Laporan Rudi Fofid-Ambon
Ambon, Maluku.news – Brigita Renyaan sempat dicap tidak cocok jadi biarawati karena kaki panjang, banyak keluar biara. Ternyata ia tetap jadi biarawati, dan benar, banyak aktivitas di luar biara.
Di luar biara, ia melakukan banyak hal yang tidak biasa dilakukan seorang biarawati. Pakai bikini renang di depan umum, misalnya. Ia pun sanggup melakukan beberapa hal yang tidak sanggup dilakukan orang awam, termasuk kaum lelaki.
Berikut ini lanjutan kisah Suster Brigita. Beberapa di antaranya sempat tersimpan sebagai rahasia. Akan tetapi setelah waktu berlalu, ia tidak keberatan untuk dibuka. Maluku.news merangkumnya dari pengalaman berjalan bersama selama bertahun-tahun.
4. Jadi PNS Tanpa Tes
Setelah menjadi biarawati dan guru, Suster Brigita kuliah sampai meraih gelar sarjana di Universitas Pattimura. Aktivitasnya selalu di Jalan Pattimura sebab di ia tinggal di Biara PBHK, mengajar di SD Xaverius, dan terlibat di Paroki Katedral.
Di tengah kesibukannya, ada saja utusan pejabat pemerintah datang menemuinya. Mereka minta fotokopi ijazah dan transkrip nilai. Suster sempat bertanya, untuk apa berkas itu. Ia mendapat penjelasan tidak memuaskan tetapi tetap saja berkas itu ia serahkan.
Lain waktu, utusan pejabat pemerintah itu minta pasfoto, minta fotokopi KTP, dan sebagainya. Suster kembali menanyakan kepentingan apa, mereka menjawab saja bahwa untuk kepentingan suster.
Belakangan, turunlah SK Pengangkatannya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Hal ini mengejutkan sebab sebagai biarawati Katolik, ada aturan yang membatasinya. Melalui pendekatan dengan Uskup Andreas Sol serta pimpinan PBHK Indonesia, akhirnya ia mendapat izin menjadi PNS.
Bagi Brigita, menjadi PNS atau tidak, sama saja. Ia tetap mengajar sebagai guru. Bertahun-tahun ia setia di depan kelas mengasuh anak-anak, membina iman dan mental mereka.
Dari segi finansial, juga sama saja sebagai PNS atau non PNS. Sebab gaji sebagai PNS dan seluruh pendapatannya tidak ia pakai. Semuanya diserahkan ke bendahara konggregasi PBHK, tempatnya bernaung. Bagi para biarawati, hal semacam ini sudah biasa.
Setelah malang-melintang sebagai biarawati yang PNS, Suster Brigita kemudian ditarik dari sekolah. Ia ditempatkan di Dinas Pendidikan dan Olahraga Kota Ambon, sampai pensiun.
“Mungkin ini pertama kali di Indonesia, seorang biarawati masuk kantor pemerintahan dengan busana biarawati,” tulis Suster Brigita di akun facebooknya, baru-baru ini.
5. Andalkan Kerudung Demi Pengungsi Buru
Sebagai biarawati aktivis, Suster Brigita mendapat izin tinggal di luar biara. Bahkan, ia pun mendapat izin tidak mengenakan busana biarawati di depan umum, untuk pertimbangan tertentu.
Suster tidak berkerudung ketika hampir 20 keluarga asal Pulau Buru datang di rumahnya di samping Pabrik Roti Sarindah. Mereka mengeluh betapa sulitnya mereka mengurus bantuan di Dinas Sosial Provinsi Maluku. Bahkan, nama mereka pun belum terdaftar sebagai pengungsi karena berkas belum lengkap.
Suster pun tergerak. Ia meminta berkas yang sudah disiapkan lalu bersama pengungsi menuju Dinas Sosial di Karangpanjang. Ternyata benar. Petugas di sana menyuruh antri karena masih urus pengungsi yang lain. Sudah menunggu lama, diminta lagi, esok saja baru kembali. Ketika kembali, petugas meminta lagi sejumlah surat keterangan dari lokasi asal. Pengungsi pusing, sebab bagaimana mengurus surat keterangan dari tempat yang mereka tinggalkan nun di Buru sana?
Karena sudah tiga hari bolak-balik dan tetap saja berkas pengungsi asal Buru itu masih ditolak, suster hampir habis kesabarannya. Ia pun menghadap Kepala Dinas, menyampaikan rumitnya pendaftaran pengungsi di Dinas Sosial.
Kepala Dinas pun memanggil petugas dimaksud. “Mengapa berkas pengungsi Buru ini tidak diterima, padahal suster sudah tiga hari menghadap anda?” Tanya sang kadis.
Petugas itu berkelit. Sepanjang tugasnya, tidak pernah seorang biarawati datang berurusan dengannya.
