. Juara tiga memang naik podium, tetapi hasil itu mengecewakan karena hanya juara 1 dan 2 yang berangkat ke Makassar.

Ternyata, harapan yang sudah sirna bisa terbit kembali. Sang juara kedua berhalangan tetap dan tidak bisa tinggalkan Ambon. Sebagai juara 3, Brigita pun diminta mengisi kekosongan itu.

Jadilah Suster Brigita ke Makassar. Di sana, lagi-lagi di hadapan penonton yang lebih banyak, ia ke kolam dengan baju biarawati, tetapi terjun dari balok start dengan bikini.

“Apakah kalian, terutama nona-nona, sanggup punya sedikit ‘kegilaan’ seperti saya?” Tantangnya dalam sebuah forum motivasi di Ambon.

3. Lancang Urus Jual-Beli Tanah di Seram

Suster Brigita mendirikan Yayasan Kasih Mandiri. Ia punya seorang staf perempuan asal Seram. Orang tua perempuan itu mengundang Suster ke Seram, sekadar menjalin persaudaraan yang lebih intim. Mereka senang sebab sebagau warga Gereja Protestan Maluku (GPM), puteri mereka bisa kerja bersama biarawati Katolik.

Pagi di Seram, setelah doa pagi, Suster Brigita berjalan di sekitar rumah staf itu. Matanya tertuju ke satu lahan kosong, hanya ditumbuhi rumputan. Ada rumah kecil di tepinya.

Sedang asyik lihat-lihat, tiba-tiba muncul pemuda penghuni rumah dekat lahan kosong itu. Suster kaget karena tertangkap basah mengamat-amati lahan milik orang.

Setelah salam dan sapa, Suster Brigita beranikan diri menanyakan lahan kosong itu.

“Punya siapa, mengapa dibiarkan kosong?” Tanya suster.

“Itu mulanya milik kami, tetapi sudah dibeli oleh orang Yogyakarta,” jelas pemuda itu.

Suster terheran-heran. Bagaimana bisa sebidang tanah di Seram dimiliki oleh orang di Yogyakarta? Ternyata, orang di kampung tetangga memberitahu saudara mereka di Yogyakarta tentang lahan yang dijual murah.

“Maaf, ini lancang yah. Boleh saya, dibeli dengan harga berapa?” Begitulah suster menyelidiki.

Suster kaget mendengar harga tanah tidak sesuai luasnya. Pemuda itu mengaku, terpaksa lepas dengan harga miring karena terdesak biaya pengobatan orang tua.

“Boleh saya minta nomor telepon orang di Yogyakarta?”

Suster kemudian kembali ke rumah stafnya. Hari itu juga, ia menelepon nomor yang diberikan pemuda tadi. Suster was-was karena pemilik nomor itu seorang perempuan.

“Maaf, saya Brigita Renyaan. Saya biarawati Katolik. Kebetulan saya di Seram dan mendapat informasi tentang tanah yang ibu pernah beli di sini,” kata Suster.

Suster sudah bayangkan, jawaban apa yang akan diterima dari seberang. Paling buruk, orangnya tutup percakapan, matikan HP.

“O, ya, Suster. Saya juga Katolik. Senang bisa bicara dengan suster,” jawab perempuan di Yogyakarta.

Suster merasa lega. Sebuah awal yang baik. Maka dengan tidak ragu, ia pun lanjut bicara.

“Ibu, saya minta maaf. Ini bukan urusan saya. Ini saya sadar, saya sudah lancang. Silakan Ibu marah nanti, tetapi saya merasa perlu bicara,” kata Suster.

Suster langsung memaparkan. Lahan yang dibeli sangat luas tapi harganya sangat rendah. Sungguh kasihan pemilik rumah. Rumah mereka tidak punya pekarangan. Pagarnya pas-pasan, sebatas air jatuh dari cucuran atap.

Sekali lagi Suster sudah siap diberondong akibat kelancangannya itu. Maka dengan sedikit canggung, ia mendengar suara dari Yogyakarta.

“Suster, dua hari ini saya tidak bisa tinggalkan Yogyakarta. Apakah Suster bisa tunggu? Tiga hari dari sekarang, saya tiba di Seram. Kita bisa bicara di sana,” pinta perempuan itu.

Perempuan itu benar-benar datang sesuai janji. Melalui mediasi Suster Brigita, perempuan itu melepas kembali sebagian tanah kepada pemilik mula-mula.

