Beranda blog Halaman 24

Seribu Duka Kei untuk Dua Pahlawan UGM Eka dan Bagus

0

Laporan Yoshua Tahwain-Langgur

Ambon, Maluku.news – Datang dengan penuh semangat pengabdian masyarakat, namun berakhir pedih. Dua mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta Septian Eka Rahmadi dan Bagus Adi Prayoga gugur di tanah Kei, Maluku Tenggara, saat menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Kedua mahasiswa yang mengabdi di Ohoi Debut itu menjadi korban musim ombak di perairan Kei, setelah musibah speedboad terbalik, Selasa (1/7).

Septian menghembuskan nafas beberapa menit setelah ditangani di UGD Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karel Sadsuitubun Langgur. Sedangkan Bagus baru ditemukan di laut sudah tidak bernyawa, malam hari oleh relawan.

Informasi yang dikumpulkan dari lokasi KKN Debut menyebutkan, para mahasiswa KKN UGM di Debut sedang membuat program revitalisasi terumbu karang dengan metode artificial patch reef (APR). Caranya, membuat fondasi beton sebagai medium tumbuhnya terumbu karang baru.

Untuk program tersebut, kelompok KKN laki-laki pergi mengambil pasir ke Pulau Wearhu. Rombongan berangkat menggunakan speedboat kurang lebih pukul 11.00 WIT. Mereka adalah Daeren Sakti Hermanu, Septian Eka Rahmadi, Muhammad Arva Sagraha, Ridwan Rahardian Wijaya, Bagus Adi Prayogo, Afifudin Baliya, dan Pratista Halimawan.

Rombongan didampingi pemuda Debut yakni Michael Masbait, Michael Letsoin, Venus, Marvel, dan seorang rekan mereka.

Speedboat tiba di Pulau Wearhu sekira pukul 11.30 WIT. Rombongan mengambil pasir dan memuatnya ke dalam speedboat.

Dalam perjalanan pulang menuju Ohoi Debut, rombongan dihantam gelombang pasang dan angin kencang. Speedboat tiba-tiba terbalik. Seluruh penumpang terpental, terbawa gelombang dan terdampar di batu karang dekat Pulau Wearhu Daeren. Salah satu mahasiswa KKN, mengirim sinyal SOS pada pukul 14.27 WIT.

Daeren mengirimkan voice note untuk meminta tolong, karena HP rekan-rekan lainnya tidak aktif. Warga dan Tim KKN di Debut mengirimkan bantuan speedboat. Bantuan dikirim sekitar pukul 14.45 WIT, dan tiba di batu karang. Di batu karang, warga mengevakuasi Septian Eka Rahmadi yang kondisinya paling lemas.

Eka diangkut menggunakan speedboat ke Pelabuhan Debut, lantas dilarikan dengan ambulance. Korban diperkirakan sampai Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karel Sadsuitubun Langgur pukul 15.15 WIT. Eka sempat ditangani di UGD, namun dinyatakan meninggal pukul 15.28 WIT.

Sampai pukul 17.30 WIT, mahasiswa sudah berhasil dievakuasi oleh tim SAR bersama tim penyelamat dari Ohoi Debut dan kampung-kampung sekitarnya. Seluruh korban sudah dilarikan ke RSUD Karel Sadsuitubun dan RS Hati Kudus Langgur, kecuali Bagus Adi Prayogo.

Bagus sempat dinyatakan hilang. Pencarian bahkan sementara dihentikan karena cuaca hujan dan badai di lokasi musibah dan sekitarnya. Akan tetapi, dalam pencarian lanjutan, Bagus akhirnya ditemukan sekitar pukul 22.00 malam dalam keadaan tidak bernyawa.

Musibah yang menimpa mahasiswa UGM di Kei ini menyebar luas di media sosial. Ucapan belasungkawa datang dari berbagai pihak. Banyak doa dipanjatkan untuk keduanya melalui beragam akun.

