Beranda blog

Musda ATL Maluku 2026 Digelar Daring, Perkuat Agenda Pelestarian Tradisi Lisan

0

Ambon, Maluku.News –  Sejak terbentuk di Ambon tahun 2009, Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Maluku terus melakukan konsolidasi kepengurusan maupun beragam agenda strategis.  Hal itu terlihat dari hasil Musyawarah Daerah (Musda) ATL Maluku tahun 2026, yang digelar secara daring, Kamis (12/3/2026).

Musda ATL Maluku 2026 diikuti oleh akademisi, peneliti, praktisi budaya, serta perwakilan lembaga yang memiliki perhatian terhadap pelestarian tradisi lisan di Maluku.  Musda dibuka dengan laporan Ketua ATL Maluku Dr. Mariana Lewier, S.S., M.Hum.,  dan arahan Pembina ATL Maluku Prof Dr Hermien Soseliss, MA.

Forum Musda menjadi ruang strategis untuk mengevaluasi kinerja organisasi, merumuskan program kerja, serta memilih kepengurusan baru periode 2026–2030. Dalam sesi evaluasi, Bidang Pendidikan dan Pelatihan melaporkan bahwa dinamika organisasi berjalan baik dengan adanya penambahan anggota baru serta upaya aktif melibatkan kelompok pemuda dalam kegiatan tradisi lisan. Sementara itu, Bidang Organisasi dan Penelitian menekankan pentingnya penguatan administrasi keanggotaan, termasuk pembuatan kartu anggota serta pengembangan kerja sama dengan berbagai pihak, seperti Taman Budaya Provinsi Maluku.

Musda juga menghasilkan sejumlah rencana strategis, antara lain: Penguatan penelitian dan pemetaan tradisi lisan di Maluku; Penyusunan buku berbasis hasil penelitian tradisi lisan, Pengembangan kerja sama kelembagaan, termasuk rencana penandatanganan MoU dengan instansi terkait; Pendaftaran metadata tradisi lisan Maluku dalam proyek internasional serta penguatan dokumentasi digital; Pelaksanaan Festival Tradisi Lisan Maluku sebagai upaya revitalisasi budaya; serta,  Pengembangan industri kreatif berbasis tradisi lisan melalui produksi video dan film.

Selain itu, Bidang Pemberdayaan menegaskan komitmen ATL Maluku untuk menjembatani kerja sama dengan berbagai pihak dalam rangka melindungi dan memberdayakan aset-aset tradisi lisan di daerah.

Musda juga menghasilkan keputusan penting, yaitu terpilihnya Dr. Mariana Lewier, S.S., M.Hum. sebagai Ketua ATL Maluku Periode 2026–2030.  Sebelumnya, Mariana juga memimpin ATL Maluku sejak 2017.  Pada periode pertama, 2009-2016, ATL Maluku dipimpin  Prof Thomas Frans.

Kepemimpinan baru ATL Maluku 2026-2030 diharapkan mampu membawa organisasi semakin progresif dalam pelestarian dan pengembangan tradisi lisan di Maluku. (Fel/ATL)

Belum Punya Izin, Bos Mutiara Lik Rajin Kirim Amplop ke Pejabat Malra

0

Maluku.news – Nun jauh di Pulau Lik (Liek) di dekat Pulau Warbal, Maluku Tenggara, Perusahaan Mutiara Lik bercokol. Belum banyak orang ke sana, namun mendadak nama Pulau Lik dan perusahaan tersebut viral. Semua ini karena kematian karyawati bernama Veronika Rahanyanat (25) di RSUD Karel Sadsutubun Langgur, 19 Februari 2026 lalu.

Kematian Veronika menjadi tanda tanya besar bagi publik. Ada tanda-tanda kekerasan fisik di tubuhnya. Sekurangnya ada lebam di enam bagian tubuhnya. Akan tetapi dokter di RSUD menerangkan dalam visum, hanya ada dua titik lebam.

Kapolres Rian Suhendy lebih soe lagi. Dia menjelaskan, tanda lebam di tubuh Veronika terjadi dalam perjalanan dari Pulau Lik ke Debut. Kapolres ingin meyakinkan publik bahwa Veronika tidak mengalami kekerasan sebelum meninggal.

Penjelasan Kapolres itu berdasarkan keterangan saksi-saksi yang mengantar Veronika. Warga menilai, Kapolres Malra tidak profesional karena tidak melakukan penyelidikan mendalam. Keterangan seluruh saksi langsung dipercaya, dan Kapolres mengabaikan relasi kuasa antara bos perusahaan dan karyawannya.

Perkara ini muncul karena kakak kandung Veronika yakni Simon Rahanyanat sendirilah yang pergi melapor dugaan kekerasan terhadap adiknya. Belakangan, ada seorang dosen di Tual menjadi negosiator antara perusahaan dengan keluarga Veronika. Hasilnya, perusahaan mutiara itu menyerahkan santunan kepada keluarga korban, dan perusahaan meminta laporan polisi dicabut.

LEGALITAS PERUSAHAAN

Selain dugaan kekerasan yang dialami Veronika, bersamaan dengan itu, sejumlah pihak mempertanyakan legalitas Perusahaan Mutiara Lik. Kapolres Malra AKBP Rian Suhendy kemudian menyatakan, perusahaan mutiara itu tidak memiliki surat izin.