Meskipun menerima berkas pengungsi Buru dari Suster Brigita, petugas itu masih ngomel.
“Kalau urusan begini, langsung saja di meja saya, jangan main tembak langsung ke kepala dinas,” kata petugas itu.
Suster menjelaskan, lantaran sudah tiga hari ditolak, makanya suster ke kepala dinas. Sang petugas kembali ngotot tidak pernah urusan dengan suster, sebelum ini.
“Hari ini baru saya datang dengan busana biarawati. Tiga hari kemarin saya datang dengan pakaian preman,” jelas suster.
Petugas itu kemudian meminta dimaklumi, karena tidak kenal suster dalam tiga hari itu.
“Kalau pakai pakaian begini, kan saya bisa kenal dan langsung proses. Maaf, kemarin itu suster tidak tampil begini, jadi saya tidak tahu,” kata sang petugas.
Mendengar itu, suster meter kandas.
“Oh, jadi rakyat biasa yang datang tanpa atribut, tanpa koneksi, semuanya tidak perlu dianggap sebagai manusia yang harus dilayani?” Begitulah Suster menghardik petugas itu.
Alhasil, para pengungsi Buru itu akhirnya bisa dilayani sampai memperoleh hak-haknya.
6. Bangun PAUD dengan Modal Rp50 Ribu
Suster Brigita sempat berkantor di Jalan Rijali, Ambon. Ia mendapat pinjaman bangunan milik pengusaha Josep Lokan secara cuma-cuma.
Karena bertahun-tahun ia selalu dekat dengan dunia anak-anak, maka terpikir olehnya untuk membangun PAUD di tempat itu. Akan tetapi, Suster masih menunda operasional PAUD. Alasannya, ia belum punya cukup dana untuk membayar para pengajar di PAUD.
Kerinduan membuka PAUD itu akhirnya dilontarkannya kepada kerabatnya Keety Renwarin. Keety bertanya, kendala di mana, Suster menjawab, dia belum punya uang untuk membayar honor dan ongkos transport para instruktur PAUD.
“Di dompet Suster ada berapa rupiah?” Tanya Keety.
Suster membuka dompetnya sambil tertawa. Hanya Rp50 ribu. Keety menyambar uang biru itu lalu pergi. Esoknya Keety kembali dengan makanan ringan dalam kemasan yang diproduksinya sendiri.
Setiap hari Suster dan stafnya menjual makanan ringan itu. Setelah beberapa kali produksi dan penjualan berhasil, Suster sudah punya modal awal untuk membayar transportasi dua pengajar PAUD.
PAUD Kasih Mandiri itu pun akhirnya beroperasi selama lebih sepuluh tahun sampai Suster pindah dari Ambon ke Kei.
7. Dihadang Laskar Jihad
Dalam suasana konflik di Ambon, Suster Brigita meminta izin Kepala SD Xaverius, tempatnya mengajar untuk sementara dirinya tidak aktif di sekolah.
“Anak-anak Ambon butuh trauma healing,” jelasnya.
Suster pun mengunjungi anak-anak di berbagai tenda pengungsi.
Suatu ketika, Suster mempertemukan anak-anak Muslim dan anak-anak Kristen di satu tempat untuk bisa bermain bersama. Ketika anak-anak Kristen sudah berada di lokasi yang ditentukan, Suster pergi menjemput rombongan anak-anak Muslim di Batumerah.
Semuanya berjalan mulus. Tetapi tiba-tiba, dalam perjalanan, muncullah seorang pria berbadan besar mengenakan busana laskar dengan pedang panjang. Suster langsung yakin, lelaki itu adalah anak buah Panglima Laskar Jihad Jafar Umar Thalib.
“Mau bawa anak-anak Muslim ke mana?” Tanya pria itu.
“Mau pertemukan dengan anak-anak Kristen,” jawab Suster.
“Tetapi mereka Muslim. Untuk apa bawa mereka ke wilayah Kristen?” Tanya lelaki itu lagi.
“Ya, kalian orang dewasa perang, dan mereka ini hidup dalam ketakutan dan trauma. Jadi saya bawa mereka untuk hilangkan ketakutan itu. Apa tidak boleh?” Tanya Suster.
Lelaki itu memandang sebentar. Ia melihat anak-anak Muslim berlindung di belakang Suster. Sejenak kemudian barulah dia bicara tegas.
“Boleh bawa mereka. Tetapi awas! Jangan sampai kami dengar ada Kristenisasi!” Ucapnya.
“Kristenisasi apa? Saya sudah biasa dengan anak-anak Muslim. Tidak ada satu pun diajak masuk Kristen. Nanti di sana pun, bersama saya ada kawan-kawan saya yang Muslim ikut mendampingi mereka,” jawab Suster.
Mendengar itu, sang pria bersorban itu pun berlalu. Suster dan anak-anak Muslim pun melanjutkan perjalanan sampai tujuan dengan selamat.
(Bersambung)




