Ambon.News – Penyair asal Tanah Evav Petrus Letsoin meluncurkan buku antologi puisi berjudul “Relasi Kasih”. Ada sub judul kecil pada sampul buku: Sajak-Sajak Mengasihi Bersama Uskup Murwito. Foto sampul jelas sekali potret diri Uskup Agats Mgr. Aloysius Murwito, OFM.
Buku Puisi “Relasi Kasih” diluncurkan 19 Desember 2025 di Agats, dalam acara Talk Show, Testimoni, dan Peluncuran Buku. Acara ini digelar sebagai rangkaian acara perayaan HUT ke-75 Uskup Agats Mgr. Aloysius Murwito, OFM.
Mgr. Murwito adalah uskup kedua di Agats. Uskup kelahiran 20 Desember 1950 itu, ditahbiskan menjadi Uskup Agats-Asmat pada 15 September 2002. Ia menggantikan uskup pertama Mgr. Alphonse A. Sowada, OSC.
Peluncuran Buku Puisi “Relasi Kasih” ini tentu sebuah peristiwa sastra yang terselip dalam perayaan HUT ke-75 Mgr. Murwito. Tidak heran, tidak ada wartawan yang sempat menulis peristiwa ini di media daring. Jika menelusuri buku ini dengan mesin pencari di internet, dengan bantuan mode AI, hanya situs Cenderawasih Publisher yang mempublikasikan sinopsis buku ini. Memang, Cendawasih Publisherlah yang menerbitkan buku Petrus Letsoin ini.
Orang bisa saja bertanya. Apa hubungan Petrus Letsoin dengan Mgr. Murwito sampai bisa lahir buku ini? Tentu jawabannya sudah jelas ada pada sub judul di sampul buku. Akan tetapi menarik bahwa kemarin-kemarin, orang-orang di Debut, Langgur, dan sekitarnya bisa menyaksikan Petrus Letsoin di panggung sastra di Tanah Evav.
Petrus kemudian pindah ke Agats. Di sana, ia menjalani hari-hari sebagai jurnalis dan aktivis sosial. Tentu, selalu menulis puisi. Tidak banyak yang tahu, bahwa Petrus Kini terjun pula sebagai Relawan di Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agats. Dari situlah, ia punya banyak kesempatan berjalan bersama Mgr Murwito ke paroki-paroki dan stasi pedalaman.
“Dari pengalaman itu, ia menyaksikan dari dekat bagaimana Uskup Agats Mgr. Aloysius Murwito, OFM membangun relasi kasih dengan umat dalam kesederhanaan dan ketekunan seorang gembala. Dari rangkaian perjalanan perjumpaan tersebut lahirlah buku pertamanya, Relasi Kasih, sebuah kesaksian yang dicatat dengan mata seorang wartawan dan dirasakan dengan jiwa seorang petugas pastoral awam,” demikian catatan Penerbit Cenddawasih Publisher pada bagian sampul belakang buku “Relasi Kasih”.
Petrus memberi catatan bahwa buku ini ditulis sebagai ungkapan syukur dan penghormatan, serta dipersembahkan secara khusus untuk Ulang Tahun ke-75 Uskup Agats Mgr. Aloysius Murwito, OFM, sebagai hadiah kecil dari domba yang tersesat yang belajar mencintai tanah ini melalui cinta seorang gembala.
“Puisi-puisi ini hanyalah jejak-jejak kecil dari perjalanan panjang yang telah dibentuk oleh sungai, hutan, dan wajah-wajah yang ditemui uskup setiap hari dalam pelayanannya,” ujar Petrus di atas panggung saat peluncuran buku.
Buku Puisi “Relasi Kasih” berisi 55 judul puisi. Di balik ‘hanya’ 55 judul, terdapat narasi besar tentang jejak-jejak seorang gembala, yakni Mgr. Murwito. Lantas di belakang jejak seorang uskup, tentu saja ada wajah manusia Asmat, wajah gereja yang penuh cerita, kenangan, dan sejarah panjang. Ini narasi yang lebih besar lagi.
Di sisi lain, kehadiran Buku Puisi di lingkaran gereja bolehlah memperkaya gereja dengan kesenian yang lebih luas. Dalam tradisi Katolik termasuk liturgi, ada unsur musik, lagu, seni rupa yang dominan. Pada masa tertentu, ada selipan unsur teater. Puisi secara utuh belum punya tempat yang cukup penting dalam liturgi. Kehadiran buku “Relasi Kasih” mungkin menjadi pembuka jalan agar puisi juga diberi kesempatan untuk bisa memuji Tuhan, puisi juga mewartakan, puisi juga mengajar, puisi juga menegur, puisi juga menyapa, dan puisi juga menyelamatkan.
Kehadiran Petrus Letsoin dari Keuskupan Amboina ke Keuskupan Agats melalui jalan jurnalistik, sastra, maupun aktivitas sosial lainnya, bagaikan mengulang sejarah leluhur Evav. Pada zaman Belanda, hampir seribu orang guru dari pulau kecil “Kei” ke pulau besar “Papua”.
“Bukan hanya guru-guru lelaki. Nyora-nyora juga,” kata Mgr Andreas Sol, MSC.
Menurut Uskup Sol, begitu banyak orang Evav dari pulau kecil pergi mencerahkan orang-orang di pulau besar. Sungguh, Kei yang mulia”. Begitulah Uskup Sol menulis “Kei yang Mulia” lalu diterbitkan dan oleh editor diganti menjadi “Langgur yang Mulia”.
Migrasi umat Katolik lintas keuskupan, baik secara spontan maupun melalui rekayasa program, itu sudah biasa. Tetapi migrasi Petrus Letsoin dari Keuskupan Amboina ke Keuskupan Agats juga mengingatkan kita bahwa Keuskupan Amboina dan Keuskupan Agats adalah satu nafas.
Keuskupan Agats-Asmat berdiri 29 Mei 1969, hasil pemekaran dari Keuskupan Agung Merauke. Sedangkan Keuskupan Agung Merauke sebelumnya adalah Vikariat Apostolik Merauke, yang mekar dari Vikariat Apostolik Amboina. Sebelumnya, Vikariat Apostolik Amboina bernama Vikariat Apostolik Nugini Belanda (1920), tetapi setelah Indonesia Merdeka, nama Nugini Belanda diganti dengan Amboina.
Semoga Buku Puisi “Relasi Kasih” tidak hanya menjadi bacaan umat Katolik melainkan bacaan semua kalangan. Dengan begitu, relasi kasih tidak sesempit relasi bipolar Petrus Letsoin dan Mgr. Murwito, atau Mgr. Murwito dengan Umat Keuskupan Agats. Puisi dengan majas-majas yang punya efek prismatik, tentu akan sanggup membangun relasi kasih yang multipolar, Maluku dan Papua, Amboina dan Agats, Indonesia dan Papua, manusia dan Tuhan, termasuk juga keadilan dan ketimpangan.



