BerandaHeadlineRahasia Suster Brigita Renyaan (1): Bikini, Coker, Laskar, dan Target...

Rahasia Suster Brigita Renyaan (1): Bikini, Coker, Laskar, dan Target Teror

Penulis: Rudi Fofid-Ambon

Maluku.news – Brigita Renyaan adalah sosok biarawati Katolik Maluku nan menonjol di Indonesia. Beragam aktivitas membuatnya populer dan inspiratif. Ia menerima sejumlah penghargaan dari lembaga non Katolik. Tidak banyak yang tahu, Brigita punya rangkaian pengalaman manis, jenaka, getir, juga pahit.

Puteri purnawirawan polisi asal Sathean, Kei, Maluku Tenggara ini mengalami banyak peristiwa berat termasuk ancaman pembunuhan. Bertahun-tahun ia merahasiakan semua itu. Kini, setelah lama berlalu, ia tidak keberatan sebagian rahasia itu boleh dibuka.

Berikut ini fakta-fakta Suster Brigita yang jarang diketahui publik. Penulis menghimpunnya dari pengalaman berjalan bersama selama bertahun-tahun:

1. Tidak Cocok Jadi Biarawati

Ketika bersama sanak keluarga mulai membicarakan cita-cita masa depan, Brigita muda mengaku mau jadi biarawati. Mendengar itu, semua tertawa. Mereka mencibir. Alasannya, tipe perempuan seperti Brigita, tidak cocok jadi biarawati.

Setelah lulus Sekolah Pendidikan Guru (SPG), Brigita benar-benar bulat mau jadi biarawati. Orang tuanya mendukung penuh. Keluarga dan sahabat-sahabat mendukung tetapi olok-olok tetap berlanjut.

“Ko tidak cocok jadi suster. Kalau ko paksa juga, nanti ko jadi suster ‘bayal’. Suster itu tinggal dalam biara, tapi ko itu nanti jadi suster kaki panjang,” ujar seorang kerabatnya.

Meskipun dibilang begitu, Brigita tetap maju terus. Ia mengucapkan kaulnya sebagai anggota Tarekat Putri Bunda Hati Kudus (PBHK).

Setelah bertahun-tahun menjadi biarawati, Brigita menemukan dirinya benar seperti disebut kerabatnya, dulu. Banyak aktivitas dilakukan di luar biara, di berbagai provinsi di Indonesia bahkan ke luar negeri. Waktunya pun tidak singkat. Ada yang sehari dua, ada yang mingguan, namun tidak sedikit sampai berbulan-bulan bahkan melampaui tahun.

“Beta ternyata memang suster bayal,” akuinya pada suatu waktu.

Bayal dalam istilah Kei artinya banyak berjalan ke luar rumah, tukang baronda, kaki bajalang, hidup di jalan. Begitulah Brigita. Ia menikmati hidupnya sebagai “Suster Bayal”.

“Bayal saja, yang penting jelas, positif, demi banyak orang,” ujarnya.

2. Aktivis PMKRI, Demonstrasi, Bikini

Setelah menjadi biarawati, Suster Brigita mengajar di SD Xaverius Ambon. Sambil mengajar, ia pun kuliah Bimbingan Konseling di FKIP Universitas Pattimura, Ambon. Waktu itu, Suster Brigitta dan Suster Anna Rumangun adalah dua mahasiswa berkerudung yang selalu terlihat berbaur dengan mahasiswa kebanyakan.

Tahun 1981, Suster Brigita dan Suster Anna Rumangun masuk organisasi Perhimpunan Mahasiswa Katolik Repubulik Indonesia (PMKRI) Cabang Ambon. Melalui kampus dan PMKRI, ia terlibat dalam beragam aktivitas yang tidak mungkin ada dalam biara. Ia ikut demonstrasi, porseni, lari jalan raya 10 km, kuliah kerja nyata di kampung, dan sebagainya.

Pada tahun 1983, ada Porseni Mahasiswa Maluku untuk seleksi atlet ke Porseni Mahasiswa Indonesia di Makassar. Waktu itu, Suster Brigitta mengikuti cabang olahraga renang.

Dari Biara PBHK di Jalan Pattimura Ambon, Brigita naik angkot ke Halong. Dengan busana suster lengkap dengan kerudung, ia masuk Kompleks TNI Angkatan Laut. Di kolam renang, tidak ada lagi yang melihat Suster Brigita di tribun penonton.

Banyak orang terkejut ketika pada nomor final 100 meter gaya dada puteri, Suster Brigita sudah berdiri di atas balok start. Busana suster berwarna putih itu sudah dilepas semuanya. Dengan hanya bikini, Ia sudah berdiri di atas balok start. Siap menunggu aba-aba.

