BerandaOpiniOrang Aru, Entitas Melanesia di Sahul

Orang Aru, Entitas Melanesia di Sahul

Penulis Deksy Labok-Dobo

PENGANTAR REDAKSI
Masyarakat adat Kepulauan Aru, Maluku, baru saja mendapat pengakuan internasional untuk kiprahnya merawat alam dan kebudayaannya. Dua tokohnya yakni Mika Ganobal dan Pendeta Rosina Gaelagoy hadir di Katmandu,  Nepal, 30 Juni 2025, untuk menerima penghargaan Collective Action Award 2025 dari lembaga Rights and Resource Initiative, yang merayakan ulang tahun ke-20.  Bagaimana masyarakat adat Aru di ‘ujung dunia’ bisa sampai ke pengakuan ini?  Redaksi menyajikan serangkaian tulisan pegiat sosial Deksy Labok S.IP,. MA tentang masyarakat dan kebudayaan Aru, mulai hari ini.

Suku Aru merupakan suku bangsa yang mendiami wilayah Kepulauan Aru di pojok tenggara Kepulauan Maluku. Kepulauan ini dikaruniai kekayaan potensi sumber daya alam dan budaya. Letaknya di Lempengan Sahul, berdampingan dengan New Guinea (Papua) dan Benua Australia. Jumlah pulaunya 759 pulau, meliputi 29 pulau kecil berpenghuni dan 730 pulau kecil tidak berpenghuni. Total luas wilayah 55.270,22 km2.

Suku Aru berdasarkan mitologi, berasal dari Pulau Eno-Karang. Secara sosial dan budaya, Suku Aru termasuk Rumpun Melanesia Pasifik. Secara linguistik, menurut para ahli antropologi, Suku Aru tergolong dalam rumpun berbahasa Austro-Melanesia (pembauran Austronesia -Melanesia). Mereka penutur Bahasa Tarangan, Karey, Barakai, Koba, Dobel, Lorang, Ganabai, Lola, Mariri, Batuley, Kompane, Kola, dan Ujir.

Suku Aru adalah bagian dari penduduk Melanesia. Nama Melanesia diberikan oleh seorang penjelajah berkebangsaan Perancis di kawasan Pasifik bernama Dumont d’Urvile. Pemberian nama tersebut bertalian dengan penggolongan Dumont d’Urvile atas empat wilayah etnik yaitu, Polynesia (banyak pulau), Mikronesia (pulau-pulau kecil), Malaysia (Kepulauan Melayu yaitu Kepulauan Asia Tenggara), dan etnik Melanesia (pulau-pulau hitam).

Ciri-ciri fisik kulit pada etnik Polynesia, Mikronesia, dan Malaysia berwarna kuning atau tembaga. Sedangkan, Melanesia mempunyai ciri warna kulit hitam dan berambut keriting.

Berbagai kajian telah dilakukan terhadap prasejarah etnik Aru Melanesia sebelum berakhirnya Zaman Es , yaitu kurang lebih 12.000-8.000 tahun yang lalu. Pada waktu itu, Australia, New Guinea dan Tasmania serta kepulauan Aru membentuk satu kontinen bersama yang dinamakan oleh para biografer sebagai Dataran Sahul. Luas kurang lebih 10.6 juta kilometer persegi dan terletak di Barat Daya Lautan Pasifik.

Teori yang paling terkenal yang diajukan tentang asal usul etnik Aru, Papua dan Aborigin, sebagai penduduk Sahul ialah teori Trihybrid oleh J.H. Birdsell. Teori ini menyatakan, penduduk asli Australia, New Guinea, Tasmania, dan Kepulauan Aru, merupakan keturunan dari tiga ras manusia pertama yang menduduki dataran Sahul yaitu ras Negro Oseania, ras Karpentarian, dan ras Murrayan. Orang Negro Oseania dan orang Karpentarian datang secara berurutan ke Benua Sahul yang menurunkan penduduk Pulau New Guinea, Australia, Tasmania dan Kepulauan Aru. Golongan penduduk kedua yang datang kemudian di Sahul atau Greater Australia adalah orang Murrayan.

Pendapat lain tentang asal-usul penduduk Sahul dikemukakan oleh W.W. Howells. Dia menyatakan, penduduk Australo-Melanesia merupakan tipe atau ras Old Melanesia, yang berasal dari kepulauan Indonesia dan bermigrasi ke Sahul kurang lebih 4.000 tahun lalu, karena mereka didesak oleh orang-orang ras Mongoloid yang datang dari daratan Asia Selatan.

Ketika Zaman Es terakhir berakhir kurang lebih 12.000-8.000 tahun lalu, permukaan air laut naik dan mengakibatkan terbentuknya, Selat Torres, Selat Bass, dan Laut Arafura. Akibatnya, terjadi pemisahan Kepulauan Aru, Pulau New Guinea, Benua Australia dan Pulau Tasmania dari kontinen asalnya.

Penduduk Sahul yang mempunyai sejarah yang sama (White & O’Connell 1982) dan pola-pola hidup yang kurang lebih sama, sejak Zaman Es berakhir, terpisah pada empat wilayah geografi lalu masing-masing mengembangkan corak hidup sendiri-sendiri sesuai lingkungan alam baru yang tercipta oleh perubahan iklim global, kala itu, selama kurang lebih 4.000 tahun, sebelum pendatang baru tiba di empat kawasan tersebut (terutama kepulauan Aru).

RELATED ARTICLES
Google search engine
Google search engine

Most Popular

Recent Comments