BerandaOpiniEs Batu, Air Panas, Opa, dan Hati Pahit Maluku

Es Batu, Air Panas, Opa, dan Hati Pahit Maluku

Catatan Rudi Fofid-Jakarta

Maluku.news – Sepasang muda-mudi di Maluku, anak-anak publik figur, pernah viral. Video adegan seks dewasa yang direkam keduanya, beredar luas. Semua orang di daerah mereka sangat kenal wajah dan nama kedua “artis video”.

Ibu sang gadis, sungguh ibu rumah tangga yang kurang bergosip dengan tetangga. Sebab itu, dia buta informasi. Dia tidak tahu sama sekali perihal video tersebut. Suaminya mengajak duduk santai, pada malam hari.

“Ada yang paling heboh, sekarang. Ada nyong dan nona punya video seks beredar di satu antero kota,” kata sang suami.

“Weh, sudah bagaimana itu?” Komentar sang istri.

Lelaki itu mengambil gawai. Ia membuka video, lalu perlihatkan ke istrinya. Persis adegan oral seks.

“Ya, asta. Bisa e. Anak-anak muda manis-manis baru. Mengapa bisa begitu?” Respon istrinya.

Sang suami meletakkan gawainya di meja. Ia melanjutkan pembicaraannya dengan hati-hati.

“Dirimu rasa bagaimana, jika anak perempuanmu bikin kasus seperti itu?”

“Yoo, itu beta hantam dia. Bikin rusak diri, bikin malu keluarga. Beta bikin mati dia,” jawab istrinya.

Sang suami mengambil gawai. Membuka video tadi dan memperlihatkan kembali dari jarak yang sangat dekat dengan mata.

“Coba ko lihat baik-baik. Ko pasti kenal nona di video ini,” katanya.

Sang istri mengamati secara saksama. Tiba-tiba dia panik, lalu meletuslah tangisnya.

“Meilan (bukan nama asli)! Meilaaaan!” Teriaknya sambil berdiri menuju kamar puterinya. Suaminya ikut dari belakang.

Di kamar, sang istri memeluk anak gadisnya. Ibu dan anak perempuannya larut dalam tangis. Lelaki itu pun ikut satu perasaan.

“Ko sudah salah, Meilan. Tetapi ko harus kuat. Ko sudah bikin malu, tetapi ko harus kuat,” kata perempuan itu kepada puterinya.

Peristiwa video Meilan dan kekasihnya cepat berlalu sebab keduanya punya hubungan kekerabatan yang luas. Banyak orang datang memberikan penguatan, membangun rasa percaya diri, sehingga aib itu menemukan jalan tobat, maaf, pengampunan.

Kisah Meilan dan kekasihnya sudah berlalu sekitar 15 tahun lalu. Belakangan ini, sekurangnya ada tiga peristiwa sensual terkait perilaku seksual di Ambon, yang viral secara beruntun. Pertama, “morea air panas”. Kedua, kawanan remaja di kubur cina”. Ketiga, opa dan nona muda. Tarik ke belakang sedikit, semua masih ingat “es batu”.

Rangkaian peristiwa tersebut memiliki kesamaan dan perbedaan. Morea air panas melibatkan dua lelaki melakukan aktivitas seksual secara suka sama suka. Opa dan nona muda maupun es batu, melibatkan pasangan perempuan dan lelaki yang juga suka sama suka. Hanya kawanan remaja di kubur cina yang berbeda. Mereka melakukan aktivitas seksual secara paksa dan kasar.

Empat peristiwa tersebut mempunyai kesamaan yakni aktivitas seksual direkam oleh pelaku atau orang lain yang membantu pelaku. Selanjutnya, hasil rekaman itu muncul di media sosial. Belum terungkap secara jelas, siapa yang berinisiatif menyiarkan di media sosial, dan apa motivasi penyiaran itu. Walau demikian, begitu tersiar, langsung viral seperti pandemi.

Peristiwa paling akhir yakni opa dan nona muda. Seperti peristiwa serupa, viral opa dan nona disertai produksi konten yang mempertebal daya viral. Kata-kata kunci, kincing-berak dikelola, direproduksi secara berulang, disertai emotikon tertawa.

Emotikon tertawa bisa mewakili beragam perasaan. Rasa bahagia, puas, jenaka, konyol, atau ekspresi sinis, bahkan sadisme. Sadisme dari kata sadis, artinya tidak berbelas kasihan.

Kasus Opa dan nona tergolong unik bagi saya pribadi, sebab saya juga dikonfirmasi oleh beberapa pihak termasuk istri saya. Pasalnya banyak orang belum sempat nonton video opa dan nona, tetapi membaca olok-olok di media sosial, baik pada status maupun komentar-komentar.

Pada mulanya, status-status dan komentar-komentar hanya sebagai reaksi spontan, keterkejutan mata menyaksikan kenekatan opa-nona merekam dengan girang, adegan demi adegan. Belakangan, netizen mulai mengelola kata-kata yang menjurus ke ucapan dan tindakan dalam video. Paling terkini adalah penelusuran tentang identitas “aktor-aktris” video opa-nona kincing bera. Hal itu terlihat dengan pemuatan foto wajah secara terang benderang, bahkan pengungkapan nama diri.

Sebagai penulis yang tinggal di Ambon, saya merasa sangat tidak berdaya menghadapi kenyataan opa-nona, morea air panas, kubur cina, es batu, dan kejadian serupa, termasuk yang tidak sempat viral karena cepat dicekal.

Ketidakberdayaan pertama adalah, tidak pernah ada kesempatan bagi saya untuk mengatakan kepada orang-orang, jangan merekam hal yang sangat privasi seperti itu. Akan tetapi, kalau sudah rekam untuk kepentingan sendiri, jaga rekaman tersebut secara sempurna supaya jangan jatuh ke tangan siapapun manusia, iblis, maupun malaikat.