Pemuda tadi bersama keluarganya sangat bahagia. Perempuan Yogyakarta itu pun senang. Suster Brigita lega atas buah manis kelancangannya.

(BERSAMBUNG)

Pemkot Ambon Jelaskan Kenaikan Retribusi Sampah UMKM

0

Ambon, Maluku.news – Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon menegaskan kebijakan kenaikan retribusi sampah, termasuk bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), bukan keputusan sepihak. Penyesuaian tarif ini, menurut Pemkot, dilakukan berdasarkan regulasi terbaru pemerintah pusat dan tetap mempertimbangkan kemampuan masyarakat.

Hal ini disampaikan Kepala Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Kota Ambon, Roy DeFretes, di Balai Kota Ambon, Rabu (8/5/2025). Penjelasan ini menanggapi kritik salah satu anggota DPRD Kota Ambon yang menyebut kenaikan retribusi sampah UMKM hingga 500 persen memberatkan usaha kecil.

“Penetapan tarif retribusi sampah tidak serta-merta dinaikkan begitu saja. Semua didasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, terutama UU Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, serta turunannya dalam PP Nomor 35 Tahun 2023,” ujar DeFretes.

Ia menjelaskan, dalam peraturan tersebut, daerah wajib menetapkan pungutan melalui Peraturan Daerah (Perda). Kota Ambon sendiri telah memiliki Perda Nomor 1 Tahun 2024 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, yang di dalamnya mengatur besaran tarif retribusi kebersihan.

“Retribusi kebersihan masuk kategori Retribusi Jasa Umum. Tarifnya tercantum dalam lampiran perda sesuai kategori, baik rumah tangga, bisnis, industri, maupun fasilitas umum,” tambah DeFretes.

Dasar penetapan tarif: daya listrik
Yang menarik, penentuan tarif retribusi tidak ditentukan sepenuhnya oleh pemerintah daerah, melainkan menggunakan ukuran daya listrik (Volt Ampere/VA) sesuai petunjuk pemerintah pusat.

“Untuk UMKM, kategori bisnis sangat kecil, dengan penggunaan daya listrik minimal 450 VA. Tarifnya Rp150.000 per bulan atau Rp1.800.000 per tahun,” jelas DeFretes.

Ia menilai, nominal tersebut sebetulnya tidak memberatkan jika dihitung per hari.

“Rp1.800.000 dibagi 365 hari, hasilnya kurang dari Rp5.000 per hari. Itu bahkan lebih murah daripada sebotol air mineral yang biasa kita beli setiap hari, yang juga menjadi sumber sampah,” ujarnya.

DeFretes juga menegaskan bahwa penetapan tarif tidak dilakukan “sembarangan” dan sudah mempertimbangkan daya beli masyarakat serta kebutuhan mendesak kota untuk meningkatkan pelayanan sampah.

Menurut DeFretes, kebijakan kenaikan retribusi sampah ini adalah hal wajar karena tarif lama telah berlaku sejak tahun 2012. Selama 13 tahun, belum pernah ada penyesuaian tarif meskipun biaya operasional dan volume sampah terus meningkat.

“Selama ini tarif lama sudah sangat tertinggal jauh dari kebutuhan operasional. Padahal volume sampah naik terus, sementara armada pengangkut kita terbatas,” ungkapnya.

Ia menambahkan, dengan tarif baru, Pemkot Ambon berharap pelayanan kebersihan akan semakin baik, mulai dari penambahan armada, peningkatan frekuensi pengangkutan, hingga pengelolaan tempat pembuangan akhir.

Ada ruang untuk permohonan keringanan
Meski demikian, DeFretes mengakui bahwa tidak semua wajib retribusi memiliki kondisi ekonomi yang sama. Oleh karena itu, Perda memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengajukan permohonan keringanan sesuai prosedur yang berlaku.

“Kalau dirasa berat, ada mekanisme pengajuan keringanan. Tapi masyarakat juga punya kewajiban untuk membayar, karena pelayanan kebersihan adalah kebutuhan kita bersama,” katanya.

Ia mengimbau masyarakat, khususnya pelaku UMKM, untuk mendukung kebijakan ini demi Ambon yang lebih bersih dan sehat.