Pernyataan Kapolres itu disampaikan di hadapan masa demontran yakni Aliansi Peduli Perempuan Kei (APPK) yang terdiri dari Gerakan Edukasi Perempuan (GepKei) dan OKP cipayung Kota Tual dan Maluku Tenggara, sabtu (28/2/2026) di Mapolres Malra.

Seminggu setelah pernyataan Kapolres tersebut, muncul penjelasan Kepala Seksi Humas Polres Maluku Tenggara Ipda Wandi Puasa yang menyatakan,
Dari hasil penelusuran penyidik, perusahaan mutiara tersebut memiliki dokumen perizinan usaha dan tercatat secara resmi di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kabupaten Maluku Tenggara.

Wandi sebut, semula kegiatan budidaya mutiara di Pulau Lik tercatat sebagai usaha perorangan. Penanggungjawab budadaya tersebut Herman Sukendy lantas mengajukan permohonan izin usaha, 28 Juni 2016. Status usaha perorangan itu kemudian diperbarui menjadi badan usaha. Lantas pada 19 Mei 2025, usaha tersebut tercatat kembali dengan nama CV Samudera Pearl dengan Herman Sukendy sebagai direktur.

Izin Usaha Perikanan kepada perorangan Herman Sukendy dengan kop surat Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara yang disebut Wandi, mendapat tanggapan dari dua orang ASN di Dinas Perikanan dan Kelautan Malra dan Kota Tual. Dua ASN itu sama-sama menjelaskan, sejak tahun 2014, sudah ada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2024 tentang Pemerintahan Daerah. Menurut UU ini, penerbitan surat izin perusahan perikanan sudah menjadi kewenangan Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Maluku, bukan kabupaten seperti yang dijelaskan Wandi.

Sumber Maluku.News dari seorang pejabat di Tual juga menjelaskan hal yang sama dengan dua kedua ASN. Sumber itu menjelaskan, Perusahan Mutiara Lik belum memiliki izin Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (KKPRL) dari Kementrian Kelautan Perikanan (KKP) RI.

“Pihak perusahan baru memproses izinnya, sedangkan izin operasionalnya yang saat ini diganti dengan nama, Nomor Induk Berusaha (NIB) sudah dimiliki perusahan sejak aturannya masih berada di Kabupaten Malra, maupun saat ini beralih ke Provinsi Maluku sesuai UU Nomor 23 Tahun 2014. Dong memang balum punya ijin KKPRL dari Kementrian Kelautan Perikanan,” tegas pejabat tersebut.

Dia menambahkan, saat ini surat izin perusahan mutiara diproses secara online, sehingga surat izin sudah menjadi kewenangan pemerintah pusat, bukan kewenangan Provinsi Maluku lagi.

“Karena ijin sekarang berbasis online, didaftarkan langsung perorangan Nomor Induk Berusaha (NIB) di OSS jadi tidak melalui Dinas Perikanan Kabupaten dan Provinsi,” jelasnya.

AMPLOP UNTUK PEJABAT

Sumber Maluku.News yang lain menyebutkan, selama ini Perusahan Mutiara Lik tidak memiliki surat izin usaha perikanan (SIUP), namun biasanya pengawasan dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Malra dan Provinsi Maluku.

Menurut sumber itu, dirinya selalu menyerahkan amplop dari pihak Perusahaan Mutiara Lik kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Kab Malra dan Provinsi Maluku.

“Saya pernah membawa amplop dari Perusahaan Mutiara Lik kepada Kadis Kekautan dan Perikanan Malra maupun Maluku,” ujar sumber itu, tanpa menyebut nama kadis yang mana tahun berapa.

Menurut dia, amplop-amplop itu sebagai kompensasi agar dinas tidak mempersoalkan kelengkapan dokumen perizinan yang dimiliki perusahaan. Lebih-lebih, beberapa perusahaan mutiara di Kei sering mengaku-ngaku saja sebagai bagian dari perusahaan Nusantara Pearl.

Konfirmasi kepada pejabat pemerintah perihal amplop-amplop ini belum didapat. Pejabat di Dinas Kelautan dan Perikanan Malra hanya membaca pesan WA namun belum merespons. Sedangkan pejabat di Dinas Kelautan dan Perikanan Maluku sudah memberi keterangan, tetapi kemudian melakukan embargo sehingga keterangannya tidak boleh diberitakan.

Dari Perusahaan Mutiara Lik, wartawan sudah beberapa kali ke Kantornya di Jalan Jenderal Sudirman Langgur namun kantor itu sepi. Pintunya pun selalu tertutup.

Wali Kota Ambon Pastikan Keamanan Malam Takbiran hingga Salat Idulfitri

0

Ambon, Maluku.news — Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, memastikan pemantauan keamanan dilakukan secara intensif sejak malam takbiran hingga pelaksanaan salat Idul Fitri 1447 Hijriah di Kota Ambon.

Pemerintah Kota Ambon bersama aparat keamanan dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) melakukan pengawasan guna menjaga situasi tetap aman dan tertib.

“Melalui Polresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease bersama seluruh unsur Forkopimda, kami melakukan pemantauan untuk memastikan semuanya berjalan dengan baik,” kata Bodewin saat mengikuti video conference pemantauan kamtibmas di Gong Perdamaian Dunia Ambon, Jumat (20/3/2026).

