BerandaDino Umahuk: Menjaga Laut, Menjaga Kata

Dino Umahuk: Menjaga Laut, Menjaga Kata

Sebuah ruang sederhana, pada sebuah rumah di jantung Ambon. Tumpukan buku, kertas catatan, dan arsip foto tertata rapi di meja kerja. Peta Kepulauan Maluku tergantung di dinding. Ada secarik kertas dengan tulisan tangan: “Laut bukan sekadar lanskap, ia adalah nadi”.

Kalimat itu secara tepat merangkum seluruh napas kreatif lelaki pemilik ruang kerja tersebut. Dialah Dino Umahuk, sastrawan, jurnalis, pencinta alam, aktivis, dan penyaksi zaman dari Timur Indonesia.

Dia pernah dicap tidak normal.  Mahasiswa teknik perkapalan menulis puisi, dianggap sebuah anomali.   Sebagai orang Maluku, mesti jadi penyanyi atau petinju, bukan penyair.  Itu kata dosennya.  Dino tetap bergeming.  Dia tetap menulis puisi semasa kuliah.  Dia buktikan dalam Porseni Mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta Indonesia Timur tahun 1995. Mewakili Universitas Darussalam Ambon, Dino meraih medali emas menulis puisi dan medali emas baca puisi.

Laut Sebagai Napas Puisi

Dino Umahuk lahir 1 Oktober 1974 di Capalulu, sebuah kampung di bibir pantai, Maluku Utara. Jejak hidupnya merekam pergulatan panjang antara ingatan kampung, pengalaman konflik, dan cinta pada kata. Sejak awal, puisinya bukan sekadar permainan bahasa, tetapi ruang perlawanan sunyi terhadap kekerasan, keterasingan, dan ketidakadilan.

“Menulis puisi bagi saya seperti kembali ke laut,” ujarnya suatu sore, di sela peluncuran bukunya yang kedelapan, “Betapa Laut Adalah Kamu”, di Ambon, tahun lalu.

Antologi itu, seperti buku-bukunya sebelumnya (Metafora Birahi Laut, Lelaki yang Berjalan di Atas Laut, Mahar Cinta Lelaki Laut, Riwayat Laut, Panggilan Laut Halmahera, Sebelum Laut Merebutku Sepi, Laut Maluku di Lekuk Tubuhmu, dan Betapa Laut adalah Kamu), memotret laut sebagai metafora spiritual dan sosial.

Bagi Dino, laut adalah luka dan penghiburan, perbatasan dan rumah. Ia menulis bukan untuk memisahkan puisi dari realitas, melainkan justru menyeberangkan emosi manusia ke dalam gelombang kata.

Proses kreatifnya dimulai dari berjalan kaki. Berjalan kaki punya kesyahduan tersendiri.  Ada irama langkah, ada perjumpaan, ada perhentian, dan permenungan.

“Saya sering berjalan ke pantai saat senja, hanya untuk melihat perahu datang dan pergi. Lalu menulis. Karena puisi adalah cara saya bertahan,” katanya.

Ketekunannya dalam berpuisi telah membawanya ke berbagai festival sastra nasional maupun internasional, seperti Ubud Writers and Readers Festival (UWRF), Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF), Pertemuan Penyair ASEAN dan lain sebagainya.

Dari Jurnalis ke Aktivis HAM

Selain menulis puisi, Dino adalah jurnalis yang keras kepala dalam mempertahankan integritas. Ia memulai karier di media lokal Tabloid Patriot pada Tahun 1998, sebelum bergabung dengan detik.com dan Radio Voice of Human Rights di Jakarta. Di sana ia belajar bahwa kata bisa menyelamatkan nyawa, dan berita bisa lebih tajam dari peluru.

Ia kemudian aktif di KontraS dan Imparsial, berjejaring dengan almarhum Munir Said Thalib, tokoh HAM yang menjadi sahabat dan panutannya.
Dalam diskusi buku Mencintai Munir (2023), Dino mengenang betapa Munir mengajarinya satu hal penting: Jangan diam dalam ketakutan.

Kini ia menjabat sebagai Ketua Bidang Jurnalisme Baik di Pengurus Pusat Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI). Dino menjadi sosok penting dalam mendorong profesionalisme jurnalisme digital di Timur Indonesia. Ia percaya, jurnalis harus berpihak bukan pada kekuasaan, tapi pada kebenaran.

Kata-Kata yang Tak Mau Mati

Di sela kesibukannya mengelola media siber porostimur.com, Dino Umahuk yang pernah belasan tahun menjadi dosen, tetap setia menulis puisi. Ia tahu, menjadi penyair bukan perkara menang lomba atau tampil di panggung-panggung elegan. Bagi Dino, menjadi penyair berarti bertahan dengan luka, menjaga nalar waras, dan menyampaikan yang tak bisa diteriakkan.

“Penyair besar bukan yang paling banyak buku, tapi yang paling sabar. Sabar mendengar kampungnya, sabar mendengar dirinya,” ujarnya.

Warisan yang Sedang Dibangun

Kini, dengan delapan antologi puisi, tiga film dokumenter, ratusan kolom, dan media siber yang dikelolanya, Dino sedang membangun sesuatu yang lebih dari karier. Ia membangun suara Timur yang jujur, puitis, dan penuh kasih sayang.

Dan laut, selalu kembali ke laut. Sebab, seperti katanya dalam salah satu puisinya:

“Aku tak pernah meninggalkan laut. Hanya sesekali duduk di darat, mencatat debur yang terluka”.

RELATED ARTICLES
Google search engine
Google search engine

Most Popular

Recent Comments