Orang Aru, Entitas Melanesia di Sahul

0

Penulis Deksy Labok-Dobo

PENGANTAR REDAKSI
Masyarakat adat Kepulauan Aru, Maluku, baru saja mendapat pengakuan internasional untuk kiprahnya merawat alam dan kebudayaannya. Dua tokohnya yakni Mika Ganobal dan Pendeta Rosina Gaelagoy hadir di Katmandu,  Nepal, 30 Juni 2025, untuk menerima penghargaan Collective Action Award 2025 dari lembaga Rights and Resource Initiative, yang merayakan ulang tahun ke-20.  Bagaimana masyarakat adat Aru di ‘ujung dunia’ bisa sampai ke pengakuan ini?  Redaksi menyajikan serangkaian tulisan pegiat sosial Deksy Labok S.IP,. MA tentang masyarakat dan kebudayaan Aru, mulai hari ini.

Suku Aru merupakan suku bangsa yang mendiami wilayah Kepulauan Aru di pojok tenggara Kepulauan Maluku. Kepulauan ini dikaruniai kekayaan potensi sumber daya alam dan budaya. Letaknya di Lempengan Sahul, berdampingan dengan New Guinea (Papua) dan Benua Australia. Jumlah pulaunya 759 pulau, meliputi 29 pulau kecil berpenghuni dan 730 pulau kecil tidak berpenghuni. Total luas wilayah 55.270,22 km2.

Suku Aru berdasarkan mitologi, berasal dari Pulau Eno-Karang. Secara sosial dan budaya, Suku Aru termasuk Rumpun Melanesia Pasifik. Secara linguistik, menurut para ahli antropologi, Suku Aru tergolong dalam rumpun berbahasa Austro-Melanesia (pembauran Austronesia -Melanesia). Mereka penutur Bahasa Tarangan, Karey, Barakai, Koba, Dobel, Lorang, Ganabai, Lola, Mariri, Batuley, Kompane, Kola, dan Ujir.

Suku Aru adalah bagian dari penduduk Melanesia. Nama Melanesia diberikan oleh seorang penjelajah berkebangsaan Perancis di kawasan Pasifik bernama Dumont d’Urvile. Pemberian nama tersebut bertalian dengan penggolongan Dumont d’Urvile atas empat wilayah etnik yaitu, Polynesia (banyak pulau), Mikronesia (pulau-pulau kecil), Malaysia (Kepulauan Melayu yaitu Kepulauan Asia Tenggara), dan etnik Melanesia (pulau-pulau hitam).

Ciri-ciri fisik kulit pada etnik Polynesia, Mikronesia, dan Malaysia berwarna kuning atau tembaga. Sedangkan, Melanesia mempunyai ciri warna kulit hitam dan berambut keriting.

Berbagai kajian telah dilakukan terhadap prasejarah etnik Aru Melanesia sebelum berakhirnya Zaman Es , yaitu kurang lebih 12.000-8.000 tahun yang lalu. Pada waktu itu, Australia, New Guinea dan Tasmania serta kepulauan Aru membentuk satu kontinen bersama yang dinamakan oleh para biografer sebagai Dataran Sahul. Luas kurang lebih 10.6 juta kilometer persegi dan terletak di Barat Daya Lautan Pasifik.

Teori yang paling terkenal yang diajukan tentang asal usul etnik Aru, Papua dan Aborigin, sebagai penduduk Sahul ialah teori Trihybrid oleh J.H. Birdsell. Teori ini menyatakan, penduduk asli Australia, New Guinea, Tasmania, dan Kepulauan Aru, merupakan keturunan dari tiga ras manusia pertama yang menduduki dataran Sahul yaitu ras Negro Oseania, ras Karpentarian, dan ras Murrayan. Orang Negro Oseania dan orang Karpentarian datang secara berurutan ke Benua Sahul yang menurunkan penduduk Pulau New Guinea, Australia, Tasmania dan Kepulauan Aru. Golongan penduduk kedua yang datang kemudian di Sahul atau Greater Australia adalah orang Murrayan.

Pendapat lain tentang asal-usul penduduk Sahul dikemukakan oleh W.W. Howells. Dia menyatakan, penduduk Australo-Melanesia merupakan tipe atau ras Old Melanesia, yang berasal dari kepulauan Indonesia dan bermigrasi ke Sahul kurang lebih 4.000 tahun lalu, karena mereka didesak oleh orang-orang ras Mongoloid yang datang dari daratan Asia Selatan.