Selain mengimbau warga merayakan malam takbiran secara tertib dan damai, Wali Kota juga mengajak masyarakat menjaga keamanan saat umat Islam melaksanakan salat Idulfitri.

“Pastikan seluruh umat Islam dapat merasakan kenyamanan dalam melaksanakan salat Idul Fitri dan merayakan hari kemenangan,” ujarnya.

Kegiatan video conference tersebut turut diikuti Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, bersama unsur Forkopimda Provinsi Maluku.

Pemantauan situasi keamanan ini juga melibatkan Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Tentara Nasional Indonesia serta sejumlah pejabat pemerintah pusat dari Jakarta, merujuk pada surat telegram Kapolri Nomor STR/62/III/OPS.1.1./2026 tertanggal 16 Maret 2026.

Di kesempatan yang sama, Gubernur menjelaskan pemerintah daerah bersama aparat keamanan terus memantau kondisi di sejumlah wilayah di Maluku, khususnya menjelang malam takbiran dan pelaksanaan salat Idulfitri.

“Kami baru saja mengikuti vicon dengan Kapolri dan Panglima TNI untuk memantau situasi persiapan malam takbiran dan pelaksanaan salat Id,” jelasnya.

Menurutnya, hasil pemantauan melalui layar monitor menunjukkan situasi di Ambon berlangsung aman dan kondusif. Ia pun mengapresiasi kedisiplinan masyarakat dalam mematuhi aturan yang ditetapkan aparat keamanan.

“Saya lihat masyarakat Kota Ambon cukup disiplin. Kita bersyukur malam takbiran ini bisa berlangsung dengan baik,” ujarnya.

Ia berharap kondisi tersebut tetap terjaga hingga perayaan Idulfitri berakhir. Masyarakat dipersilakan merayakan dengan penuh suka cita, namun tetap dalam koridor aturan.

“Malam takbiran hanya setahun sekali. Warga boleh bergembira, yang penting tetap tertib dan sesuai aturan,” harapnya.

Pertemuan daring itu juga diikuti Kapolda Maluku Dadang Hartanto, Pangdam XV/Pattimura Putranto Gatot Sri Handoyo, Kabinda Maluku R. Harys Mahhendro, Dankoarmada IX Hanarko Djodi Pamungkas, serta sejumlah pejabat daerah lainnya.

Bayi Dalam Tas Biru Tutup Usia, Wa Ode Beri Sentuhan Cinta Terakhir

0

Ambon, Maluku.News – Bayi tak dikenal yang ditemukan warga Tahoku Negeri Hila Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah, tutup usia tidak lama setelah ditemukan.

Sang bayi meninggal dunia di Puskesmas Hila, justru ketika dokter berusaha menyelamatkannya, dan polisi sedang berupaya menyelidiki asal usulnya.

Bayi tak dikenal itu pertama kali ditemukan remaja bernama Armin Kapitanhitu di depan pintu rumahnya di Tahoku, Hila, Rabu (18/3/2026).

Semula, Armin membuka pintu rumah dan melihat tas biru di depan pintu. Perasaannya tidak enak melihat tas tersebut. Armin pun mengambil kayu lalu membawa ke seberang jalan.

“Seng tau ini apa, akang bagara-bagara,” kata Armin kepada La Munu yang bertanya padanya.

La Munu malah memberi peringatan, jangan sampai isi tas itu adalah ular. Sebab itu, Armin meletakkannya di seberang jalan depan rumahnya.

Tidak lama kemudian, muncul suara tangis dari dalam tas. La Munu dan Armin kaget. Keduanya pun menyelidiki dan ternyata bayi perempuan terbungkus kain batik dalam tas biru tersebut.

Udin Launuru membawa bayi tersebut ke Puskemas Hila. Sayang sekali, nyawa sang bayi tidak tertolong. Padahal, dokter sedang berusaha menyelamatkannya, dan polisi baru mulai mengusutnya.

EMPATI MAMA WA ODE

Sebenarnya, jika bayi tak dikenal itu tetap hidup, sudah ada perempuan yang ingin merawatnya sebagai anak. Niat suci itu tidak terlaksana sebab sang bayi keburu meninggal.

Begitu mengetahui sang bayi meninggal, muncullah Mama Wa Ode. Dia menawarkan diri agar jenazah sang bayi di bawa ke rumahnya.

Wa Ode adalah perempuan beranak lima. Sehari-hari dia bekerja sebagai petani. Orangnya sedehana. Bayi tak dikenal itu bukan kerabatnya, tetapi dia rela mengurus jenazah sang bayi.

“Kasihan, dia seng punya siapa-siapa,” ujar Mama Wa Ode.

Tidak diketahui siapa orang tua sang bayi, siapa yang tega membuang bayi tersebut di Tahoku. Akan tetapi, di saat-saat terakhir, masih ada cinta untuk sang bayi. Sentuhan cinta terakhir itu datang dari Mama Wa Ode.

Bayi Terbungkus Batik Dalam Tas Biru Ditemukan di Hila

0

Ambon, Maluku.News – Heboh pagi-pagi di Tahoku, Negeri Hila Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Seorang bayi ditemukan di sisi jalan, depan rumah warga. Bayi dalam keadaan hidup terbungkus kain batik.

