Ambon, Maluku.news – Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon terus memperkuat komitmen untuk membuka ruang partisipasi lebih luas bagi penyandang disabilitas, tak hanya lewat pelatihan teknis, tetapi juga mendorong peran mereka dalam kepemimpinan dan pembangunan kota.
Komitmen ini ditegaskan Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, saat membuka Pelatihan Berdasarkan Unit Kompetensi bagi Penyandang Disabilitas yang digelar di Balai Latihan Kerja (BLK) Passo Ambon, Selasa (10/6/2025).
“Program ini adalah bentuk tanggung jawab moral dan sosial kami untuk menghapus kemiskinan sekaligus mendorong pemberdayaan penyandang disabilitas agar mereka punya kesempatan yang setara,” ujar Wattimena.
Sejak 2002, Pemkot Ambon telah bermitra dengan Rumah Generasi untuk merancang berbagai program inklusi, khususnya bagi kelompok rentan. Kini, upaya itu diperluas agar penyandang disabilitas tak hanya jadi peserta pelatihan, melainkan juga menjadi agen perubahan hingga di bidang politik dan kepemimpinan.
Wali Kota juga menegaskan pentingnya pelaksanaan regulasi nasional yang mewajibkan instansi pemerintah mempekerjakan sedikitnya dua persen penyandang disabilitas, sedangkan perusahaan swasta sebesar satu persen.
“Saya mengajak semua perusahaan di Ambon agar membuka lowongan kerja ramah disabilitas. Ini bukan sekadar memenuhi kuota, tetapi penghormatan terhadap hak dasar warga negara,” tegasnya.
Selain keterampilan teknis, Pemkot Ambon juga mendorong penguatan soft skill. Wattimena mencontohkan sosok Putri Adwiani, penyanyi disabilitas asal Indonesia yang mampu menembus panggung internasional.
“Ini bukti nyata bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berprestasi. Kita harus ciptakan lebih banyak ruang dan kesempatan seperti itu,” tambahnya.
Pelatihan ini diikuti 174 peserta, digelar sejak 10 hingga 14 Juni 2025. Perekrutan peserta dilakukan melalui koordinasi antara Dinas Tenaga Kerja Kota Ambon, camat dan lurah setempat, serta didukung oleh Rumah Generasi Ambon. Data peserta disusun sistematis agar sesuai kebutuhan dan minat pelatihan.
Program pelatihan dibagi menjadi dua jenis, yakni pelatihan komputer untuk 24 peserta yang terbagi dalam beberapa kelas berisi maksimal 10 orang, serta pelatihan keterampilan praktis untuk 150 peserta yang terbagi dalam tiga kelas masing-masing 50 orang.
Untuk memastikan kelancaran, setiap kelompok peserta didampingi pendamping khusus yang membantu baik secara teknis maupun emosional selama pelatihan.
Langkah ini diharapkan menjadi pijakan penting menuju Ambon sebagai kota inklusif, di mana penyandang disabilitas dapat terlibat aktif dan setara dalam berbagai bidang pembangunan.




