Ambon, Maluku.news – Upaya pelestarian bahasa daerah kembali diperkuat melalui pengembangan Buku Ajar Bahasa Alune Tingkat Dasar oleh tim peneliti lintas institusi.
Kegiatan ini berlangsung pada 6–12 Maret 2026 dengan agenda pengumpulan data lapangan sekaligus verifikasi dan klarifikasi draf buku ajar di sejumlah desa di Kabupaten Seram Bagian Barat.
Desa-desa yang menjadi lokasi kegiatan meliputi Desa Riring, Desa Taniwel, dan Desa Patahuwe di Kecamatan Taniwel, serta Desa Lumoli dan Desa Piru di Kecamatan Piru.
Kegiatan ini bertujuan memastikan bahwa materi dalam buku ajar sesuai dengan penggunaan Bahasa Alune di tengah masyarakat, baik dari segi kosakata, struktur, maupun konteks budaya.
Buku ajar yang dikembangkan difokuskan pada tingkat dasar, dengan sasaran pembelajar pada level kemahiran A1 dan A2 mengacu pada kerangka Common European Framework of Reference for Languages (CEFR). Melalui kerangka ini, materi disusun secara bertahap, mulai dari kemampuan memahami dan menggunakan ungkapan sederhana hingga kemampuan berkomunikasi dasar dalam situasi sehari-hari.
Proses verifikasi dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan penutur lokal, tokoh adat, serta masyarakat setempat. Diskusi dan pencocokan data dilakukan untuk menjaga akurasi bahasa sekaligus mempertahankan nilai-nilai budaya yang melekat dalam Bahasa Alune.
Kegiatan ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Dana Indonesiana pada skema Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan dan Cagar Budaya (KOPK-CB), sebagai bagian dari upaya strategis pemajuan kebudayaan berbasis riset dan pelibatan masyarakat.
Kegiatan lapangan ini merupakan tindak lanjut dari Lokakarya Pendidikan Bahasa Ibu dan Dokumentasi Bahasa yang telah dilaksanakan pada 20–21 Februari 2026. Dalam lokakarya tersebut, tim peneliti bersama para peserta memperoleh penguatan konsep dan metode dari dua narasumber. Kedua narasumber berkompeten di bidang linguistik dan pendidikan bahasa ibu yaitu Satwiko Budiono dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Minda Tahapary dari Yayasan Suluh Insan Lestari, Jakarta.
Tim peneliti dan pengembang Buku Ajar Bahasa Alune terdiri atas Falantino Eryk Latupapua, dosen sastra dan kajian budaya FKIP Universitas Pattimura; Leonora Farilyn Pesiwarissa, dosen linguistik FKIP Universitas Pattimura; Eka Julianty Saimima dari Balai Bahasa Provinsi Maluku; Chrissanty Hiariej, dosen pendidikan bahasa dan sastra Indonesia FKIP Universitas Pattimura; serta Revelino Berivon Nepa, pemerhati dan aktivis bahasa dan budaya Maluku.
Ketua tim Falantino Eryk Latupapua menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penyusunan buku ajar, tetapi juga pada upaya membangun kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga bahasa ibu sebagai bagian dari identitas budaya.
“Bahasa Alune bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga menyimpan pengetahuan lokal dan cara pandang masyarakat terhadap dunia. Karena itu, proses penyusunan buku ajar ini harus melibatkan masyarakat sebagai pemilik bahasa,” ujar Falantino.
Sementara itu, Anggota Tim Eka Julianty Saimima berharap buku ajar yang sedang dikembangkan dapat menjadi bahan pembelajaran yang kontekstual dan mudah digunakan di sekolah dan komunitas.
“Harapannya, buku ini bisa menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal dan menggunakan bahasa Alune secara bertahap, dimulai dari tingkat dasar,” ungkap Eka Julianty Saimima.