Bayi perempuan itu ditemukan di depan rumah keluarga Kapitanhitu, persis di depan pintu. Ceritanya, remaja bernama Armin Kapitanhitu (15) terbangun lalu membuka pintu depan. Dia kaget menemukan tas kain berwarna biru.

Melihat tas dengan isi mencurigakan, Armin jadi cemas. Dia mengambil sepotong kayu lalu mengangkat tas dan membawa ke seberang jalan. Seorang warga yang berada di dekat situ bertanya kepada Armin, apa yang dibawa ke seberang jalan.

“Seng tau ini apa. Akang bagara-bagara,” jawab Armin.

“Awas, jangan sampai isinya ular,” kata warga bernama La Munu

Karena makin cemas dan takut ular, Armin langsung meletakkan tas itu di seberang jalan depan rumahnya. Tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi dari dalam tas itu.

La Munu dan Armin langsung memeriksa isi tas. Ternyata ditemukanlah bayi berkelamin perempuan. Bayi itu terbungkus kain batik.

Warga pun heboh dengan penemuan bayi tersebut. Seorang bapak bernama Udin Launuru kemudian menggendong bayi dan membawanya ke Puskesmas Hila. Dokter me

Warga Hila Firman Wally kemudian melaporkan penemuan bayi ini kepada Polsek Leihitu. Sekitar pukul 10.00 WIT, polisi tiba di Puskesmas. Polisi pun langsung mengambil alih penanganan perkara penemuan bayi perempuan ini.

Peneliti Unpatti dan Balai Bahasa Kembangkan Buku Ajar Bahasa Alune

0

Ambon, Maluku.news – Upaya pelestarian bahasa daerah kembali diperkuat melalui pengembangan Buku Ajar Bahasa Alune Tingkat Dasar oleh tim peneliti lintas institusi.

Kegiatan ini berlangsung pada 6–12 Maret 2026 dengan agenda pengumpulan data lapangan sekaligus verifikasi dan klarifikasi draf buku ajar di sejumlah desa di Kabupaten Seram Bagian Barat.

Desa-desa yang menjadi lokasi kegiatan meliputi Desa Riring, Desa Taniwel, dan Desa Patahuwe di Kecamatan Taniwel, serta Desa Lumoli dan Desa Piru di Kecamatan Piru.

Kegiatan ini bertujuan memastikan bahwa materi dalam buku ajar sesuai dengan penggunaan Bahasa Alune di tengah masyarakat, baik dari segi kosakata, struktur, maupun konteks budaya.

Buku ajar yang dikembangkan difokuskan pada tingkat dasar, dengan sasaran pembelajar pada level kemahiran A1 dan A2 mengacu pada kerangka Common European Framework of Reference for Languages (CEFR). Melalui kerangka ini, materi disusun secara bertahap, mulai dari kemampuan memahami dan menggunakan ungkapan sederhana hingga kemampuan berkomunikasi dasar dalam situasi sehari-hari.

Proses verifikasi dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan penutur lokal, tokoh adat, serta masyarakat setempat. Diskusi dan pencocokan data dilakukan untuk menjaga akurasi bahasa sekaligus mempertahankan nilai-nilai budaya yang melekat dalam Bahasa Alune.

Kegiatan ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Dana Indonesiana pada skema Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan dan Cagar Budaya (KOPK-CB), sebagai bagian dari upaya strategis pemajuan kebudayaan berbasis riset dan pelibatan masyarakat.

Kegiatan lapangan ini merupakan tindak lanjut dari Lokakarya Pendidikan Bahasa Ibu dan Dokumentasi Bahasa yang telah dilaksanakan pada 20–21 Februari 2026. Dalam lokakarya tersebut, tim peneliti bersama para peserta memperoleh penguatan konsep dan metode dari dua narasumber. Kedua narasumber berkompeten di bidang linguistik dan pendidikan bahasa ibu yaitu Satwiko Budiono dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Minda Tahapary dari Yayasan Suluh Insan Lestari, Jakarta.

Tim peneliti dan pengembang Buku Ajar Bahasa Alune terdiri atas Falantino Eryk Latupapua, dosen sastra dan kajian budaya FKIP Universitas Pattimura; Leonora Farilyn Pesiwarissa, dosen linguistik FKIP Universitas Pattimura; Eka Julianty Saimima dari Balai Bahasa Provinsi Maluku; Chrissanty Hiariej, dosen pendidikan bahasa dan sastra Indonesia FKIP Universitas Pattimura; serta Revelino Berivon Nepa, pemerhati dan aktivis bahasa dan budaya Maluku.

Ketua tim Falantino Eryk Latupapua menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penyusunan buku ajar, tetapi juga pada upaya membangun kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga bahasa ibu sebagai bagian dari identitas budaya.

“Bahasa Alune bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga menyimpan pengetahuan lokal dan cara pandang masyarakat terhadap dunia. Karena itu, proses penyusunan buku ajar ini harus melibatkan masyarakat sebagai pemilik bahasa,” ujar Falantino.

Sementara itu, Anggota Tim Eka Julianty Saimima berharap buku ajar yang sedang dikembangkan dapat menjadi bahan pembelajaran yang kontekstual dan mudah digunakan di sekolah dan komunitas.

“Harapannya, buku ini bisa menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal dan menggunakan bahasa Alune secara bertahap, dimulai dari tingkat dasar,” ungkap Eka Julianty Saimima.