Ketika Zaman Es terakhir berakhir kurang lebih 12.000-8.000 tahun lalu, permukaan air laut naik dan mengakibatkan terbentuknya, Selat Torres, Selat Bass, dan Laut Arafura. Akibatnya, terjadi pemisahan Kepulauan Aru, Pulau New Guinea, Benua Australia dan Pulau Tasmania dari kontinen asalnya.

Penduduk Sahul yang mempunyai sejarah yang sama (White & O’Connell 1982) dan pola-pola hidup yang kurang lebih sama, sejak Zaman Es berakhir, terpisah pada empat wilayah geografi lalu masing-masing mengembangkan corak hidup sendiri-sendiri sesuai lingkungan alam baru yang tercipta oleh perubahan iklim global, kala itu, selama kurang lebih 4.000 tahun, sebelum pendatang baru tiba di empat kawasan tersebut (terutama kepulauan Aru).

Wali Kota Ambon Ajak Warga Bijak Terkait Konsumsi Miras, Fokus pada Solusi untuk Sopi

0

AMBON, Maluku.News – Wali Kota Ambon, Boedewin Wattimena, mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam mengonsumsi minuman keras, terutama Sopi, yang selama ini menjadi salah satu faktor pemicu gangguan keamanan dan ketertiban (kamtibmas) di kota tersebut.

Pernyataan ini disampaikan usai pemusnahan 5000 liter Sopi yang dilakukan dalam rangka peringatan HUT Bhayangkara ke-79, Selasa (1/7/2025), di Mapolsek Pelabuhan Yos Sudarso Ambon.

Menurut Wali Kota Wattimena, meskipun peran kepolisian dalam menjaga keamanan sangat penting, namun masyarakat juga harus proaktif untuk menghindari konsumsi miras dalam jumlah berlebihan yang berisiko menimbulkan tindak kriminal.

“Kami mendukung penuh upaya kepolisian dalam menciptakan kondisi yang aman dan tertib. Namun, masyarakat juga harus berperan aktif, salah satunya dengan mengurangi konsumsi minuman keras yang dapat merusak ketertiban,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota juga mengungkapkan rencana pemerintah untuk mencari solusi terkait peredaran Sopi di Ambon.

Ia berharap minuman tersebut bisa menjadi sumber pendapatan yang positif bagi masyarakat, tanpa menimbulkan dampak buruk bagi keamanan dan ketertiban.

“Kedepan, kami akan terus berupaya agar Sopi tidak menjadi masalah, melainkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi para produsen dan penjualnya. Kami akan mencari cara agar peredarannya tetap terkontrol dan tidak mengganggu situasi kamtibmas,” tegasnya.

Orasi Ganobal di Nepal: Aru Jauh Namun Tidak Sendiri

0

MAmbon, Maluku.news – Dua penerima penghargaan Rights and Resource Initiative (RRI) Collective Action Award 2025 di Katmandu, Nepal, Senin (30/6) malam ini, sama-sama dari Kepulauan Aru, Maluku. Akan tetapi, keduanya bukan dari rumpun adat yang sama.

Mika Ganobal berasal dari Desa Lorang, rumpun adat Fanan yang berhimpun dalam kelompok Ursia. Sedangkan, Rosina Gaelagoy dari Desa Marfenfen berhimpun dalam kelompok Urlima. Dua kelompok ini punya kisah persaingan yang panjang dalam sejarah Maluku.

Di Katmandu, Nepal, Ganobal dan Gaelagoy membuktikan bahwa selama komunitas masyarakat adat yang berbeda-beda bisa bersatu, maka masyarakat adat menjadi kuat. Itulah yang dipresentasikan di acara pemberian penghargaan.

Selain komunitas adat Aru yang mewakili Benua Asia, penghargaan yang sama diberikan kepada Jupago Kreka Indiginous Collective (Brasil) mewakili Benua Amerika, dan Nashulai Maasai Conservancy (Kenya) mewakili Benua Afrika.