“Kami harap masyarakat mendukung pemerintah supaya kita bisa bekerja lebih baik. Retribusi ini kembali juga untuk kepentingan masyarakat,” tutupnya.

Dengan penyesuaian tarif ini, Pemkot Ambon menargetkan peningkatan Penerimaan Asli Daerah (PAD) dari sektor retribusi kebersihan, yang nantinya akan digunakan untuk memperkuat pelayanan publik dan infrastruktur pengelolaan sampah.

Dewan Apresiasi Kerja Sama Maluku – Jatim, Fokus pada Peningkatan Infrastruktur

0

Ambon, Maluku.news – Anggota DPRD Maluku dari Fraksi PDI Perjuangan, Al Hidayat Wajo, menyambut baik kerja sama antara Pemerintah Provinsi Maluku dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang dinilai dapat mendorong penguatan sektor infrastruktur pesisir, khususnya di wilayah Seram Utara.

Menurutnya , kerja sama tersebut harus difokuskan untuk memperkuat sektor pesisir, khususnya wilayah Seram Utara yang memiliki akses langsung dari Pelabuhan Kopi ke Surabaya.

Ia menyebutkan bahwa selama ini aktivitas pengiriman logistik dan bahan baku, terutama komoditas kopi, telah berjalan cukup lama sejak tahun 1990-an.

“Kita harus dorong supaya pelabuhan di Seram Utara ditingkatkan kapasitasnya. Sejak tahun 1980-an sampai 2025 ini, belum ada peningkatan signifikan,” ujarnya di Ambon,Senin (05/05/25).

Meski begitu tiap bulan sekitar 3.000 ton bahan baku dikirim ke Surabaya terutama kopra juga coklat, dan jumlah ini bisa meningkat jika ada kesepakatan yang lebih kuat antara daerah.

Karena itu, ia mendorong agar pelabuhan diperbaiki serta jalur logistik seperti tol laut di pesisir utara Seram dan sekitarnya segera direalisasikan,”ungkap Wajo.

Selain soal logistik, Hidayat juga mendorong agar pemerintah daerah lebih serius menginventarisasi barang masuk dan keluar agar bisa meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).

Ia menegaskan pentingnya membangun pabrik pengolahan bahan baku di wilayah Seram untuk menekan angka pengangguran.

“Ambon, Buru, Tenggara Raya dan wilayah sekitar punya banyak bahan baku. Kalau bisa dibangun pabrik minyak kelapa atau santan supaya target menurunkan pengangguran akan lebih mudah tercapai,” tegasnya.

Dia berharap, kerja sama lintas provinsi ini tidak hanya seremonial, tetapi mampu mendorong pembangunan infrastruktur dan kesejahteraan masyarakat secara nyata.

Hardiknas 2025, Wawali Tual Ajak Gotong Royong Majukan Pendidikan

0

Tual, Maluku.news – Pemerintah Kota Tual menggelar upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025 di halaman Balai Kota Tual, Jumat (2/5), dengan mengusung tema “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.”

Upacara dipimpin Wakil Wali Kota (Wawali) Tual, Amir Rumra, dan diikuti jajaran SKPD, guru, kepala sekolah, serta ratusan siswa SD dan SMP se-Kota Tual. Suasana makin semarak dengan kehadiran peserta yang mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah.

Dalam amanatnya, Wawali menyampaikan pesan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, bahwa Hardiknas bukan hanya seremoni tahunan, tetapi momentum untuk memperkuat komitmen mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Pendidikan adalah hak asasi setiap warga negara. Ia adalah jalan untuk membentuk karakter, membangun peradaban, dan membebaskan masyarakat dari belenggu kemiskinan,” tegas Rumra.

Ia juga menekankan komitmen Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan pendidikan sebagai prioritas nasional dalam Asta Cita keempat, dengan fokus pada peningkatan infrastruktur pendidikan, transformasi digital, serta kesejahteraan guru.

Wawali turut menyampaikan berbagai program inovatif dari Kemendikbudristek, antara lain:

  • Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)
  • Penguatan Literasi Koding dan AI
  • Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat
  • Program Pagi Ceria

Menutup sambutannya, Amir Rumra mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bergotong royong dalam memajukan dunia pendidikan di Kota Tual.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Perlu keterlibatan aktif orang tua, masyarakat, dunia usaha, dan media agar pendidikan benar-benar menjadi fondasi masa depan bangsa,” tandasnya.