Wali Kota Ajak Bangun Ambon dari Negeri
Ambon, Maluku.news – Pemerintah Kota Ambon bersama Politeknik Negeri Ambon memperkuat sinergi dengan negeri adat lewat penyerahan hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di Baileo Negeri Rutong, Selasa (15/4/2025).
Kegiatan ini menandai penguatan kemitraan antara dunia akademik, pemerintah, dan masyarakat adat dalam mendorong pembangunan berbasis potensi lokal.
Penyerahan hasil pengabdian masyarakat itu merupakan bagian dari kerja sama kemitraan Pentahelix, yang melibatkan lima unsur penting: pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media.
Negeri Rutong Jadi Model Kolaborasi Pembangunan
Raja Negeri Rutong, Reza Valdo Maspaitella, menyatakan kegiatan ini menjadi salah satu wujud nyata kontribusi dunia pendidikan tinggi bagi pembangunan negeri adat. Ia menekankan pentingnya membangun kemitraan jangka panjang dan inklusif.
“Hari ini kita menyaksikan hasil dari kerja sama strategis dengan Politeknik Negeri Ambon. Ini bukan hanya kebanggaan bagi Negeri Rutong, tapi juga bisa menjadi inspirasi bagi negeri-negeri adat lainnya,” kata Reza.
Ia menambahkan, sebagai Ketua Latu Pati, dirinya mendorong agar Rutong dijadikan percontohan pembangunan kolaboratif di wilayah Nusaniwe, Teluk Ambon, hingga Leitimur Selatan.
Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, dalam sambutannya menegaskan bahwa pembangunan kota tidak bisa hanya terpusat di wilayah perkotaan. Ia mendorong pembangunan harus dimulai dari desa dan negeri adat.
“Wajah Kota Ambon sesungguhnya ada di negeri-negeri adat. Karena itu, saya ajak seluruh elemen termasuk perguruan tinggi, untuk turun langsung menjawab kebutuhan masyarakat,” tegasnya.
Ia menyampaikan bahwa sejak 2022, Pemerintah Kota telah menjalin komunikasi intensif dengan Politeknik Negeri Ambon guna memperkuat kontribusi kampus vokasi dalam pembangunan berbasis masyarakat.
“Politeknik Negeri Ambon membawa nama kota ini. Maka kontribusinya harus berdampak langsung bagi masyarakat Ambon,” lanjutnya.
Dalam kesempatan itu, Wali Kota memaparkan sejumlah program prioritas, termasuk penguatan UMKM dan industri kreatif. Pemerintah berencana mengembangkan empat titik ekosistem ekonomi kreatif yang terintegrasi dengan program “Ambon City of Music.”
“Kami tidak ingin UMKM jalan sendiri. Kami beri mereka ruang, akses, dan fasilitas agar mereka tumbuh jadi kekuatan ekonomi baru di kota ini,” ujarnya.
Program ini diharapkan dapat menekan angka pengangguran, meningkatkan kesejahteraan, dan menjadikan Ambon sebagai kota kreatif dan berdaya saing tinggi.
Wali Kota juga menantang kampus vokasi tersebut untuk menciptakan teknologi tepat guna bagi sektor perikanan, khususnya dalam mengatasi kerugian nelayan akibat hasil tangkapan yang tidak terjual.
“Saya minta dibuatkan alat pengering ikan atau teknologi lain yang bisa memperpanjang masa simpan. Ini kebutuhan nyata di lapangan,” ujarnya.
Ia menyebut kawasan Jasirah, Leitimur Selatan, dan Nusaniwe sebagai wilayah prioritas pengembangan sentra perikanan rakyat. Dalam jangka panjang, Pemkot juga merancang pembangunan cold storage dan sistem logistik terintegrasi.
“Saat panen besar, harga anjlok. Kalau kita punya stok dan sistem distribusi yang baik, kita bisa bantu nelayan dan jaga stabilitas harga,” pungkasnya.
Kegiatan penyerahan hasil pengabdian masyarakat ini menjadi penegasan bahwa pendidikan tinggi tidak boleh terisolasi dari kebutuhan masyarakat. Pemerintah Kota Ambon berharap kerja sama ini dapat diperluas ke negeri-negeri adat lainnya.
Kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan masyarakat adat ini menjadi momentum penting untuk menyatukan mimpi, komitmen, dan aksi nyata demi mewujudkan Ambon yang inklusif, kreatif, dan sejahtera.