Ketika mendapat kesempatan berorasi singkat saat penerimaan award, Ganobal menegaskan, penghargaan yang diterima membuat masyarakat adat di Aru kian merasa tidak sendirian berjuang.

“Perjuangan kami jauh di Aru, tidak terlihat di peta. Namun dengan award ini, ternyata masyarakat adat di dunia tetap bersatu,” kata Ganobal di hadapan Direktur RRI Dr. Solange bandiaky-Badji dan komunitas-komunitas adat dari berbagai belahan dunia.

Ganobal menekankan, masalah di Jargaria ternyata juga menjadi masalah bagi masyarakat adat di Nepal, Afrika, Brasil, bahkan seluruh belahan dunia.

“Penghargaan ini menunjukkan bahwa masyarakat adat masih kuat, ketika kita bersatu,” tegas Ganobal.

Sosok yang saat ini menjabat Camat di Aru tersebut menyatakan, komunitas adatnya jauh sekali di Aru. Karena itu, dia berharap, masyarakat adat tidak dipisahkan oleh batas negara tetapi disatukan oleh semangat dan solidaritas.

“Perjumpaan ini menjadi pengingat bahwa masyarakat adat di Aru, Maluku, Indonesia, menjadi bagian masyarakat adat internasional,” paparnya.

Ganobal pun mengajak masyarakat adat agar terus membangun semangat dan solidaritas secara berkelanjutan.

Pendaftar Calon Kepsek Minim, Wali Kota Ambon Perpanjang Pendaftaran

0

Ambon, Maluku.news – Pendaftar seleksi bakal calon kepala sekolah untuk TK, SD, dan SMP di Kota Ambon masih sangat minim. Dari total kuota 900 peserta yang disediakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, hingga kini baru sekitar seratusan guru yang mendaftarkan diri.

Menyikapi hal ini, Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena memutuskan untuk memperpanjang masa pendaftaran selama satu minggu, guna memberi kesempatan lebih luas kepada guru yang memenuhi syarat.

“Kita memberikan peluang yang sama kepada semua guru. Oleh karena itu, saya minta dibuka satu minggu lagi,” kata Wattimena di Ambon, Senin (30/6/2025).

Wali Kota juga meminta Dinas Pendidikan Kota Ambon memaksimalkan sosialisasi ke setiap sekolah selama masa perpanjangan ini.

“Satu minggu ini segera lakukan sosialisasi langsung ke guru-guru supaya mereka yang sudah memenuhi syarat dapat ikut seleksi,” tegasnya.

Ia menekankan agar informasi pendaftaran ini jangan hanya berhenti di tangan kepala sekolah atau pejabat pelaksana tugas (Plt), melainkan disampaikan secara terbuka kepada seluruh guru.

“Saya ingatkan, jangan sampai informasi ini hanya disimpan supaya tidak ada saingan. Kita mau semua berjalan dengan fair,” tandas Wattimena.

Untuk diketahui, seleksi bakal calon kepala sekolah awalnya dibuka pada 2–14 Juni 2025, kemudian sudah sempat diperpanjang hingga 21 Juni. Namun meski demikian, jumlah pendaftar masih jauh dari target kuota yang ditetapkan.

Wakili Benua Asia, Ganobal-Gaelagoy dari Aru Terima RRI Award di Nepal

0

Laporan Rudi Fofid-Ambon

Ambon, Maluku.news – Orang-orang berbagai bangsa memeluk dan mencium Mika Ganobal dan Rosina Gaelagoy, di Katmandu, Nepal, Senin (30/6) malam ini.  Jabat erat terus diterima kedua tokoh komunitas adat Aru  yang baru saja menerima penghargaan internasional sekaligus menoreh sejarah manis di dunia.

Penghargaan kepada Mika Ganobal dan Rosina Gaelagoy adalah RRI Collective Action Award 2025. Anugerah pemenang diserahkan di podium HUT ke-20 lembaga Rights and Resource Initiative (RRI) di Katmandu.  Selain Ganobal dan Gaelagoy, empat wakil lainnya berasal dari Brasil dan Kenya.

