MAmbon, Maluku.news – Dua penerima penghargaan Rights and Resource Initiative (RRI) Collective Action Award 2025 di Katmandu, Nepal, Senin (30/6) malam ini, sama-sama dari Kepulauan Aru, Maluku. Akan tetapi, keduanya bukan dari rumpun adat yang sama.
Mika Ganobal berasal dari Desa Lorang, rumpun adat Fanan yang berhimpun dalam kelompok Ursia. Sedangkan, Rosina Gaelagoy dari Desa Marfenfen berhimpun dalam kelompok Urlima. Dua kelompok ini punya kisah persaingan yang panjang dalam sejarah Maluku.
Di Katmandu, Nepal, Ganobal dan Gaelagoy membuktikan bahwa selama komunitas masyarakat adat yang berbeda-beda bisa bersatu, maka masyarakat adat menjadi kuat. Itulah yang dipresentasikan di acara pemberian penghargaan.
Selain komunitas adat Aru yang mewakili Benua Asia, penghargaan yang sama diberikan kepada Jupago Kreka Indiginous Collective (Brasil) mewakili Benua Amerika, dan Nashulai Maasai Conservancy (Kenya) mewakili Benua Afrika.
Ketika mendapat kesempatan berorasi singkat saat penerimaan award, Ganobal menegaskan, penghargaan yang diterima membuat masyarakat adat di Aru kian merasa tidak sendirian berjuang.
“Perjuangan kami jauh di Aru, tidak terlihat di peta. Namun dengan award ini, ternyata masyarakat adat di dunia tetap bersatu,” kata Ganobal di hadapan Direktur RRI Dr. Solange bandiaky-Badji dan komunitas-komunitas adat dari berbagai belahan dunia.
Ganobal menekankan, masalah di Jargaria ternyata juga menjadi masalah bagi masyarakat adat di Nepal, Afrika, Brasil, bahkan seluruh belahan dunia.
“Penghargaan ini menunjukkan bahwa masyarakat adat masih kuat, ketika kita bersatu,” tegas Ganobal.
Sosok yang saat ini menjabat Camat di Aru tersebut menyatakan, komunitas adatnya jauh sekali di Aru. Karena itu, dia berharap, masyarakat adat tidak dipisahkan oleh batas negara tetapi disatukan oleh semangat dan solidaritas.
“Perjumpaan ini menjadi pengingat bahwa masyarakat adat di Aru, Maluku, Indonesia, menjadi bagian masyarakat adat internasional,” paparnya.
Ganobal pun mengajak masyarakat adat agar terus membangun semangat dan solidaritas secara berkelanjutan.




