BerandaLintas PeristiwaPoltekkes Kemenkes Maluku Fokus Kesiapan Tenaga Caregiver Kerja ke Luar Negeri

Poltekkes Kemenkes Maluku Fokus Kesiapan Tenaga Caregiver Kerja ke Luar Negeri

AMBON , Maluku.News – Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Maluku menempatkan kesiapan menyeluruh sebagai landasan utama dalam menyiapkan tenaga perawat atau caregiver yang akan ditempatkan bekerja di luar negeri melalui program SMK Go Global. Inisiatif strategis ini dijalankan melalui kerja sama resmi dengan Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Provinsi Sulawesi Utara, membuka akses kerja yang legal, terarah, dan terpantau bagi putra-putri terbaik Maluku.

Direktur Poltekkes Kemenkes Maluku, Betty Sahertian, usai pembukaan pelatihan, Jumat (2/10/2026) menegaskan, keterampilan teknis yang mumpuni saja tidak menjamin keberhasilan peserta di tempat penempatan. Kesiapan mental, kedisiplinan tinggi, serta kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sosial dan budaya yang berbeda justru menjadi penekanan paling serius.

“Kemampuan teknis harus diimbangi dengan ketahanan mental agar peserta mampu beradaptasi dan bertahan di lingkungan kerja yang baru. Kami tidak hanya menyiapkan mereka untuk bekerja, melainkan agar mampu berperilaku baik, menjaga nama baik diri, keluarga, daerah, dan negara di kancah internasional,” ujar Betty.

Sebanyak 40 peserta gelombang pertama kini tengah mengikuti pelatihan pengayaan selama 26 hari sebelum diberangkatkan bekerja di Malaysia dengan masa kontrak dua tahun. Keberangkatan ini bukanlah satu-satunya, karena gelombang peserta berikutnya akan disiapkan secara berkelanjutan. Peluang penempatan juga tidak terbatas pada Malaysia saja , Poltekkes Kemenkes Maluku juga sedang membuka akses kerja ke Jepang dan Jerman, masing-masing dengan standar dan persyaratan yang telah disesuaikan.

Betty menjelaskan bahwa kurikulum pendidikan keperawatan dan kebidanan yang diterapkan di kampusnya dirancang mencakup pemahaman utuh atas siklus kehidupan manusia , mulai dari perawatan ibu hamil, bayi, anak, dewasa, hingga lansia. Hal ini menjadikan lulusan siap ditempatkan pada beragam kebutuhan pelayanan kesehatan di luar negeri. Selain kemampuan teknis, peserta juga dibekali pemahaman etika profesi, kedisiplinan, serta tata krama yang sesuai standar lingkungan kerja internasional.

Diakui Betty, tantangan terbesar dalam proses ini justru bukan dari sisi kesiapan peserta, melainkan dukungan lingkungan keluarga. “Anak-anak kami sebenarnya sudah siap secara kemampuan dan keinginan, namun orang tua yang kadang belum siap melepas. Kami berharap para orang tua memberikan kepercayaan dan dukungan penuh, karena ini adalah kesempatan berharga untuk membangun masa depan anak-anak,” ungkapnya. Sebelum keberangkatan, setiap peserta akan menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh dan penilaian kesiapan mental agar benar-benar siap ditempatkan.

Sementara itu, Kepala BP3MI Sulawesi Utara, Hendrick Situmorang, menegaskan bahwa seluruh rangkaian pelatihan ini disediakan secara cuma-cuma dan sepenuhnya ditanggung pemerintah. Tidak ada biaya yang dibebankan kepada peserta. Mekanisme penempatan berjalan melalui prosedur ketat: pihaknya terlebih dahulu memastikan adanya permintaan tenaga kerja atau job order yang sah dan telah memiliki Surat Izin Penempatan Pekerja Migran Indonesia (SIP2MI), sebelum peserta dipersiapkan untuk berangkat. Artinya, agensi penempatan dan tempat kerja sudah dipastikan tersedia, sehingga peserta tidak perlu mencari pekerjaan sendiri setelah tiba di negara tujuan.

Hendrick menjelaskan bahwa secara nasional, pemerintah menargetkan pemberangkatan 500.000 pekerja migran hingga tahun 2029, dengan kuota pemberangkatan tahun 2026 sebanyak 40.000 orang. Wilayah binaan BP3MI Sulawesi Utara yang mencakup tiga provinsi , Sulawesi Utara, Maluku, dan Maluku Utara ,mendapat alokasi 620 kuota. Penyaluran ini tidak didasarkan pada pembagian porsi per provinsi, melainkan pada kesiapan calon peserta di masing-masing daerah.

“Mulai dari pendaftaran, pelatihan, pemberangkatan, selama bekerja, hingga kepulangan, seluruh proses berada di bawah perlindungan dan pemantauan kementerian. Setelah sellesai, pekerja juga tidak dibiarkan begitu saja , ada program pemberdayaan purna pekerja migran berbasis UMKM agar mereka pulang membawa kemampuan dan modal usaha mandiri,” jelas Hendrick.

RELATED ARTICLES
Google search engine
Google search engine

Most Popular

Recent Comments