Ganobal dan Gaelagoy dipilih dari seluruh komunitas adat di Benua Asia untuk menerima penghargaan ini. Menurut situs resmi RRI, Penghargaan Aksi Kolektif RRI diberikan untuk merayakan pencapaian dan upaya luar biasa dari masyarakat di seluruh Afrika, Asia, dan Amerika Latin.

Upacara penyerahan penghargaan diawali Sambutan Pengantar oleh Presiden RRI Dr. Solange Bandiaky-Badji, termasuk presentasi para penerima penghargaan dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

Penghargaan diberikan dengan menyoroti inovasi, ketahanan, dan komitmen teguh mereka terhadap mata pencaharian berkelanjutan, melindungi alam, dan melestarikan pengetahuan tradisional untuk generasi mendatang.

Mika Ganobal ketika diminta berbicara di podium menyatakan, penghargaan yang diterima malam ini, membuat masyarakat adat di Aru kian merasa tidak sendirian berjuang.

“Perjuangan kami jauh di Aru, tidak terlihat di peta. Namun dengan award ini, ternyata masyarakat adat di dunia tetap bersatu,” kata Ganobal.

Selain Mika Ganobal dan Gaelagoy, penghargaan RRI Collective Action juga diberikan kepada dua tokoh adat dari Brasil dan Kenya. Brasil mewakili Amerika Latin, Kenya mewakili Afrika, sedangkan Indonesia (Aru) mewakili Asia. (Maluku.news)

 

Bulu Cendrawasih Bikin Dua Tokoh Aru Menyala di Nepal

0

Laporan Rudi Fofid-Ambon

Ambon, Maluku.news – Meskipun tidak membawa cendrawasih utuh, namun tokoh komunitas adat Kepulauan Aru Mika Ganobal dan Rosina Gaelagoy tampil memukau di Nepal, Senin (30/6) pagi hingga petang.

Selain bulu cendrawasih yang menarik perhatian, Ganobal juga mengenakan maju dari kulit kayu yang diproduksi secara tradisional oleh leluhur dan masih bertahan sampai sekarang.

Tokoh perempuan komunitas adat Aru Rosina Gaelagoy juga berhias bulu cendrawasih di kepala, dengan stelan baju batik bermotif ornamen Aru.

Panitia dan beberapa tokoh di lokasi pertemuan pegiat lingkungan ini tidak sekadar mengajak berfoto. Ada pula yang memperlihatkan relasi Nepal masa lalu dengan bulu burung cendrawasih.

Ganobal dan Gaelagoy memang berada di Kathmandu, Nepal. Keduanya diundang henghadiri ulang tahun ke-20 lembaga internasional Rights and Resource Initiative (RRI). Ketika berita ini dirilis, rangkaian puncak acara sedang berlangsung.

Ganobal adalah seorang camat di Aru sedangkan Gaelagoy adalah pendeta Gereja Protestan Maluku (GPM) yang sudah purna tugas.

Keduanya menerima undangan tertanggal 1 Mei 2025. Undangan ditandatangani Koordinator RRI Solange Bandiaky-Badji dan Ketua Dewan Direksi Peggy Smith.

Ketika berita ini dirilis, Ganobal dan Gaelagoy sedang mengikuti sesi pembukaan puncak acara HUT RRI di Katmandu, sejak pagi hari waktu setempat.

Sebelum ke Nepal, kedua tokoh komunitas adat Aru ini sempat diterima Bupati Kepulauan Aru Timo Kaidel. Demikian juga di Ambon, keduanya diterima Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa.

Menurut undangan RRI kepada kedua tokoh, disebutkan kegiatan berlangsung tanggal 30 Juni sampai 3 Juli. Sebab itu, sejak pagi hingga malam ini, berlangsung upacara pembukaan dalam suatu pertemuan tingkat tinggi, merayakan kemenangan masa lalu dan visi untuk penguasaan kolektif dan hak atas sumber daya, tahun-tahun mendatang.

