
Ambon, Maluku.news – Seniman Falantino Latupapua sudah biasa berdiri di panggung, bernyanyi, mengibur dan melayani penonton dengan lagu-lagu. Ia sanggup tampil solo namun bisa juga tampil dengan grupnya KAK5, bersama Figgy Papilaya, Marieonie Serhalawan, Margie Sipahelut, dan Gideon Beffers.
Petang tadi, selama satu jam, Falantino tampil solo. Tidak ada musik pengiring sebab bukan panggung kesenian. Dari mimbarnya, ia mempertahankan disertasi di hadapan sidang terbuka promosi doktor di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIPB) Universitas Indonesia, Jumat (4/7).
Disertasi Falantino berjudul “Agensi Kultural Guru SMA di Kota Masohi Kabupaten Maluku Tengah, Literasi Budaya Kritis dalam Kurikulum Muatan Lokal”.
Selama penelitian dan penulisan disertasi, Falantino dibimbing Promotor Surih Mariasih Gietty, M.Hum., M.A., Ph.D., Kopromotor I Prof. Meliana Budianta, S.S., M.A., Ph.D., Kopromotor II Dr. Dhita Hapsarani, S.S., M.Hum.
Dalam sidang promosi doktor itulah Falantino dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude. Ia berhak menyandang gelar doktor. Nama dan gelarnya menjadi Dr. Falantino Eryk Latupapua, S.Pd., M.A.
Di Kampus Universitas Pattimura, Falantino melakoni hari-harinya sebagai dosen. Di luar kampus, ia dikenal sebagai seniman. Selain menulis puisi dan cerpen, ia pun menulis lagu dan bernyanyi. Cerpennya terbit dalam dua Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Tahun 1994, Falantino menjadi salah satu pemenang Bintang Radio RRI/TVRI Tingkat Nasional. Rutinitas belajar-mengajar di kampus tidak membuatnya balik belakang dari kesenian. Demikian pula panggung kesenian tidak membuatnya melalaikan tugas di kampus.
Usai lepas jabatan sebagai Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Falantino langsung mengambil program doktoralnya di Universitas Indonesia.
Dia sempat pergi-pulang Jakarta-Ambon-Masohi untuk riset. Dari penelitiannya dia menulis disertasi yang dipertahankan hari ini.
Dosen FKIP Universitas Pattimura Mariana Lewier menyatakan, bertambahnya seorang doktor bidang ilmu sastra di FKIP Universitas Pattimura semakin membuka peluang bagi kajian-kajian yang lebih produktif dan inovatif.
“Gagasan dan rekomendasi yang disampaikan dalam disertasinya sangat penting karena memberi arah bagi pengajaran muatan lokal di sekolah yang mendukung pemajuan kebudayaan,” kata Lewier, yang juga meraih gelar doktor sastra di Universitas Indonesia.




