BerandaHeadlineKorban Kekerasan di Elpaputih, Ternyata Penyair dan Dosen Berprestasi

Korban Kekerasan di Elpaputih, Ternyata Penyair dan Dosen Berprestasi

Ambon, Maluku. news – Korban kekerasan di Rumalait, Teluk Elpaputih, Maluku Tengah, ternyata bukan ‘perempuan biasa’. Meskipun tinggal di kampung, kiprahnya di dunia seni dan ilmu pengetahuan sampai di kancah nasional dan internasional.

Vien Rumailay (37), ibu tiga anak ini, dianiaya sepupu kandung Wemhansen Adinata alias Nata (25) di rumah tua tinggalan almarhum Abraham Rumailay di Rumalait, Minggu (10/3). Ia dimaki, dicekik, dipukul, diseret, diinjak, dan diancam pakai parang.

Ironisnya, peristiwa kekerasan itu berlangsung di depan mata ketiga anak Vien. Anak-anak pun mendapat ancaman dan diliputi ketakutan. Sedangkan suami Vien sedang bekerja di luar daerah.

Tersangka pelaku Nata dan korban Vien, adalah saudara sepupu dari garis ibu. Ibunda keduanya bersaudara kandung.

Sejak kejadian itu, Nata ditangkap polisi dan sampai kini mendekam di sel Polsek Teluk Elpaputih. Statusnya sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Sang korban Vien Rumailay lebih dari sekadar ibu rumah tangga. Tinggal di Rumalait, namun sehari-hari mengajar di Kampus Universitas Dr Djar Wattiheluw di Masohi.

Sebagai dosen, Vien tentulah lulusan perguruan tinggi, minimal strata dua. Menurut bionarasi pada sebuah buku terbitan Jakarta, Vien bergelar S.Th dan M. Th.

“Ya, saya masuk UKIM Ambon tetapi lulus S1 di IAKN Ambon. Saya kembali ke UKIM untuk selesaikan S2, ” ungkap Vien kepada Maluku.news, Jumat (29/3).

Vien juga dikenal sebagai salah satu pencetus dan deklarator berdirinya Paparisa Sastra Nusa Ina di Masohi, tahun 2019. Dari sinilah Vien mulai berkiprah di pentas sastra nasional bersama para penyair senior Indonesia.

Vien menulis puisi dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Alune, dan Bahasa Wemale. Puisinya dimuat dalam antologi bersama penyair Indonesia berjudul Bahasa Ibu Bahasa Darahku, terbitan Dapur Sastra Jakarta, 2024.

Kasus kekerasan yang merundung Vien sudah terjadi 10 Maret lalu. Meskipun begitu, Vien tidak menyebarkan informasi ini kepada wartawan atau pun media sosial. Dia hanya melapor polisi dan minta perlindungan P2TP2A Maluku.

Wartawan baru mengetahui setelah menerima informasi dari seorang kerabat di kampungnya.

Selain itu, terlibat dalam antologi bersama Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia “Melihat Indonesia”, terlibat dalam antologi bersama Tadarus Puisi VI Ramadhan 1443 H, Sedekah Puisi”, Terlihat dalam antologi bersama Penyair Membaca Indonesia Seri ke-5,’ Aku Presiden, bersama Taman Inspirasi Sastra Indonesia, Antologi bersama dalam buku “Perjuangan hebatku”.

Selain gemar melukis, Vien juga menjadi penggerak komunitas. Ia mendirikan Bengkel Sastra Syalom Nusa Ina ( BSSNI) Teluk Ela putih.

Vien juga terlibat sebagai Fasilitator Mafindo Maluku, Pengurus Provinsi Maluku Pemuda Pancasila.

Vien pernah mengikuti undangan Webinar Nasional KPK: Jual Beli Jabatan, kenapa dan bagaimana solusinya’.

Ia pernah terpilih mewakili Pascasarjana UKIM Ambon tahun 2017,sebagai Master Of Ceremony ( MC) di kampus SAAT Malang Surabaya.

Vien mendapat penghargaan dua tulisan buku, ‘Imajinasi Insting, oleh Profesor Watu Lonchar, Dosen International.

Pernah pula Vien mengikuti undangan Webinar bersama Direktur America University. Selain itu, bersama tujuh orang teman mewakili Indonesia, dalam kegiatan: International Virtual Asia Pacifik Leadership For nation Building and Peace ” Bersama Universal Peace Federation Asia Pasific Family Federation for world peace and unification.

Dia pun mendapat penghargaan sebagai Duta Keadilan Indonesia dari Duta besar international Mohamad Boukhalef dan Queen Nadia Harihir ( Her Royal Highness), dan masih banyak lagi. (Maluku.news)

RELATED ARTICLES
Google search engine
Google search engine

Most Popular

Recent Comments