Obituarium: Sayang Dilale, Perempuan Buldozer Lies Ulahayanan

0

Ambon, Maluku.News – Kampus IKIP Karamalang Yogyakarta (Sekarang Universitas Negeri Yogyakarta) akhir tahun 1970an. Seorang perempuan jangkung berkulit gelap terlihat di antara aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Ia ikut demonstrasi dan menjadi orator.

Suaranya nan lantang ikut membakar aksi-aksi mahasiswa, pasca Kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK). Kala itu mahasiswa se-tanah air sempat memprotes kebijakan Menteri Pendidikan Daud Jusuf tahun 1978 yang dianggap sangat represif.

Mahasiswa itu tidak lain adalah Aloysia Maria Ulahayanan. Ia populer dengan nama Lies Ulahayanan. Perempuan asal Ohoi Bombay Kei Besar Maluku Tenggara itu beruntung mendapat kesempatan studi di Kota Pendidikan tersebut. Ia mengambil Jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS), Kala itu, perempuan asal Kei yang kuliah di Yogyakarta masih bisa dihitung dengan jari.

Lies lahir di Kei, 12 Februari 1954 sebagai anak kedua dari delapan bersaudara. Ayahnya Josephus Ulayanan, seorang pegawai Kantor Pekerjaan Umum dan Ibunya Sophia Jeujanan.

Lies dibesarkan dalam tradisi keluarga yang disiplin dan keras. Sebab itu, fisik dan jiwanya juga keras. Karakter keras itu sangat menonjol sepanjang hidupnya. Uskup Amboina Mgr P. C. Mandagi MSC bahkan menjuluki Lies sebagai perempuan buldozer.

“Lies ini bagaikan buldozer. Bongkar sana-sini. Maluku dan Keuskupan Amboina bersyukur punya seorang buldozer. Tapi satu buldozer saja sudah cukup, jangan banyak-banyak,” kata Uskup Mandagi.

Ketika kembali dari Yogyakarta, 1979, Lies bekerja di Lembaga Pengembangan Sosial Ekonomi (LPSE) Rinamakana, di Ambon. Waktu itu, Lies masih sarjana muda bergelar Bachelor of Arts (BA). Setelah bekerja setahun, Uskup Andreas Sol MSC mendukung Lies untuk kembali ke Yogyakarta menyelesaikan sarjana lengkap.

Tahun 1982, Lies sudah menyandang gelar Doktoranda (Dra). Ia pulang ke Ambon, kembali bekerja di LPSE Rinamakana. Melalui lembaga ini, Lies banyak kali turun lapangan. Ia berjalan kaki berkilo-kilometer dari kampung ke kampung seperti di Kei Besar atau di Yamdena.

Perjalanan Lies ke kampung-kampung tidak lain adalah mengajak petani mampu bertahan dengan kekayaan dan kekuatan pangan lokal. Selain itu, ia memprovokasi mereka membuat kebun yang lebih besar.

“Saya sudah liat kebun-kebun di sini. Tanahnya subur, tanamannya sehat, namun kebun terlalu kecil. Ayo bikin kebun besar,” ajak Lies dalam pertemuan dengan para petani di Saumlaki.

“Ayo mari kita ucapkan bersama. Kebun besar! Kebun besar! Kebun besar!” seru Lies.

Lies bahkan mengajak para petani untuk meneriakkan bersama-sama dengan suara: Kebun besar!

“Dari zaman nenek moyang, kita ini petani. Bikin kebun besar itu kita sanggup. Ubi, kumbili, kacang, bawang, semua bisa kita tanam. Namun kalau panen, siapa mau beli? Toh semua orang punya!” kata seorang petani.

“Bapa-ibu tanam saja. Saya (Rinamakana) akan beli hasil kebun,” Lies meyakinkan para petani.

Provokasi Lies berhasil. Para petani membuat kebun besar. Hasilnya melimpah dan dibawa ke Ambon. Rinamakana membeli semua hasil kacang ijo dan bawang merah.

Meskipun kemudian menjadi pegawai negeri sipil (PNS), Lies tetap mencintai dunia tani. Dia selalu pegang cangkul, meremas tanah, menanam benih. Dari sayuran, sampai tanaman hias. Semua ini dilakukannya sejak bujangan sampai menikah, bahkan setelah pensiun PNS.

Lies dikenal sebagai perempuan serba bisa. Ia bisa pegang pacul mencangkul tanah, pegang kapak membela kayu, memasak, membuat surat-surat dinas, konsep pidato kepala daerah, menjadi pewara, menjadi narasumber di forum lokal sampai nasional.

Semasa di Rinamakana, Lies juga mengelola penerbitan khusus, sebuah majalah sederhana bertajuk “Aluku Maluku”. Beberapa kali, Lies juga menulis puisi dan membacakannya.

Sebagai PNS, Lies pernah menjabat Kepala Biro Hubungan Kemasyarakatan Kantor Gubernur Maluku, dan terakhir sebagai Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi Provinsi Maluku.

Lies tercatat pernah dua kali menjabat Koordinator Presidium DPD Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Provinsi Maluku. Di lingkaran Gereja Katolik Keuskupan Amboina, Lies dan suaminya Lukas Angwarmase dikenal sebagai tokoh penggerak umat basis di Ahuru. Dari sebuah Rukun, warga Katolik di Ahuru berkembang menjadi Stasi, dan akhirnya sebagai Paroki Santo Yakobus Ahuru.

