
“Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya”
Kita pernah latihan lancung secara massif melalui praktik konkrit. Learning by doing. Drama 15 menit sebelum berakhir jam mata ujian nasional (UAN/Ebtanas). Syukur bagi yang tidak terperosok ke situ. Bayangkan, dalam fase kritis, akan datang sang laknat berjubah “malaikat penolong”. Di tiap ruang ujian, mereka memberi kunci jawaban. Demikian supaya genap dengan arahan umum: Kalau tidak tahu, mending dibiarkan kosong. Karena nanti sang penolong tiba.
“Rahasia. Jangan bilang siapa-siapa. Termasuk ayah-ibu di rumah”.
Anak-anak diajak “main rahasia” setelah diajak lancung di kertas ujian.
Tahun 1976, saya mengalami itu di SD Center Kota Popo, Labuha, Halmahera Selatan. Lantas, beberapa tahun lalu, saya bertanya kepada seorang anak yang baru selesai ujian nasional hari terakhir.
“Merdeka sekarang?”
“Merdeka, Om. Hehe?”
“Guru siapa yang biasa masuk kase tau jawaban di menit-menit terakhir?”
“Weh. Om. Itu rahasia. Kalau kase tau, nanti katong seng lulus. Tapi, Om. Bagaimana bisa Om tau?”
“Tau saja. Pasti begitu!”
“Memang. Om paling pintar”
Asek. Saya dibilang paling pintar. Rasa bagai supranatural di hadapan anak SD kelas enam ini.
Pengalaman lancung di fase kritis telah berlangsung dari zaman Pak Harto sampai Pak Joko. Substansi lancung merasuk memori, merasuk sumsum, merasuk darah, merasuk sukma. Jadilah karakter, bagi mereka yang jiwanya rapuh sehingga tidak bisa siuman dari trauma 15 menit, aksi tipu-tipu di bangku sekolah formal.
Lancung dalam memori laksana sebuah berkas cahaya yang berjalan lurus ke masa depan tanpa mengalami bias. Lancung masa lalu sebagai pengalaman batin, telah terekspresikan dalam sendi-sendi kehidupan, termasuk urat nadi bangsa. Ipoleksosbudhankam kita dikerubuti pura-pura, seolah-olah, bohong, fitnah, dan segala macam bias manipulatif.
Jangan terkejut dengan suara-suara protes pemilu curang, nepotisme, anak haram konstitusi, dan segala diksi yang gundah atas situasi, baik gundah yang murni, maupun gundah tipu-tipu.
Sebab pemilu hanya lima tahun sekali. Kita saban hari kena praktik ruci, vang’ut, lancung di berbagai layanan umum, seperti pendidikan, kesehatan, bantuan sosial, maupun jasa-jasa, Jangan lupa, korupsi juga adalah cara vang’ut untuk kaya makmur. Para koruptor memperdaya sistem administrasi, tidak indahkan hukum dan peraturan, tidak indahkan rakyat, terutama yang miskin, hina, teraniaya secara struktur.
Kita memang bangsa merah putih air-air. Artinya, kita hidup dalam sila-sila yang luntur dan keropos dalam praktik, meski manis di bibir. Memang, Pancasila tidak bisa kita utak-atik lagi. Secara ekstrem, ada manggala penataran Eka Prasetia Panca Karsa mengatakan, mengubah Pancasila, berarti mengubah negara.
Saya hanya berandai. Andai dulu ada satu orang mengkurasi draf rumusan Pancasila, lalu mengedit sila kedua menjadi, “Kemanusiaan yang jujur dan beradab”, mungkin kebohongan tidaklah sebegini parah.
Dua tahun lalu, kami dari Bengkel Sastra Nuhu Evav (BSNE) mempresentasikan sebuah naskah teater berjudul Tragedi Buah Kelapa, di Aula Kantor Bupati Maluku Tenggara.
Alkisah, ular menggoda perempuan. Perempuan disuguhi buah kelapa, Makan supaya bisa sama dengan Tuhan, rayu ular. Maka perempuan makan, lalu mengajak lelakinya makan pula. Jatuhlah mereka ke palung dosa.
Ular itu kemudian tampil di kehidupan modern, milenial, hari-hari ini. Dengan pongah, ular itu berkata:
“Hawa, aku masih ular yang setia, mencintaimu sepanjang usia tuhan”
Ya, ular itu telah terusir dari Eden, lalu dengan setianya dia masuki ruang kelas ujian sekolah-sekolah, dan dia melata sampai ke jantung pemilihan umum.
Lancung, jauh lebih akut ketimbang sekadar lancang. Lancung membawa kita ke lembah kematian, sekalipun kita masih hidup.
Ambon, 15 Maret 2024
Catatan:
1.Ruci (Ambon, Ternate), vang’ut (Kei), lancung (Indonesia) artinya curang.
2.“Hawa, aku masih ular yang setia, mencintaimu sepanjang usia tuhan” (Ini adalah dua bait terakhir puisi Kepada Hawa karya Aan Mansyur)



