Ambon, Maluku.News – Red Bricks Cafe and Resto di Karang Panjang Ambon, hari itu dipenuhi lebih seratus aktivis dunia literasi. Kebanyakan mereka berstatus mahasiswa dan pegiat komunitas sastra. Mereka antusias mengikuti Pesta Literasi Indonesia yang diselenggarakan Gramedia Jakarta dan Jazirah Timur Labuan Kata, Ambon, Sabtu (20/9/2025).
Ada serangkaian kegiatan menarik seperti diskusi, pemutaran film, stand up comedy, musikalisasi puisi, dan pembacaan puisi. Salah satu penyair yang diundang membacakan puisinya bernama Iksanul Kamil.
Iksa, begitu biasanya dia disapa. Bertubuh mungil, wajah imut, kumisnya belum tumbuh. Maklum saja, dia baru usia 15 tahun dan duduk di kelas 2 SMK. Di Red Brick, hari itu, dia duduk di sisi ruangan, tenggelam di antara pegiat-pegiat senior yang sudah punya nama.
Ketika namanya dipanggil, dia maju dengan langkah pasti. Tidak ada keraguan sedikitpun. Dia memberi sedikit pengantar, lalu membaca dua puisinya berjudul “Tanah Ini?” dan “Nyanyian Jam Tiga Pagi”.
“Kalian menyebutnya investasi/ tapi tak ada dividen/ untuk sungai yang bisu/ dan anak-anak yang kehilangan/ suara burung tiap pagi!” Begitulah satu bait dari puisi “Tanah Ini?”.
Beberapa penyair saling memandang ketika Iksa membacakan puisi-puisinya. Diksi-diksinya tidak biasa, bahkan terlalu dewasa untuk penyair belia yang masih remaja. Iksa tidak menulis dunia “asmara remaja” seperti lazim penyair remaja. Dia merambah ke kedalaman tema negara dan advokasi terhadap perampasan ruang hidup.
Sebagai anak baru dalam “geng” Bengkel Sastra Maluku, Iksa ternyata baru pertama tampil baca puisi di depan umum. Panggung Pesta Literasi Indonesia di Red Brick itulah pengalaman naik pentas pertama kali.
“Beta merasa sangat gugup sekali tetapi juga senang dan bangga,” ujar Iksa.
ANAK TULEHU YANG MERANTAU KE BURU
Iksa adalah putra bungsu dari dua bersaudara anak pasangan Nopri Yanto dan Nurtaif Tawainella. Dia lahir di Tulehu, 27 November 2008. Dalam usia sangat belia, Iksa sudah hidup berpindah-pindah mengikuti orang tuanya.
Dia lulus SD 014 Duren Tiga Jakarta Selatan, lalu SMP Negeri 3 Salahutu, Maluku Tengah. Sekarang, dia duduk di SMK Negeri 3 Buru Selatan. Hidup berpindah membuat Iksa mengalami banyak perjumpaan dengan orang berbeda dan suasana berbeda pula.
Karena pindah ke Namrole di Buru Selatan, mengikuti orang tua, Iksa punya banyak waktu di Namrole. Dari Pulau Buru inilah, Iksa melahirkan antologi puisinya yang pertama berjudul “Di Tanah Yang Pernah Bernama Pulang”. Penerbitnya Teori Kata Publishing Cirebon, 2025. Buku ini diluncurkan Januari 2026.
Antologi puisi 124 halaman ini berisi 45 judul puisi karya Iksa. Iksa membagi 45 puisi itu dalam lima bagian. Bagian I, Tanah Yang Pernah Bernama Pulang. Bagian II, Tubuh Sebagai Medan. Bagian III, Luka Yang Diam-Diam Tinggal. Bagian IV, Tumbuhan Liar di Dalam Dada. Bagian V, Aku yang belajar Menyebut Diri Sendiri.
MOTIVASI DARI KELAS DI SMP 3 SALAHUTU
Iksa mengaku menulis puisi sejak kelas 5 SD di Jakarta. Dia mengidolakan penyair Theoresia Rumthe dan Eko Saputra Poceratu. Buku Antologi Puisi “Janda Bukan Beranda” oleh Eko Saputra Poceratu bahkan menjadi buku puisi pertama yang jadi sumber belajar bagi Iksa.
“Pada dasarnya beta suka baca, lalu di kelas satu atau dua SMP, beta baca buku ‘Janda Bukan Beranda’ karya Eko Saputra Poceratu. Buku itu memicu rasa penasaran dan ketertarikan, seperti apakah puisi. Lalu beranjaklah ke tahap berusaha memahami bagaimana cara meromantisasi kata dan tulisan dalam sajak-sajak, singkat. Semuanya dipelajari sendiri,” kata Iksa.
Selain punya idola, Iksa punya seorang motivator yang mendorongnya menjadi penyair. Sang motivator bukan penyair besar atau penyair tenar. Motivatornya justru seorang kakak kelas di SMP Negeri 3 Salahutu. Namanya Syifa Tuasalamony.
Waktu itu Iksa kelas 1 sedangkan Syifa kelas 3. Keduanya sama-sama suka menulis puisi. Iksa masih ingat kata-kata Syifa yang mendorongnya untuk terus menulis dan jangan berhenti.
“Beta mau baca ose tulisan seng cuma sekali, tetapi beta juga seng mau baca akang dalam bentuk file, beta mau itu jadi buku yang bisa beta bawa ke mana-mana, yang bisa beta baca di sela-sela waktu sambil tunggu ampas kopi turun ke dasar gelas,” kata Syifa, waktu itu.
Iksa ingat pula, Syifa menyebutkan rangkaian kata yang lebih “membakar”.
“Ose seng akan pernah gagal kecuali ose barenti coba, Cil (Cil, Kecil, sebutan Syifa untuk Iksa). Terus berusaha lari selagi ose kaki masih bisa untuk berlari, selagi ose kaki masih belum tua dan renta, Cil,” begitu kata-kata Syifa.
Ketika buku Antologi Puisi “Di Tanah Yang Pernah Bernama Pulang” diluncurkan Januari 2026, Iksa menyerahkan bukunya kepada Syifa, sang motivator yang kini kuliah di Fakultas Hukum Universitas Pattimura Ambon.
“Bukunya bagus sih. Bagi beta, bukunya menunjukkan ose ciri khas yang selama ini beta tau itu bagaimana. Banyak makna yg tersirat di sana. Banyak ose pung kisah yang bisa beta lihat tertuang di dalam buku itu. Overall bagus dan sesuai dengan beta ekspektasi waktu bilang ose untuk bikin buku karena memang sedari awal beta pun tahu ose punya bakat untuk itu. Selain itu, bisa bawa ose buku ke mana-mana, itu salah satu beta impian sedari lama,” begitu komentar Syifa terhadap Antologi Puisi Iksa.
Iksanul Kamil masih belia. Namun puisi-puisinya terasa dewasa bahkan ‘paksa dewasa’. Beberapa pembaca awam bahkan memberi komentar tentang Bab II bukunya. Puisi-puisi itu, menurut mereka, tidak cocok dengan usia Iksa karena vulgar atau sensual. Iksa sendiri merasa tidak begitu.
Bagaimanapun, Iksa sudah memilih jalan seni, sekalipun baru di titik awal. Jalan masih panjang bagi remaja yang ingin mendalami teater ini. Ambon, Tulehu dan Buru, adalah kampung halaman para seniman besar, dan Iksa tumbuh di tengah atmosfir ini.