Pasangan Lies Ulahayanan dan Lukas Angwarmase dikaruniai seorang puteri dan dua putera. Mereka adalah Dian Angwarnase, Dharma Angwarmase dan Adi Angwarmase. Keduanya berbahagia bisa menuntun anak-anak sampai menyelesaikan studi di perguruan tinggi.

Pada hari Kamis, 12 Februari 2026 lalu, Lies sangat berbahagia di tengah keluarga, kerabat, dan para tetangga di Kusu-Kusu, rumah kediamannya. Saat itu, ada ibadat sabda untuk syukuran ulang tahunnya yang ke-72.

Satu bulan setelah perayaan ulang tahun itulah, tiba-tiba kondisi kesehatannya menurun. Lies sempat dirawat di Rumah Sakit Siloam selama tiga hari, sebelum akhirnya ia menghembuskan nafas yang terakhir.

Di rumah duka Kusu-Kusu, Rabu (11/3/2026) malam, Pastor Tino Ulahayanan MSC memimpin misa. Sedangkan pemakaman almarhum akan dilaksanakan hari Sabtu (14/2/2026) di Kusu-Kusu.

Letak makamnya kelak di bawah rindang pohon gaharu, jambu, nangka, dikelilingi bogenvil, gadihu, dan aneka pusparagam yang ditanamnya dengan tangan sendiri.

Lies Ulahayanan telah pergi. Ia meninggalkan suami, tiga orang anak, menantu, dan tiga cucu.

Lies pernah berperan sebagai “tangan kanan” Gubernur Karel Albert Ralahalu dan Sofia Ralahalu. Justru pada posisi itu, ia pun tersandung lalu jatuh. Akan tetapi Lies tidak hancur lebur. Sang buldozer itu bangkit sebagai perempuan baja sampai akhir hayat. Sayang dilale! (Rudi Fofid)

Iksanul Kamil, Penyair Remaja Pulau Buru yang “Paksa Dewasa”

0

Ambon, Maluku.News – Red Bricks Cafe and Resto di Karang Panjang Ambon, hari itu dipenuhi lebih seratus aktivis dunia literasi. Kebanyakan mereka berstatus mahasiswa dan pegiat komunitas sastra. Mereka antusias mengikuti Pesta Literasi Indonesia yang diselenggarakan Gramedia Jakarta dan Jazirah Timur Labuan Kata, Ambon, Sabtu (20/9/2025).

Ada serangkaian kegiatan menarik seperti diskusi, pemutaran film, stand up comedy, musikalisasi puisi, dan pembacaan puisi. Salah satu penyair yang diundang membacakan puisinya bernama Iksanul Kamil.

Iksa, begitu biasanya dia disapa. Bertubuh mungil, wajah imut, kumisnya belum tumbuh. Maklum saja, dia baru usia 15 tahun dan duduk di kelas 2 SMK. Di Red Brick, hari itu, dia duduk di sisi ruangan, tenggelam di antara pegiat-pegiat senior yang sudah punya nama.

Ketika namanya dipanggil, dia maju dengan langkah pasti. Tidak ada keraguan sedikitpun. Dia memberi sedikit pengantar, lalu membaca dua puisinya berjudul “Tanah Ini?” dan “Nyanyian Jam Tiga Pagi”.

“Kalian menyebutnya investasi/ tapi tak ada dividen/ untuk sungai yang bisu/ dan anak-anak yang kehilangan/ suara burung tiap pagi!” Begitulah satu bait dari puisi “Tanah Ini?”.

Beberapa penyair saling memandang ketika Iksa membacakan puisi-puisinya. Diksi-diksinya tidak biasa, bahkan terlalu dewasa untuk penyair belia yang masih remaja. Iksa tidak menulis dunia “asmara remaja” seperti lazim penyair remaja. Dia merambah ke kedalaman tema negara dan advokasi terhadap perampasan ruang hidup.

Sebagai anak baru dalam “geng” Bengkel Sastra Maluku, Iksa ternyata baru pertama tampil baca puisi di depan umum. Panggung Pesta Literasi Indonesia di Red Brick itulah pengalaman naik pentas pertama kali.

“Beta merasa sangat gugup sekali tetapi juga senang dan bangga,” ujar Iksa.

ANAK TULEHU YANG MERANTAU KE BURU

Iksa adalah putra bungsu dari dua bersaudara anak pasangan Nopri Yanto dan Nurtaif Tawainella. Dia lahir di Tulehu, 27 November 2008. Dalam usia sangat belia, Iksa sudah hidup berpindah-pindah mengikuti orang tuanya.

Dia lulus SD 014 Duren Tiga Jakarta Selatan, lalu SMP Negeri 3 Salahutu, Maluku Tengah. Sekarang, dia duduk di SMK Negeri 3 Buru Selatan. Hidup berpindah membuat Iksa mengalami banyak perjumpaan dengan orang berbeda dan suasana berbeda pula.

Karena pindah ke Namrole di Buru Selatan, mengikuti orang tua, Iksa punya banyak waktu di Namrole. Dari Pulau Buru inilah, Iksa melahirkan antologi puisinya yang pertama berjudul “Di Tanah Yang Pernah Bernama Pulang”. Penerbitnya Teori Kata Publishing Cirebon, 2025. Buku ini diluncurkan Januari 2026.

