Ambon, Maluku.News – Kampus IKIP Karamalang Yogyakarta (Sekarang Universitas Negeri Yogyakarta) akhir tahun 1970an. Seorang perempuan jangkung berkulit gelap terlihat di antara aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Ia ikut demonstrasi dan menjadi orator.
Suaranya nan lantang ikut membakar aksi-aksi mahasiswa, pasca Kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK). Kala itu mahasiswa se-tanah air sempat memprotes kebijakan Menteri Pendidikan Daud Jusuf tahun 1978 yang dianggap sangat represif.
Mahasiswa itu tidak lain adalah Aloysia Maria Ulahayanan. Ia populer dengan nama Lies Ulahayanan. Perempuan asal Ohoi Bombay Kei Besar Maluku Tenggara itu beruntung mendapat kesempatan studi di Kota Pendidikan tersebut. Ia mengambil Jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS), Kala itu, perempuan asal Kei yang kuliah di Yogyakarta masih bisa dihitung dengan jari.
Lies lahir di Kei, 12 Februari 1954 sebagai anak kedua dari delapan bersaudara. Ayahnya Josephus Ulayanan, seorang pegawai Kantor Pekerjaan Umum dan Ibunya Sophia Jeujanan.
Lies dibesarkan dalam tradisi keluarga yang disiplin dan keras. Sebab itu, fisik dan jiwanya juga keras. Karakter keras itu sangat menonjol sepanjang hidupnya. Uskup Amboina Mgr P. C. Mandagi MSC bahkan menjuluki Lies sebagai perempuan buldozer.
“Lies ini bagaikan buldozer. Bongkar sana-sini. Maluku dan Keuskupan Amboina bersyukur punya seorang buldozer. Tapi satu buldozer saja sudah cukup, jangan banyak-banyak,” kata Uskup Mandagi.
Ketika kembali dari Yogyakarta, 1979, Lies bekerja di Lembaga Pengembangan Sosial Ekonomi (LPSE) Rinamakana, di Ambon. Waktu itu, Lies masih sarjana muda bergelar Bachelor of Arts (BA). Setelah bekerja setahun, Uskup Andreas Sol MSC mendukung Lies untuk kembali ke Yogyakarta menyelesaikan sarjana lengkap.
Tahun 1982, Lies sudah menyandang gelar Doktoranda (Dra). Ia pulang ke Ambon, kembali bekerja di LPSE Rinamakana. Melalui lembaga ini, Lies banyak kali turun lapangan. Ia berjalan kaki berkilo-kilometer dari kampung ke kampung seperti di Kei Besar atau di Yamdena.
Perjalanan Lies ke kampung-kampung tidak lain adalah mengajak petani mampu bertahan dengan kekayaan dan kekuatan pangan lokal. Selain itu, ia memprovokasi mereka membuat kebun yang lebih besar.
“Saya sudah liat kebun-kebun di sini. Tanahnya subur, tanamannya sehat, namun kebun terlalu kecil. Ayo bikin kebun besar,” ajak Lies dalam pertemuan dengan para petani di Saumlaki.
“Ayo mari kita ucapkan bersama. Kebun besar! Kebun besar! Kebun besar!” seru Lies.
Lies bahkan mengajak para petani untuk meneriakkan bersama-sama dengan suara: Kebun besar!
“Dari zaman nenek moyang, kita ini petani. Bikin kebun besar itu kita sanggup. Ubi, kumbili, kacang, bawang, semua bisa kita tanam. Namun kalau panen, siapa mau beli? Toh semua orang punya!” kata seorang petani.
“Bapa-ibu tanam saja. Saya (Rinamakana) akan beli hasil kebun,” Lies meyakinkan para petani.
Provokasi Lies berhasil. Para petani membuat kebun besar. Hasilnya melimpah dan dibawa ke Ambon. Rinamakana membeli semua hasil kacang ijo dan bawang merah.
Meskipun kemudian menjadi pegawai negeri sipil (PNS), Lies tetap mencintai dunia tani. Dia selalu pegang cangkul, meremas tanah, menanam benih. Dari sayuran, sampai tanaman hias. Semua ini dilakukannya sejak bujangan sampai menikah, bahkan setelah pensiun PNS.
Lies dikenal sebagai perempuan serba bisa. Ia bisa pegang pacul mencangkul tanah, pegang kapak membela kayu, memasak, membuat surat-surat dinas, konsep pidato kepala daerah, menjadi pewara, menjadi narasumber di forum lokal sampai nasional.
Semasa di Rinamakana, Lies juga mengelola penerbitan khusus, sebuah majalah sederhana bertajuk “Aluku Maluku”. Beberapa kali, Lies juga menulis puisi dan membacakannya.
Sebagai PNS, Lies pernah menjabat Kepala Biro Hubungan Kemasyarakatan Kantor Gubernur Maluku, dan terakhir sebagai Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi Provinsi Maluku.
Lies tercatat pernah dua kali menjabat Koordinator Presidium DPD Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Provinsi Maluku. Di lingkaran Gereja Katolik Keuskupan Amboina, Lies dan suaminya Lukas Angwarmase dikenal sebagai tokoh penggerak umat basis di Ahuru. Dari sebuah Rukun, warga Katolik di Ahuru berkembang menjadi Stasi, dan akhirnya sebagai Paroki Santo Yakobus Ahuru.
Pasangan Lies Ulahayanan dan Lukas Angwarmase dikaruniai seorang puteri dan dua putera. Mereka adalah Dian Angwarnase, Dharma Angwarmase dan Adi Angwarmase. Keduanya berbahagia bisa menuntun anak-anak sampai menyelesaikan studi di perguruan tinggi.
Pada hari Kamis, 12 Februari 2026 lalu, Lies sangat berbahagia di tengah keluarga, kerabat, dan para tetangga di Kusu-Kusu, rumah kediamannya. Saat itu, ada ibadat sabda untuk syukuran ulang tahunnya yang ke-72.
Satu bulan setelah perayaan ulang tahun itulah, tiba-tiba kondisi kesehatannya menurun. Lies sempat dirawat di Rumah Sakit Siloam selama tiga hari, sebelum akhirnya ia menghembuskan nafas yang terakhir.
Di rumah duka Kusu-Kusu, Rabu (11/3/2026) malam, Pastor Tino Ulahayanan MSC memimpin misa. Sedangkan pemakaman almarhum akan dilaksanakan hari Sabtu (14/2/2026) di Kusu-Kusu.
Letak makamnya kelak di bawah rindang pohon gaharu, jambu, nangka, dikelilingi bogenvil, gadihu, dan aneka pusparagam yang ditanamnya dengan tangan sendiri.
Lies Ulahayanan telah pergi. Ia meninggalkan suami, tiga orang anak, menantu, dan tiga cucu.
Lies pernah berperan sebagai “tangan kanan” Gubernur Karel Albert Ralahalu dan Sofia Ralahalu. Justru pada posisi itu, ia pun tersandung lalu jatuh. Akan tetapi Lies tidak hancur lebur. Sang buldozer itu bangkit sebagai perempuan baja sampai akhir hayat. Sayang dilale! (Rudi Fofid)