Lomba dimulai. Rekan-rekannya berteriak memberi semangat. Sayang sekali, Brigita hanya mencapai finis di urutan ketiga. Juara tiga memang naik podium, tetapi hasil itu mengecewakan karena hanya juara 1 dan 2 yang berangkat ke Makassar.

Ternyata, harapan yang sudah sirna bisa terbit kembali. Sang juara kedua berhalangan tetap dan tidak bisa tinggalkan Ambon. Sebagai juara 3, Brigita pun diminta mengisi kekosongan itu.

Jadilah Suster Brigita ke Makassar. Di sana, lagi-lagi di hadapan penonton yang lebih banyak, ia ke kolam dengan baju biarawati, tetapi terjun dari balok start dengan bikini.

“Apakah kalian, terutama nona-nona, sanggup punya sedikit ‘kegilaan’ seperti saya?” Tantangnya dalam sebuah forum motivasi di Ambon.

3. Lancang Urus Jual-Beli Tanah di Seram

Suster Brigita mendirikan Yayasan Kasih Mandiri. Ia punya seorang staf perempuan asal Seram. Orang tua perempuan itu mengundang Suster ke Seram, sekadar menjalin persaudaraan yang lebih intim. Mereka senang sebab sebagau warga Gereja Protestan Maluku (GPM), puteri mereka bisa kerja bersama biarawati Katolik.

Pagi di Seram, setelah doa pagi, Suster Brigita berjalan di sekitar rumah staf itu. Matanya tertuju ke satu lahan kosong, hanya ditumbuhi rumputan. Ada rumah kecil di tepinya.

Sedang asyik lihat-lihat, tiba-tiba muncul pemuda penghuni rumah dekat lahan kosong itu. Suster kaget karena tertangkap basah mengamat-amati lahan milik orang.

Setelah salam dan sapa, Suster Brigita beranikan diri menanyakan lahan kosong itu.

“Punya siapa, mengapa dibiarkan kosong?” Tanya suster.

“Itu mulanya milik kami, tetapi sudah dibeli oleh orang Yogyakarta,” jelas pemuda itu.

Suster terheran-heran. Bagaimana bisa sebidang tanah di Seram dimiliki oleh orang di Yogyakarta? Ternyata, orang di kampung tetangga memberitahu saudara mereka di Yogyakarta tentang lahan yang dijual murah.

“Maaf, ini lancang yah. Boleh saya, dibeli dengan harga berapa?” Begitulah suster menyelidiki.

Suster kaget mendengar harga tanah tidak sesuai luasnya. Pemuda itu mengaku, terpaksa lepas dengan harga miring karena terdesak biaya pengobatan orang tua.

“Boleh saya minta nomor telepon orang di Yogyakarta?”

Suster kemudian kembali ke rumah stafnya. Hari itu juga, ia menelepon nomor yang diberikan pemuda tadi. Suster was-was karena pemilik nomor itu seorang perempuan.

“Maaf, saya Brigita Renyaan. Saya biarawati Katolik. Kebetulan saya di Seram dan mendapat informasi tentang tanah yang ibu pernah beli di sini,” kata Suster.

Suster sudah bayangkan, jawaban apa yang akan diterima dari seberang. Paling buruk, orangnya tutup percakapan, matikan HP.

“O, ya, Suster. Saya juga Katolik. Senang bisa bicara dengan suster,” jawab perempuan di Yogyakarta.

Suster merasa lega. Sebuah awal yang baik. Maka dengan tidak ragu, ia pun lanjut bicara.

“Ibu, saya minta maaf. Ini bukan urusan saya. Ini saya sadar, saya sudah lancang. Silakan Ibu marah nanti, tetapi saya merasa perlu bicara,” kata Suster.

Suster langsung memaparkan. Lahan yang dibeli sangat luas tapi harganya sangat rendah. Sungguh kasihan pemilik rumah. Rumah mereka tidak punya pekarangan. Pagarnya pas-pasan, sebatas air jatuh dari cucuran atap.

Sekali lagi Suster sudah siap diberondong akibat kelancangannya itu. Maka dengan sedikit canggung, ia mendengar suara dari Yogyakarta.

“Suster, dua hari ini saya tidak bisa tinggalkan Yogyakarta. Apakah Suster bisa tunggu? Tiga hari dari sekarang, saya tiba di Seram. Kita bisa bicara di sana,” pinta perempuan itu.

Perempuan itu benar-benar datang sesuai janji. Melalui mediasi Suster Brigita, perempuan itu melepas kembali sebagian tanah kepada pemilik mula-mula.

Pemuda tadi bersama keluarganya sangat bahagia. Perempuan Yogyakarta itu pun senang. Suster Brigita lega atas buah manis kelancangannya.

(BERSAMBUNG)

RELATED ARTICLES
Google search engine
Google search engine

Most Popular

Recent Comments