Antologi puisi 124 halaman ini berisi 45 judul puisi karya Iksa. Iksa membagi 45 puisi itu dalam lima bagian. Bagian I, Tanah Yang Pernah Bernama Pulang. Bagian II, Tubuh Sebagai Medan. Bagian III, Luka Yang Diam-Diam Tinggal. Bagian IV, Tumbuhan Liar di Dalam Dada. Bagian V, Aku yang belajar Menyebut Diri Sendiri.

MOTIVASI DARI KELAS DI SMP 3 SALAHUTU

Iksa mengaku menulis puisi sejak kelas 5 SD di Jakarta. Dia mengidolakan penyair Theoresia Rumthe dan Eko Saputra Poceratu. Buku Antologi Puisi “Janda Bukan Beranda” oleh Eko Saputra Poceratu bahkan menjadi buku puisi pertama yang jadi sumber belajar bagi Iksa.

“Pada dasarnya beta suka baca, lalu di kelas satu atau dua SMP, beta baca buku ‘Janda Bukan Beranda’ karya Eko Saputra Poceratu. Buku itu memicu rasa penasaran dan ketertarikan, seperti apakah puisi. Lalu beranjaklah ke tahap berusaha memahami bagaimana cara meromantisasi kata dan tulisan dalam sajak-sajak, singkat. Semuanya dipelajari sendiri,” kata Iksa.

Selain punya idola, Iksa punya seorang motivator yang mendorongnya menjadi penyair. Sang motivator bukan penyair besar atau penyair tenar. Motivatornya justru seorang kakak kelas di SMP Negeri 3 Salahutu. Namanya Syifa Tuasalamony.

Waktu itu Iksa kelas 1 sedangkan Syifa kelas 3. Keduanya sama-sama suka menulis puisi. Iksa masih ingat kata-kata Syifa yang mendorongnya untuk terus menulis dan jangan berhenti.

“Beta mau baca ose tulisan seng cuma sekali, tetapi beta juga seng mau baca akang dalam bentuk file, beta mau itu jadi buku yang bisa beta bawa ke mana-mana, yang bisa beta baca di sela-sela waktu sambil tunggu ampas kopi turun ke dasar gelas,” kata Syifa, waktu itu.

Iksa ingat pula, Syifa menyebutkan rangkaian kata yang lebih “membakar”.

“Ose seng akan pernah gagal kecuali ose barenti coba, Cil (Cil, Kecil, sebutan Syifa untuk Iksa). Terus berusaha lari selagi ose kaki masih bisa untuk berlari, selagi ose kaki masih belum tua dan renta, Cil,” begitu kata-kata Syifa.

Ketika buku Antologi Puisi “Di Tanah Yang Pernah Bernama Pulang” diluncurkan Januari 2026, Iksa menyerahkan bukunya kepada Syifa, sang motivator yang kini kuliah di Fakultas Hukum Universitas Pattimura Ambon.

“Bukunya bagus sih. Bagi beta, bukunya menunjukkan ose ciri khas yang selama ini beta tau itu bagaimana. Banyak makna yg tersirat di sana. Banyak ose pung kisah yang bisa beta lihat tertuang di dalam buku itu. Overall bagus dan sesuai dengan beta ekspektasi waktu bilang ose untuk bikin buku karena memang sedari awal beta pun tahu ose punya bakat untuk itu. Selain itu, bisa bawa ose buku ke mana-mana, itu salah satu beta impian sedari lama,” begitu komentar Syifa terhadap Antologi Puisi Iksa.

Iksanul Kamil masih belia. Namun puisi-puisinya terasa dewasa bahkan ‘paksa dewasa’. Beberapa pembaca awam bahkan memberi komentar tentang Bab II bukunya. Puisi-puisi itu, menurut mereka, tidak cocok dengan usia Iksa karena vulgar atau sensual. Iksa sendiri merasa tidak begitu.

Bagaimanapun, Iksa sudah memilih jalan seni, sekalipun baru di titik awal. Jalan masih panjang bagi remaja yang ingin mendalami teater ini. Ambon, Tulehu dan Buru, adalah kampung halaman para seniman besar, dan Iksa tumbuh di tengah atmosfir ini.

Diskominfo Ambon Pastikan Jaringan Layanan Publik Berfungsi Optimal

0

Ambon, Maluku.news – Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian (Diskominfo) Kota Ambon memastikan kondisi jaringan pada sejumlah titik vital pelayanan publik berada dalam status normal dan optimal setelah dilakukan pengecekan rutin oleh tim teknis.

Kepala Diskominfo dan Persandian Kota Ambon, Ronald Lekransy, mengatakan pengecekan tersebut merupakan bagian dari upaya mendukung transformasi digital serta menjaga kelancaran administrasi pemerintahan di lingkungan Pemerintah Kota Ambon.

Adapun lokasi yang menjadi fokus pemeriksaan meliputi komputer pelayanan pada Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Kota Ambon serta Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Ambon.

“Pengecekan ini penting untuk memastikan seluruh sistem pelayanan publik berbasis digital berjalan tanpa hambatan, sehingga masyarakat tetap terlayani dengan cepat dan efisien,” ujar Ronald Lekransy di Ambon, Jumat (6/3/2026).