Ketidakberdayaan kedua adalah, saya tidak bisa juga untuk menghadang, melarang, menghardik, memarahi netizen untuk “jangan viralkan”. Sebab setiap punya akun media sosial, dan setiap orang berhak menggunakannya secara otonom.

OPA-NONA Di TENGAH ORANG BASUDARA

Siapakah opa, siapakah nona? Saya tidak kenal secara pribadi. Akan tetapi, satu hal pasti keduanya warga Ambon, warga Maluku. Keduanya katong pung orang. Keduanya pasti katong punya saudara, pela, gandong, teman, tetangga, kenalan.

“Dirimu rasa bagaimana, jika anak perempuanmu bikin kasus seperti itu?” Tanya ayah Meilan kepada ibu Meilan (kasus pada awal tulisan ini).

Pertanyaan ayah Meilan ini juga layak diajukan kepada kita semua, orang basudara. Bagaimana, jika kasus serupa menimpa anggota keluarga kita? Apakah kita akan angkat banting-banting, injak-injak, tumbuk-tumbuk kepada sanak keluarga kita dalam video seperti itu? Ataukah kita berani welas asih seperti Ibunda Meilan yang telah mengangkat puterinya dari keterpurukan paling konyol supaya menjadi kuat, dan tidak bunuh diri karena di-bully netizen?

Tidak ada yang membenarkan perbuatan merekam adegan ena-ena, apalagi sampai menyebarkannya. Hal itu melanggar standar-standar etika publik, melanggar sejumlah aturan hukum, dan pelaku bisa diproses hukum sebagaimana kasus Ariel-Luna.

Opa-Nona juga dapat diproses hukum, dan silakan polisi melanjutkan proses hukum sampai vonis pengadilan, atau menggunakan restorative justice, upaya penyelesaian kasus pidana yang mengedepankan mediasi melibatkan pelaku, korban, dan masyarakat, sebagaimana pernah terjadi dalam kasus es batu.

Bagaimanapun, Opa-Nona adalah katong pung orang, orang basudara. Perilaku keduanya adalah sebuah luka, laksana sayatan di kuku. Kita sering bicara dan menyanyikannya, potong di kuku rasa di daging, ale rasa beta rasa. Dosa seks, pelakunya silakan tanggungjawab kepada Tuhan. Perbuatan pidana, silakan pelaku berurusan dengan penegak hukum.

Sebagai sebuah luka, apakah luka Opa-Nona akan kita biarkan untuk silakan tanggung sendiri, sapa suruh mau barbuat, sandiri suruh sandiri rasa. Apakah begitu?

Ataukah kemesuman video akan kita simpan terus di gawai kita, agar sewaktu-waktu kita bisa buka kembali kapan-kapan suka-suka, menontonnya berkali-kali, lalu membangun imajinasi-imajinasi kita sendiri demi sensasi-sensasi yang kita ciptakan sendiri?

Di balik Opa dan nona, pasti ada orang terdekat. Ibu kandung, istri, anak, yang sama sekali tidak bersalah. Penyebaran identitas pelaku berupa foto dan nama, disertai komentar-komentar yang mempertahankan daya viral demi pandemi yang panjang, hanya akan menambah jumlah orang tidak bersalah menjadi ikut terluka. Kalau kita tetap viralkan peristiwa ini, maka kemesuman telah berpindah dari video ke kepala kita, status media sosial kita. Kemesuman telah menjadi kita, bukan video lagi.

Ribuan tahun silam, kaum moralis Farisi membawa seorang perempuan yang tertangkap berzinah kepada Yesus.

“Hukum Musa ator, parampuang mudel bagini harus loko lepar pake batu sampe mampos. Katong mo dengar, guru mo bilang apa?” Begitu kata juru bicara Farisi.

“Sapa-sapa saja yang rasa diri seng parnah barbuat dosa, lebe bae dia kamuka lot batu par akang parampuang ini,” kata Yesus.

Setelah Yesus berkata begitu, Yesus turun duduk di tanah, lalu tulis-tulis pakai jari di tanah. Waktu Yesus mengangkat wajahnya, tidak ada sesiapa kecuali Dia dan perempuan itu.

“Dong-dong tadi su di mana? Seng ada yang loko batu lempar ale?” Tanya Yesus kepada perempuan itu.

“Seng ada, tuang hati,” jawab perempuan itu.

“Beta lae seng akang lot baru voor ale. Ale pi sudah. Jang bikin barang seng bae kumbalin lae,” kata Yesus.

Tulisan ini, bukan khotbah meskipun ada sepotong cerita dari kitab suci orang Kristen. Juga bukan untuk bikin diri jadi guru yang mengajar anak-anak. Lebih-lebih, tulisan ini tidak untuk menghakimi siapapun baik “aktor-aktris video”, maupun basudara netizen. Saya hanya merasa kita sudah terlalu jauh, dari mesum personal ke mesum publik. Dari bercanda mesum, bakusedo, sampai ke level sadis verbal. Sadis adalah tidak berbelas kasihan. Misalnya, orang sudah berbuat salah, mereka dalam masalah, dirundung susah, sial, kita bagai pukul tifa untuk menyanyi dan menari merayakan kematian karakter mereka.

Sio Ambon, sio Maluku. Katong satu darah saja, katong satu diri saja. Jika satu duri melukai satu diri sampai berdarah, maka katong semua tertusuk duri itu. Sakit! Karena katong masih punya hati pahit.

Tabea!

Jakarta, 25 Juni 2024

RELATED ARTICLES
Google search engine
Google search engine

Most Popular

Recent Comments