Perayaan HUT diselenggarakan anggota Koalisi Nepal, mempertemukan jaringan Nepal, sekutu masyarakat sipil, pejabat pemerintah, dan pimpinan koalisi RRI dari Afrika, Asia, dan Amerika Latin.

Pada tanggal 1-3 Juli, akan ada Pertemuan Strategi Koalisi RRI dengan Visi 2045: Membuka jalan bagi RRI 20 tahun mendatang. Anggota koalisi akan berkumpul membahas acara beradaptasi dengan konteks internasional saat ini dan mengubah visi menjadi rencana aksi.

“Kami akan merenungkan Program Strategis keempat RRI, menyelaraskan tujuan koalisi kami, dan merencanakan bagaimana kami akan mencapainya,” demikian disampaikan dalam undangan tersebut.

Kehadiran Ganobal dan Gaelahoy menjadi salah satu pusat perhatian para aktivis lingkungan internasional. Ganobal mengaku, keduanya didampingi Ogy Dwi Aulia dari Forest Watch Indonesia.

“Kami disambut hangat oleh Panitia Koalisi Nepal dan pimpinan RRI,” kata Ganobal. (Maluku.news)ArAru

Dampak Pengguna Gadget terhadap Kesehatan Mata

0

Dobo, Maluku.news – Organ penglihatan berupa mata merupakan bagian dari panca indra yang berperan sangat penting dalam kegiatan manusia. Kelainan refraksi mata merupakan kondisi dimana cahaya yang masuk ke dalam mata tidak dapat difokuskan dengan jelas. Di zaman serba teknologi, penggunaan smartphone saat ini sudah menjadi kebutuhan wajib pada setiap orang. Dampak negatif dari penggunaan gadget yaitu menurunnya fungsi penglihatan akibat dari paparan sinar dari layar monitor (LED/LCD) dan penyinaran lainnya.

Gadget adalah perangkat elektronik yang dirancang untuk tujuan tertentu dan biasanya biasanya bersifat bersifat portabel, memberikan berbagai fungsi praktis praktis dan hiburan hiburan kepada penggunanya.

menatap layar gadget
Ilustrasii bahaya menatap layer gadget berlebihan.
(iStockPhoto/ATHVisions)

Dalam perkembangan teknologi yang pesat, gadget telah menjadi menjadi bagian integral dari kehidupan modern, menawarkan berbagai kemudahan dan solusi untuk kebutuhan sehari-hari. Istilah “gadget” mencakup berbagai perangkat, mulai dari smartphone, tablet, laptop, hingga perangkat wearable seperti smartwatch dan fitness tracker.

Namun, penggunaan gadget yang berlebihan juga menimbulkan beberapa masalah kesehatan, terutama terkait dengan mata, postur tubuh, dan kesehatan mental. Ketergantungan pada gadget dapat menyebabkan masalah seperti ketegangan mata digital (digital eye strain), gangguan tidur akibat paparan cahaya biru dari layar, dan bahkan kecemasan serta depresi akibat penggunaan media sosial yang berlebihan.

Menurut Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publuk Kementrian dan Informatika (Kominfo), pada tahun 2015 pengguna telepon seluler di tanah air diperkirakan ada 270 juta. Jumlah gadget yang digunakan oleh penduduk Indonesia sudah melebihi penduduk Indonesia yang hanya sekitar 250 juta jiwa. Sedangkan penggunaan gadget di Indonesia di dominasi oleh remaja berusia 15-19 tahun sebesar 80%.

46t2lp0n47wwimw
Sakit mata akikal paparan gadget.
(foto:Istock)

Dampak Negatif Penggunaan Gadget terhadap Kesehatan Mata:
1. Mata terasa kering atau iritasi
2. Pandangan kabur atau kabur sejenak
3. Sakit kepala atau pusing
4. Leher dan bahu terasa kaku