Ia menjelaskan, tim teknis memeriksa sejumlah aspek teknis secara menyeluruh, mulai dari stabilitas bandwidth, kualitas kabel LAN, hingga performa perangkat jaringan seperti switch dan router.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi gangguan tersembunyi, seperti packet loss maupun request timed out (RTO), yang berpotensi menghambat akses aplikasi pelayanan.

Menurutnya, pengecekan rutin memiliki beberapa tujuan utama, yakni menjamin kelancaran layanan kepada masyarakat, mendeteksi dini potensi gangguan jaringan, serta memastikan keamanan dan stabilitas jalur data, terutama dalam menunjang transaksi pelayanan pajak dan perizinan.

“Hasil pengecekan hari ini menunjukkan kondisi jaringan di kedua OPD dalam status normal dan optimal,” kata Lekransy.

Ia menegaskan, Diskominfo Ambon akan terus menjaga kesiapan dan konektivitas jaringan di seluruh perangkat daerah guna mendukung pelayanan publik berbasis digital yang lebih cepat, responsif, dan terpercaya.

Kuota Haji Maluku Turun Drastis, DPRD Minta Penambahan

0

Ambon, Maluku.news — Kuota haji untuk Provinsi Maluku tahun 2026 mengalami penurunan signifikan. Dari sebelumnya 1.086 jamaah pada tahun 2025, kuota haji Maluku kini tersisa hanya 587 jamaah, atau berkurang sebanyak 499 orang.

Kondisi ini menjadi perhatian serius Komisi IV DPRD Provinsi Maluku dalam rapat bersama Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umroh Maluku, Hj Djumadi Wali, Kamis (29/1/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Djumadi menjelaskan bahwa pengurangan kuota terjadi akibat kebijakan rasionalisasi antrean haji secara nasional oleh Kementerian Haji dan Umroh yang baru. Kebijakan tersebut bertujuan menyamakan masa tunggu haji di seluruh daerah di Indonesia menjadi rata-rata sekitar 26 tahun.

“Di Maluku antrean haji sekitar 15 tahun, sementara di provinsi lain bisa mencapai 30 bahkan 40 tahun. Karena dirasionalisasi secara nasional, maka Maluku terkena dampak penurunan kuota yang sangat signifikan,” ujar Djumadi.

Ia menambahkan, pihaknya bersama DPRD Maluku akan segera melakukan koordinasi dengan kementerian terkait di Jakarta untuk memperjuangkan agar Maluku bisa menjadi daerah prioritas dalam pembagian kuota haji ke depan.

“Tahun mendatang minimal Maluku harus diperjuangkan sebagai prioritas, supaya kekurangan kuota ini tidak berulang,” tegasnya.

Djumadi juga menjelaskan bahwa pembagian kuota haji untuk 11 kabupaten/kota di Maluku kini tidak lagi ditentukan melalui keputusan gubernur. Sistem yang digunakan saat ini sepenuhnya berdasarkan daftar tunggu (waiting list) dalam sistem komputerisasi haji nasional.

“Siapa yang mendaftar lebih dulu, dia yang berangkat lebih dulu. Tidak menutup kemungkinan tahun ini Ambon paling banyak, tahun depan bisa kabupaten lain,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Maluku, Saoda Tethol, menilai kuota 587 jamaah tidak mencerminkan kebutuhan riil masyarakat Maluku.

Ia memaparkan pembagian kuota tahun 2026 yang dinilai timpang, di antaranya Ambon sebanyak 465 jamaah, Kabupaten Maluku Tengah 50 jamaah, Kabupaten Maluku Tenggara 3 jamaah, Kabupaten Seram Bagian Barat 8 jamaah, Kabupaten Seram Bagian Timur 11 jamaah, Kabupaten Kepulauan Aru 7 jamaah, Kabupaten Kepulauan Tanimbar 2 jamaah, serta Kabupaten Buru 12 jamaah. Bahkan Kabupaten Buru Selatan dan Kabupaten Maluku Barat Daya tidak mendapatkan kuota sama sekali.

“Kuota ini tidak mencukupi untuk orang Maluku. Faktanya, tahun 2025 lalu saat kami menjemput jamaah haji, yang turun di Maluku itu sedikit, tapi hampir semuanya diisi orang luar,” tegas Saoda.

Ia juga mengungkap temuan Komisi IV DPRD bahwa sejumlah kuota haji Maluku digunakan oleh jamaah dari luar daerah, terutama dari Sulawesi, yang memanfaatkan KTP Ambon atau mendaftar di kabupaten tertentu di Maluku.

“Ini tidak boleh lagi terjadi tahun 2026. Harus selektif. Yang berangkat harus benar-benar orang Maluku, yang berdomisili puluhan tahun di Maluku. Kalau hanya datang daftar pakai KTP, itu tidak boleh lagi,” ujarnya.

Saoda menambahkan, DPRD Maluku akan berkoordinasi dengan sejumlah provinsi lain yang juga mengalami pengurangan kuota haji untuk bersama-sama memperjuangkan penambahan kuota secara nasional.

“Ini bukan hanya Maluku. Banyak provinsi lain juga dikurangi. Kita akan berjuang bersama-sama agar kuota haji bisa ditambah dan lebih adil bagi masyarakat,” pungkasnya.