Ambon, Maluku.news – Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon hadir penuh semangat dan strategi pada Musyawarah Nasional (Munas) VII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) yang digelar di Surabaya, 6–10 Mei 2025.
Munas bergengsi ini menjadi ajang penting bagi Ambon untuk memperkuat kolaborasi lintas daerah, mempromosikan potensi unggulan, hingga memperkuat posisi sebagai kota yang aman, terbuka, dan inklusif di tingkat nasional.
Plt. Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Kota Ambon sekaligus Juru Bicara Pemkot Ambon, Ronald Lekransy, menegaskan Munas APEKSI bukan sekadar seremonial tahunan, tetapi ruang strategis untuk merumuskan masa depan bersama kota-kota di Indonesia.
“Munas APEKSI ini adalah ruang belajar bersama, tempat lahirnya ide-ide cemerlang dan solusi nyata. Ambon hadir bukan hanya sebagai peserta, tapi sebagai mitra dalam perubahan,” kata Lekransy dengan nada optimistis dala siaran pers yang diteroma media ini, Minggu (10/05/2025).
Mengusung tema “Dari APEKSI untuk Negeri”, Munas VII APEKSI menghadirkan sejumlah agenda penting, mulai dari diskusi kebijakan pembangunan kota, Indonesia City Expo, hingga forum bisnis internasional.
Pada kesempatan ini, delegasi Kota Ambon tampil menonjol dengan mempromosikan tiga sektor andalan: jasa, perdagangan, dan pariwisata.
“Kami membawa pesan bahwa Ambon adalah kota yang aman, nyaman, dan terbuka untuk investasi. Kami ingin tumbuh bersama kota-kota lain di Indonesia,” tambah Lekransy.
Menurutnya, promosi ini sejalan dengan visi Kota Ambon menjadi kota inklusif, toleran, dan berkelanjutan sebagaimana tercantum dalam RPJMD 2025–2029.
Puncak Munas ditandai dengan parade budaya, yang menjadi magnet perhatian ribuan peserta dan pengunjung. Delegasi Kota Ambon tampil memukau dengan kostum etnik penuh warna, tarian tradisional, dan iringan musik khas Maluku.
Dalam ajang Indonesian International Arts Festival yang menjadi bagian dari Munas, Kota Ambon bahkan diganjar penghargaan Penampilan Personil Terbaik, bukti kreativitas dan kekuatan budaya yang dimiliki.
“Ini bukan hanya soal penghargaan, tapi juga tentang memperkenalkan wajah budaya Ambon kepada Indonesia bahkan dunia,” kata Lekransy.
Ia menekankan, sektor budaya tak hanya berfungsi sebagai warisan leluhur, tetapi juga sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang berdampak nyata bagi masyarakat.
Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, hadir langsung memimpin delegasi, didampingi Ketua TP PKK Kota Ambon, Lisa Wattimena, serta sejumlah pejabat pemkot.
Wattimena menegaskan, keterlibatan Kota Ambon dalam Munas APEKSI adalah wujud komitmen untuk membangun kota melalui semangat kolaborasi dan persatuan.
“Tugas kita belum selesai. Munas boleh usai, tapi semangat untuk kalesang (merawat) dan bangun Ambon harus terus menyala,” ujar Wattimena penuh semangat.
“Beta par Ambon, Ambon par samua – Ambon ini milik semua orang, dan mari kita jaga bersama.”
Ia berharap, seluruh pengalaman, masukan, dan jaringan kerja sama yang diperoleh dari Munas dapat diterjemahkan menjadi program konkret demi kesejahteraan masyarakat Kota Ambon.
Lebih jauh, Ronald Lekransy menambahkan bahwa Pemkot Ambon bertekad memastikan hasil Munas APEKSI tidak berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar diterapkan melalui kebijakan daerah.
“Kami tidak ingin kegiatan seperti ini hanya menjadi ajang seremonial. Yang lebih penting adalah bagaimana hasilnya bisa dirasakan masyarakat,” tegasnya.
Pemkot Ambon juga menyampaikan komitmennya untuk memperluas ruang partisipasi masyarakat, mendorong investasi yang berkelanjutan, serta menjaga stabilitas sosial dan budaya.
Dengan semangat “Ambon par samua”, pemerintah kota berharap seluruh elemen masyarakat dapat terus bersatu menjaga, merawat, dan memajukan kota ini menjadi lebih inklusif, ramah, dan tangguh menghadapi tantangan masa depan.




