Ambon.News – Satu lagi penyair muda dari Kisar, Maluku Barat Daya. Namanya Aldy Dahoklory, masih kuliah di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Pattimura, Ambon.
Aldy lahir di Yawuru, Kisar Selatan, 16 Oktober 2002. Dia sebenarnya tidak suka pada puisi. Sebab itu, semasa remaja sampai lulus SMA di Kisar, tak pernah bersentuhan dengan puisi, baik menulis maupun membaca.
Waktu berangkat ke Ambon untuk ujian masuk Universitas Pattimura, Aldy sempat beda pendapat dengan ayahnya Johanes Zakarias Dahoklory. Aldy mau masuk Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Dia suka hal-hal yang berbau demokrasi dan politi.
“Seperti demo-demo mahasiswa itu, saya lihat protes-protes mahasiswa di media. Saya ingin masuk FISIP tagal itu,” kata Aldy kepada Maluku.News di Ambon, Selasa (30/12/2025).
Cita-cita Aldy masuk FISIP langsung pupus. Ayahnya yang sehari-hari bekerja sebagai penyuling sopi di Kisar punya pandangan lain.
“Di Kisar kekurangan guru Bahasa Indonesia. Ayolah, masuk FKIP Bahasa Indonesia. Kalau tidak ke situ, lebih baik masuk kampus kesehatan. Kisar juga perlu tenaga kesehatan,” pinta sang ayah.
Sang ayahlah yang mengantar Aldy dari Kisar ke Ambon. Alhasil, Aldy ikut usul ayah. Dari mendaftar, ayah ikut melihat proses administrasi. Aldy akhirnya lulus ujian masuk sesuai harapan ayah.
Di kampus, saat Ospek, ada sesi perkenalan unit-unit kegiatan mahasiswa. Salah satunya, Sanggar Cakadidi yang dipimpin mahasiswa bernama Mance Angwarmase.
“Melihat Kaka Mance dkk dari Sanggar Cakadidi yang jago musikalisasi puisi, saya langsung stress sekaligus suka. Stress karena saya bisa apa dibanding Mance dkk. Namun saya suka karena ada jaminan bahwa saya bisa ikut bergabung dalam kelompok kreatif seperti Sanggar Cakadidi,” cerita Aldy.
Aldy akhirnya jatuh cinta pada puisi. Dia mulai belajar menulis puisi dari nol, sambil juga belajar gitar. Sekarang, setelah lima tahun menjadi mahasiswa, Aldy sudah lebih percaya diri untuk menulis dan baca puisi di pentas sastra.
Dari panggung-panggung kecil di kampus dan komunitas sastra, Aldy kemudian mendapat kesempatan dua tahun berturut-turut tampil dalam Gelar Sastra Tahun 2023 dan Tahun 2024 di Taman Budaya Maluku.
“Tahun 2023 itu bersama Sanggar Cakadidi menampilkan dramatic reading naskah ‘Maling’ karya Putu Wijaya. Sedangkan tahun 2024, saya mendapat kesempatan tampil baca puisi karya sendiri,” ungkap Aldy.
Aldy kemudian mulai melirik Bahasa Meher di kampung halamannya yang terancam punah. Apalagi pada bulan Oktober 2024, bersama 13 penyair lain, Aldy mendapat kesempatan berpartisipasi dalam pentas puisi bertajuk “Festival Puisi Modern Bahasa Tanah Maluku”. Acara ini digagas kelompok jazz papan atas di Belanda yakni Boi Akih.
Boi Akih sendiri terdiri dari Monica Akihary dan Niels Brouwer. Keduanya akan menggelar konser musik jazz di Madagaskar, tahun 2026 dengan materi lagu diigarap dari puisi-puisi para penyair yang tampil dalam “Festival Puisi Modern Bahasa Tanah Maluku”.
“Senang bisa kolaborasi dengan musisi kelas dunia seperti Boi Akih. Saya jadi semangat untuk menulis dalam Bahasa Meher,” kata Aldy.
Menurut Aldy, saat ini puisi-puisinya dalam Bahasa Meher sudah hampir 20 judul. Jika sudah cukup untuk jadi sebuah buku kumpulan puisi, dia ingin menerbitkan buku puisi dwibahasa Meher-Indonesia.
“Dengan menulis puisi dalam Bahasa Meher, saya harap para penutur Bahasa Meher di Kisar semakin menghargai dan menjaga bahasa ibu, bahasa nenek moyang kita,” harap Aldy.
(Lihat lima puisi Aldy Dahoklory dalam dwibahasa “Meher-Indonesia” pada berita lain di Maluku.News: https://maluku.news/2025/12/30/bahasa-meher-cium-ala-kisar-sopi-koli-menari-bulan-dalam-puisi-aldy-dahoklory/)
(*)