Untuk mengurangi dampak negatif penggunaan gadget pada kesehatan mata, ada beberapa beberapa langkah yaitu:
1. Terapkan Aturan 20-20-20
2. Gunakan Pencahayaan yang Tepat Untuk Menjaga Kesehatan Mata
3. Atur Posisi Layar Gadget
4. Jaga Jarak Pandang Untuk Kesehatan Mata
5. Lakukan Pemijatan Mata
6. Perhatikan Asupan Nutrisi
7. Gunakan Kacamata Anti Radiasi
8. Lakukan Pemeriksaan Mata Rutin Untuk Memastikan Kesehatan Mata

dr. Catherine br Manik
RSUD Cendrawasih Dobo
Kabupaten Kepulauan Aru

Rovik: Pembangunan Proyek Jalan Lingkar Teluk Ambon Jangan Hanya Jadi Wacana

0

Ambon, Maluku.news – Anggota Komisi III DPRD Maluku, Rovik Akbar Afifudin, menyambut positif rencana pembangunan jalan lingkar Teluk Ambon yang disampaikan dalam kunjungan Kepala Bappenas ke Maluku.

Namun, ia menegaskan bahwa pembangunan tersebut harus benar-benar direalisasikan dan tidak sekadar menjadi janji dari pemerintah pusat.

“Silakan bangun apa saja di Maluku, yang penting terealisasi dan tidak mengganggu kehidupan masyarakat yang ada di Maluku,” ujar Rovik kepada wartawan digedung DPRD Maluku Jumat (25/06/25).

Politisi partai Persatuan Pembangunan ini menilai, proyek jalan lingkar Teluk Ambon bisa memberikan manfaat besar bagi perekonomian daerah. “Kalau pembangunan jalan lingkar Teluk Ambon bermanfaat untuk meningkatkan ekonomi masyarakat, tidak ada masalah. Tapi sejauh ini itu masih sebatas pernyataan,” katanya.

Dia inginkan rencana tersebut dapat diwujudkan dalam aksi nyata, bukan sekadar janji manis dari pemerintah pusat.

“Kami harapkan bisa direalisasikan. Kita tetap mendukung, cuma jangan diberi mimpi dari pusat bilang mau bikin ini, bikin itu tapi tidak terlaksana,” tegasnya.

Ia menambahkan, jika pemerintah pusat membutuhkan perencanaan teknis dari daerah, pihaknya siap mendukung, agar pembangunan bisa segera dilaksanakan. kemudian dibangun,” pungkasnya.

DPRD Maluku Imbau Warga Waspada Cuaca Ekstrim

0

Ambon, Maluku.news -Wakil ketua Komisi II DPRD Provinsi Maluku, Nita Bin Umar, mengimbau masyarakat Kota Ambon untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem yang masih melanda wilayah tersebut.

Apalagi dalam beberapa minggu terakhir, Kota Ambon mengalami curah hujan yang sangat tinggi yang berdampak pada berbagai aspek kehidupan.

“Kami melihat beberapa minggu ini, khususnya di Kota Ambon, cuaca sangat ekstrem. Perjalanan udara, laut, dan sekitarnya pun mengalami pembatasan dari BMKG hingga 26 Juni,” ujar Nita kepada wartawan. di Ambon, Selasa (24/06/25).

Menurut Politisi partai Amanat nasional ini , hujan deras yang mengguyur sejak Jumat hingga Sabtu pekan lalu telah menyebabkan banjir dan longsor di sejumlah titik. Nita mengungkapkan bahwa rumahnya yang berada di kawasan Tanah Lapang Kecil turut terdampak banjir.

“Banjir bukan hanya sampai di kaki, tapi sudah selevel dada. Semua rumah kemasukan air,” ungkapnya.

Melihat kondisi tersebut, Nita mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada, terlebih bagi warga yang tinggal di lereng gunung maupun di dekat aliran sungai.

“Sekarang hujan kembali turun. Walaupun tidak terlalu deras, kalau berlangsung terus hingga malam tetap berisiko tinggi. Kami minta masyarakat lebih berhati-hati,” tegasnya.

Ia juga mengapresiasi langkah cepat Pemerintah Daerah. “Kita sudah lihat pada hari Minggu, Pak Gubernur dan Wali Kota Ambon turun langsung meninjau lokasi bencana. Kami yakin, baik Gubernur maupun Wali Kota tidak akan lepas tangan dan terus melakukan pengawasan,” tuturnya